Wednesday, May 16, 2012


                                         sumber: antarnews.com
Jika dilihat dari kaca mata sosiologi, nasionalisme merupakan rasa simpati akan kecintaan terhadap nasional (negara) sendiri. Terkadang konsep ini disalah artikan oleh sebagian orang, tak sedikit kaum intelek yang mampu mengaktualisasikan dirinya terhadap negara tercinta ini (Indonesia). Aktualisasi rasa simpati akan kecintaan terhadap negara Indonesia sebenarnya sudah terlihat sejak dahulu. Ketika tahun 1928 para pemuda di seluruh daerah di Indonesia mengazamkan untaian kata yang dikepung dalam sebuah  nama yakni  Sumpah Pemuda.
            Tak sedikit nama Indonesia harum oleh tangan para pemuda. Sebut saja dalam ajang olimpiade-olimpiade sains tingkat nasional dan internasional. Itu hampir semua diraih oleh para pemuda Indonesia mulai dari pelajar SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Hal demikian secara tidak langsung sebenarnya sudah menunjukkan bentuk nyata dari aktualisasi nasionaliseme terhadap negara Indonesia. Melalui berbagai iven-iven yang diikuti anak bangsa dan meraih prestasi itulah bukti konkretnya. Namun terkadang rasa Nasionalisme itu tidak dimiliki oleh semua pemuda. Lihat saja kasus narkoba yang kebanyakan dikonsumsi oleh para pemuda. Sehingga hal tersebut akan menjadikan nama negara ini menjadi buruk dalam pandangan negara-negara di dunia. Meskipun upaya untuk menyembunyikan hal itu  sudah dilakukan namun kehidupan tak akan bisa lepas dari yang namanya mass media (media masa).
            Sungguh miris jika pemuda Indonesia tidak dapat menjaga pola tingkah lakunya, maka akan merusak makna dari nasionalisme itu sendiri.(Hasan Asyhari)

Sunset di Pantai Patenggangan

Patenggangan merupakan nama yang tak asing lagi bagi mahasiswa UNP yang tinggal di sekitar jalan Patenggangan, Air Tawar Barat karena di pinggir jalannya terdapat  pantai yang cukup indah. Pantai Patenggangan namanya, pengunjung pantai ini tak kalah saing dengan pantai-pantai yang sudah populer namanya, sebut saja pantai gondoriah di kota Pariaman. Meskipun fasilitas di pantai ini kurang memadai namun tak membuat surut orang-orang yang mengunjunginya. Tak hanya dari kalangan mahasiswa yang berkunjung sehabis pulang kuliah demi membalas rasa penatnya, namun juga para pelajar, orang dewasa hingga orang tua sekalipun. Terlihat sekali ketika penulis berkunjung ke pantai tersebut, penulis melihat berbagai macam aktifitas yang dilakukan orang disana. Ada yang bermain air, membuat bangunan dari pasir, bermain sepak bola pantai, berfoto-foto dan ada pula remaja yang lagi bermesraan dengan lawan jenisnya.
Dari kaca mata ilmu sosiologi, lebih mudah dilihat fenomena-fenomena dari masyarakat atau aktifitas orang-orang yang ada di pantai tersebut. Pantai Patenggangan ini lebih ramai jika berkunjung di waktu sore maklum saja karena sore adalah waktu yang pas untuk melakukan refreshing dari berbagai aktifitas harian yang dilakukan. Di sekitar bibir pantai terdapat beberapa rumah penduduk yang menetap di sana. Tak terbayang oleh penulis akan ketakutan dan kecemasan yang mereka rasakan apabila gempa dengan skala besar terjadi. “Uuh,sungguh mengerikan tentunya!!”. Dengan perasaan cemas dan pikiran yang tak karuan akan muncul dari sikap para penduduk yang tinggal di sana. Penulis melihat anak-anak yang bermain di depan rumahnya. Hal ini menunjukkan banyak nya keluarga yang boleh dikatakan kurang mampu dan tak memiliki biaya lebih yang tinggal di sana. Bagaimanapu mereka harus tetap tinggal di sana sekaligus sebagai tempat tumpuan hgidup mereka karena sebagian keluarga yang tinggal di sana adalah berprofesi sebagai nelayan.
Semoga saja perhatian pdari pemerintah terhadap keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar pantai tersebut dapat di relokasikan ke tempat yang lebih aman nantinya, apalagi ketika gempa besar terjadi. Allahu’alam bishawab. (Hasan Asyhari)

