Monday, June 4, 2012




 
(Padang, 28/04/12) Sederetan Lukisan Dinding pembatas tersebut adalah hasil belaian tangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP yang berada di samping ruangan PKSBE (Pusat Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi) Universitas Negeri Padang (UNP). (HA)

  (Padang,28/05/12)
Pagi hari selanjutnya ketika saya melewati jalan Pal Merah di kawasan Polonia. Saya menjumpai jalan yang masih digenangi air. Tak hanya satu kali melewati jalan tersebut namun pada hari sebelumnya juga seperti itu tak ada ubahnya. Tak terlihat hari hujan lebat pada hari itu malahan yang ada kemilauan sinar matahari dari atas langit. Sangka tak disangka ternyata saluran airnya tersumbat oleh berbagai sampah rumah tangga dan juga di selokan airpun dipenuhi oleh rimbunnya rumput-rumput liar yang menjelma bak hutan rimbun. Padahal di depan jalan itu ada sebuah rumah yang lumayan bagus, nah disangka apakah pemilik rumah gak merasa risih dengan fenomena yang sudah jelas adanya tersebut. Wallahu’alam. Namun sobat, siapakah yang seharusnya bertanggung jawab atas fenomena (keadaan lingkungan) yang seperti itu


HIC: Padang, 28/05/2012)“Sekolahku Istanaku” itulah dua kata yang saya jumpai ketika berjalan menuju Masjid Nurul Ikhlas Polonia, Kel.Air Tawar Timur, Kec.Padang Utara. Lukisan ini terpajang permanen di dinding Sekolah Dasar Negeri 26 Air Tawar Timur, Padang Utara. Sekolah yang baru direnovasi atas bantuan Trans Corp ini memiliki keunikan sendiri di kelurahan Air Tawar Timur salah satunya lukisan lingkungan sekolah dengan tulisan “Sekolahku Istanaku”. Di dalam lukisan tersebut terdapat dua orang siswa yang baru sampai di sekolahnya. Dari lukisan tersebut tersirat kata-kata bahwa sekolah adalah istana bagi siswa,tak ada lagi kata-kata takut dan cemas ketika berada di lingkungan ini. Sebagaimana layaknya sebuah istana tentu sekolah memiliki berbagai fasilitas yang dapat mendukung proses belajar siswa tak terkecuali pelayanan yang diberikan kepada siswa. 


 
 
Oopss,,Kelihatannya gambar lukisan rumah adat Minangkabau ini bagus sekali ya,kira-kira yang melukisnya siapa ya??? Pasti Pelukis ternama…uuhh selalu begitu saja,,,salah..salah…hmm emang nya siapa?? Ya,,mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang donk,,J





"Ehh,,ada anak TPA di atas mobil Polisi tuh”, hmmm jangan-jangan mereka maling jualan orang. Opppsss,,jangan buruk sangka dulu sobat..nah ternyata setelah dilihat betul anak-anak TPA tersebut naik mobil polisi dalam iring-iringan santri TPA/TPSA Masjid Baitussalam jalan Cenderawasih yang berkeliling Air Tawar Barat dalam acara Khatam Al Qur’an. 



Sunday, May 27, 2012




Laporan Khusus

Terlihat Moderator sedang Menyampaikan Curiculum Vitae (cv) Panelis.
           Tiga kata tersebut merupakan tema dalam acara diskusi panel yang diadakan pada hari Sabtu, 26 Mei 2012 di ruang D81 FIS (Fakultas Ilmu Sosial) UNP. Acara ini diselenggarakan oleh Paradigma Sosiologi Antropologi, study club Historia FIS UNP dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) bekerja sama dengan Forum Peduli Masyarakat Peduli Sumbar. Sebelum acara pembukaan dimulai panitia memutarkan film tragedi trisakti dan semanggi tahun 1998 yang sempat memukau peserta yang sudah hadir dalam ruangan saat itu. Dalam diskusi panel tersebut tercatat jumlah peserta yang hadir sekitar 150 orang, baik peserta undangan maupun peserta yang sudah mendaftar sebelum hari H.
            Lalu acara dibuka oleh MC (Master of Ceremony) dan dilanjutkan dengan pembacaan kalam illahi oleh Uun Lionar (Sejarah,2010). Dan laporan dari ketua pelaksana Hendra Febriadi (sosiologi,2010), yang juga merupakan ketua pelaksana acara diskusi panel yang diselenggarakan oleh BEM FIS beberapa minggu yang lalu. “Diharapkan kepada seluruh peserta yang hadir tidak hanya mengharapakan sertifikat semata namun juga harus tahu arah reformasi itu dan apa yang akan kita lakukan sebagai mahasiswa ke depannya”, ungkapnya dihadapan peserta yang hadir. Lalu kata sambutan oleh pimpinan jurusan sejarah Hendra Naldi, S.S, M.Hum, yang juga merupakan aktivis ’98. Serta dilanjutkan dengan kata sambutan sekaligus pembukaan secara resmi oleh Dekan FIS yang diwakili oleh Emizal Amri, M.Si selaku pembantu dekan 1 (PD 1) tepat pada pukul 09.45 wib. Dalam kata sambutannya, Beliau sangat mengapresiasi acara ini dan ucapan terima kasih kepada panitia pelaksana. Setelah itu ditutup dengan pembacaan do’a oleh Hendri (Sejarah,2010).
            Kemudian MC memindahkan microfon ke tangan Fajrin selaku moderator diskusi panel saat itu. Acara yang diadakan di ruang ber-ac (air conditioner) itu didahului dengan perkenalan curiculum vitae (riwayat hidup) tiga panelis yakni dimulai dari H. Mohammad Ichlas El Qudsi S.Si, M.Si yang merupakan anggota DPR RI dan juga aktivis ’98, Hendra Naldi, S.S, M.Si. (ketua jurusan sejarah/ aktivis ‘98) dan terakhir Rahmadhatul Eka Putra (Ketua Badko HMI Sumbar). Setelah itu penyampaian gagasan dari ketiga panelis mengenai arah reformasi Indonesia yang sangat dihubungkan dengan periode ’98 dengan masa kini. Kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi atau tanya jawab namun satu orang panelis Mohammad Ichlas (Michel saapan akrabnya), minta izin tidak bisa menerima pertanyaan dari peserta karena ada agenda juga di Unand yang sudah terjanjikan juga sebelumnya. Meskipun demikian tak membuat surut peserta yang hadir untuk bertanya terhadap kedua panelis yang masih berada dalam dempetan meja di depan ruangan itu.Terlihat cukup tinggi antusias peserta dalam mengikuti acara diskusi panel tersebut terbukti dari berbagai pertanyaan dan tanggapan yang diajukan kepada para panelis. Selain panelis, sekretaris jurusan sosiologi Nora susilawati, S.Sos, M.Si juga  memberikan sumbangsih pemikirannya dalam sela-sela diskusi tersebut. 
             Di akhir tanya jawab panelis menyimpulkan dari seluruh pertanyaan dan tanggapan peserta bahwa reformasi Indonesia belum selesai, reformasi yang terjadi tahun 1998 adalah baru reformasi