Tuesday, May 15, 2012

                                       sumber: zynote.blogspot.com
            Itulah kata-kata yang keluar dari teman-teman saya di kampus, ketika kami berbincang-bincang mengenai anak jalan. Masing-masing dari kita beradu pendapat atau argument yang berbeda-beda berdasarkan teori yang sangat mereka pahami, ada yang melihat dari teori A, B, C dan lain-lain. Maklum saja, karena saya dan teman-teman adalah mahasiswa Sosiologi yang sanagat akrab dengan berbagai teori. Saat ini di bangku perkuliahan saya sedang memakan puluhan teori-teori dari para ahli sosiologi (sosiolog) tanpa harus patuh akan teori-teori yang disampaikannya. Berbagai teori-teori saya pelajari mulai dari teori klasik, modern hingga post modern.
            Tak jarang ketika saya melihat sebuah fakta atau realita di tengah masyarakat. Saya langsung melihat bentuk nyata dari teori yang saya pelajari. Sebut saja mengenai pengemis yang meminta-minta di sekitaran luar kampus . Dalam realita tersebut saya menghubunginya dengan teori Dramaturgi oleh Ervin Goffman. Teori yang melihat bagaimana peran dari aktor (pengemis) ketika berada di panggung depan, saat mengemis di hadapan khalayak ramai dengan panggung belakang, ketika pengemis tidak berada di hadapan khalayak ramai. Yang tujuannya bukan untuk memainkan peran bak sebuah drama di atas panggung drama (pentas) namun guna mempertahankan citra dalam masyarakat. Dalam mengemis belum tentu mereka benar-benar seorang yang sangat miskin akan keadaan hidup. Hal itu saya jumpai ketika di saat pengemis tadi menggunakan handphone yang memiliki fiture yang cukup canggih di belakang sebuah taman di pusat kota.
            Adapula realita lainnya, saya jumpai ketika menjumpai seorang karyawan tata usaha di gedung fakultas tempat saya kuliah. Karyawan yang bertubuh gemuk dan berjilbab itu kelihatan  kiler dan menakutkan ketika saya berinteraksi dengannya dalam sebuah urusan. Wajahnya yang kelihatan ingin marah selalu dan suara yang agak keras dan kasar. Saya dapat memahami dari simbol-simbol yang diperlihatkan bahwa dia orang yang keras, tegas, tidak suka bertele-tele. Jika dikaitkan dengan teori sosiologi, realita seperti itu merupakan teori Kekerasan Simbolik yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Dengan simbol sikap yang ditampilkan tadi saya dapat menafsirkan akan dia, meskipun belum tahu apakah kepada saya saja dia seperti itu ataupun ke seluruh mahasiswa di fakultas saya yang berinteraksi dengannya. Sebagai mahasiswa jurusan sosiologi saya sangat mudah melihat fenomena-fenomena atau realita dari teori-teori yang saya pelajari dari bangku perkuliahan karena sangat erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari teori tadi dapat ditangkap berbagai realita yang ada dalam masyarakat, namun jangan sampai termakan akan teori-teori yang akan merusak kaidah (keyakinan) kita kepada sang khalik.(HASAN ASYHARI, Mahasiswa Jurusan Sosiologi FIS UNP)
                                                                 sumber: solmit.com
            TMO (Training Management of Organization) merupakan salah satu program kerja dari Departemen Kaderisasi dan Pengembangan Anggota (DKPA) FSDI FIS UNP, guna sebagai follow-up terakhir bagi laskar muda FSDI (Forum Studi Dinamika Islam) sebagai penambah wawasannya dalam berorganisasi. TMO tahun 2012 ini berkolaborasi dengan FSIO (Forum Studi Islam Olahraga) FIK UNP. Acara ini berlangsung selama dua hari yakni dari tanggal 5-6 Mei 2012 yang bertempat di lokal T25 (GL/GM) UNP. Acara ini diikuti sekitar 45 orang peserta ikhwan (laki-laki) maupun akhwat (perempuan) yang berasal dari berbagai jurusan dan prodi yang ada di FIS (Fakultas Ilmu Sosial) dan FIK (Fakultas Ilmu Keolahragaan) UNP dan juga dihadiri oleh undangan yakni Rahayu (Ketua Umum BPM FIS UNP) dan Helfarianto (perwakilan HMJ Sejarah,FIS UNP).
            Acara yang dimulai pukul 08.30 wib ini dibuka oleh MC (Master of Ceremony) Rizal Lisamora (FIK,2010), pembacaan kalam illahi (Piki Setri Pernantah) yang merupakan koordinator Dept.Humas dan Jaringan FSDI dan juga salah seorang calon pengajar di Surau Bagonjong Mengajar. Kemudian kata sambutan oleh Abdul Aziz selaku ketua pelaksana TMO tahun ini. dan pembukaan secara resmi oleh DPP (Dewan Penasehat Pengurus) Azzuhfi Ilan Tinasar (Geografi,2008) yang juga merupakan Ketua Umum UKK (Unit Kegiatan Kerohanian) UNP ini. Dan terakhir do’a yang dibacakan oleh Ilham (FIK,2010). 
            Selanjutnya Ice Breaking yang dipandu oleh Chandra Perwira Negara yang merupakan koordinator dari departemen yang mengangkat acara ini. Dan lanjut, pada materi pertama mengenai Pengenalan dan  Motivasi Organisasi oleh Mas Agung Pambudi. Di mana dalam materi tersebut pemateri memberikan berbagai game maupun simulasi ringan kepada peserta saat itu. Dalam TMO kali ini terdapat tujuh materi yang berbeda dengan tujuh pemateri yang berasal dari aktivis kampus maupun trainer yang didatangkan dari luar kampus sendiri. Dengan adanya TMO diharapkan kepada laskar muda yang sebentar lagi akan dimasukkan dalam kepengurusan  sebagai staf khusus FSDI tahun 2012 agar dapat lebih cerdas lagi dalam berorganisasi. (Hasan Asyhari)

             Senin pagi (7/5), Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) mengadakan acara sidang LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIS UNP di ruang sidang lantai dua FIS. Sidang LPJ itu dihadiri oleh beberapa orang pengurus BPM dan juga hampir semua pengurus BEM FIS UNP periode 2011/2012 serta satu orang perwakilan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Sejarah.
            Sidang Laporan Pertanggung Jawaban yang disingkat LPJ merupakan sidang terhadap laporan dari kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan suatu organisasi baik kegiatan yang terlaksana maupun tidak serta bagaimana dengan rincian kegiatannya seperti rincian panitia dan dana yang dibutuhkan saat acara.  Untuk itu BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP selaku badan legislatif mahasiswa tingkat fakultas berkewajiban mengevaluasi berbagai kegiatan yang dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) antara lain melalui Progress Report. Hal ini bertujuan untuk melihat seberapa perkembangan BEM dari setengah periode perjalanan BEM baik dalam kepengurusan maupun kegiatan-kegiatan atau program kerja yang sudah dilaksanakan. Setelah tahap itu, akhir dari kepengurusan BEM FIS diadakan sidang LPJ BEM FIS oleh BPM yang diikuti oleh seluruh pengurus BEM FIS, seluruh pengurus BPM dan juga seluruh perwakilan HMJ se-FIS.
            Setelah penyampaian draft LPJ oleh ketua BEM FIS, Matur Prasojo. Lalu diadakan sesi Tanya jawab di mana setiap peserta siding boleh bertanya ataupun menanggapi  LPJ yang sudah dilaporkan tadi. Setelah itu pimpinan sidang menyuruh seluruh pengurus BEM untuk keluar ruang sidang dalam beberapa menit karena dari BPM dan perwakilan HMJ se-FIS akan melakukan rapat internal dalam  mengambil keputusan dari hasil LPJ tersebut apakah diterima, ditolak atau diterima namun bersyarat. Akhirnya setelah mengingat, menimbang dan akhirnya diputuskan LPJ BEM FIS periode 2011/2012 diterima namun bersyarat. Dengan batas waktu tanggal 15 Mei 2012, dari BEM harus menyerahkan perbaikan dari LPJ yang sudah dibuat sebelumnya sesuai keputusan rapat internal tadi. Jika lewat dari tanggal yang ditetapkan bisa  saja LPJ BEM FIS periode 2011/2012 di tolak. (Hasan Asyhari)

           
                                                            sumber: Sidomi.com
            Suju (Super Junior) adalah grup band yang seluruh personilnya adalah laki-laki. Boy Band nama akrab untuk grup band seperti itu. Kedatangan Boy Band Suju untuk melakukan konser ke Indonesia mendapat antusias dan apresiasi tinggi dari para fans Suju di Indonesia terutama kalangan remaja wanita. Konser yang berlangsung dari tanggal 27 hingga 29 April 2012 ini dipromotori oleh showmack, pihak yang mengundang Suju untuk konser di Jakarta. Konser yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut ini diadakan di MEIS (Mata Elang International Stadium) Ancol, Jakarta.
            MEIS yang berkapasitas untuk 10 ribu orang ini menjadi tempat pemfokusan acara Konser Suju di Jakarta. Jika dihitung selama tiga hari mengundang sekitar 30 ribu orang dengan tiket yang bervariasi tergantung dari fasilitas yang didapat para penonton mulai dari harga tiket Rp.500.000,- hingga Rp.2.000.000,-. Tak hanya para remaja wanita yang mendominasi namun juga para artis Indonesia hingga para mahasiswa yang tersebar di berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia.
            Personil Suju yang pada awalnya berjumlah 13 orang, saat Konser di Jakarta hanya 9 orang yang tampil di hadapan penonton. Kabarnya satu orang personil dari Cina sudah keluar dari grup, dua orang lagi mengikuti agenda wajib militer yang merupakan program dari pemerintah Korea bagi setiap laki-laki di negara gingseng tersebut. Lagu Suju yang berjudul,”Sorry-sorry” merupakan salah satu judul lagu Suju yang sangat populer. Tak sedikit para fans Suju yang menyanyikan lagu tersebut baik di rumah, di kafe, di kampus hingga di kamar mandi sekalipun.
            “Konser Suju kurang lengkap tanpa lighting (cahaya) yang harganya sekitar 130 ribuan kalau dibeli di tempat konser,” ujar Fitri salah seorang fans Suju asal kota Padang yang juga menghadiri konser Suju pada hari ketiga. Cewek yang senang memakai segala aksesoris yang berbau Suju ini mengungkapkan kesannya saat menonton konser Suju yakni ketika dia bisa bertemu langsung dengan wajah asli para personil Suju dan ketika mereka menyanyikan lagu “Our Love”, ujarnya saat dijumpai di ruang kuliah. (Hasan Asyhari)

Sunday, April 29, 2012



Sapi-sapi Berjalan: Terlihat beberapa ekor sapi sedang berjalan di sekitar ruas jalan menuju gapura Polonia (selasa, 24/04/2012)

                Polonia adalah salah satu kawasan tempat tinggal sementara(kost) mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di kota Padang. Polonia yang dirasa aman dan cukup jauh dari bibir pantai menjadi salah satu tempat kost yang favorit bagi mahasiswa UNP khususnya selain aman dari banjir, kawasan tempat tinggal ini juga boleh dikatakan dekat dari UNP meskipun harus berjalan menyeberangi dua jalan besar menuju UNP.
                Selain dari beberapa keuntungan yang dapat dirasakan oleh para mahasiswa. Di Polonia ini perkirakan terdapat tempat pemeliharan hewan seperti sapi, kambing,dan sebagainya. Wajar saja ketika penulis berjalan di sekitar kawasan ini banyak dijumpai kambing-kambing dan sapi-sapi yang berkeliaran di sekitar ruas jalan. Hewan-hewan tersebut tak hanya bikin risih pejalan kaki dan pengendara sepeda motor namun juga mengganggu tanaman-tanaman yang ada di sekitarnya.  Warga yang tinggal di sekitar jalan itupun menjadikan hewan-hewan tersebut sebagai objek perhatian apalagi para sopir becak sepeda Tour de Polonia (wisata keliling Polonia dengan becak sepeda)  yang selalu ada di simpang gapura Polonia. Inilah hidup tak hanya manusia yang ada namun juga hewan-hewan yang mewarnai penglihatan.(HA)
               

Padang Panjang, 29 April 2012

Tatkala kesedihan datang
Tatkala keharuan melanda
Tatkala mata hati tertutup
Tatkala kesembunyian terungkap

Ada satu kata penuh arti
Ada satu kata penutup kesedihan
Ada satu kata penentu masa depan
Ada satu kata menjadi penyemangat

Apakah itu?
Motivasi namanya..


              Siang yang cukup cerah Hanif, Andi, Lora, Rahmi dan Rezi berencana pergi ke sebuah Rumah makan ayam goreng ala barat di kota Padang yakni KFC (Kitchen Fried Chicken). Mereka adalah mahasiswa jurusan Akuntansi dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota Padang. Selepas Ujian Akhir Semester (UAS) mereka berencana untuk pergi makan ke counter KFC yang terdapat pada sebuah Mall terkenal di kota itu.
Mereka kesana dengan jalan kaki sebab jarak kampus dari KFC tersebut tidak terlalu jauh yang bisa ditempuh dengan jalan kaki.Sambil berjalan mereka bercerita mengenai soal ujian tadi, ada yang bilang gampang, susah dan juga mengungkapkan rasa cemasnya. “Bukit, Bukit, Bukit…”, itulah kata-kata yang mewarnai perjalanan mereka. Maklum saja karena mereka berjalan di kawasan terminal bayangan mobil tranex dan travel tujuan kota Bukittinggi dan sebagainya.
Setibanya di Mall, mereka langsung masuk. Hanif dan Rahmi yang menunggu antrian pemesanan makanan dan yang lainnya duduk di meja dan kursi yang kosong di ruangan itu.” Sorry, saya udah antri duluan”, ungkap perempuan yang berambut pndek dan berkulit putih itu. Tak salah perempuan yang ditemani suami dan anaknya tersebut berkata seperti itu sebab Hanif dan Rahmi langsung aja menuju antrian depan tanpa memperhatikan orang yang telah antri sebelum mereka datang. Suaminya yang bertubuh tinggi berambut pendek dan kelihatan seperti orang luar Indonesia tersebut, ternyata merupakan seorang pengusaha asal luar negeri yang bekerja di sebuah Perusahaan asing yang terdapat di Kota Padang. “Hei, kalian masih kecil sudah seperti itu, apalagi sudah dewasanya,” ujar pria dengan pengucapan bahasa Indonesia yang belum pas tersebut. Merekapun diam, pucat dan wajahpun memerah.
Akhirnya, merekapun menyerah dan mundur ke antrian belakang dengan penuh rasa takut. Saat itulah mereka mengerti dan menyadari pentingnya ketertiban dan merasa menyesal tak ingin mengulangi hal seperti itu lagi. (HA)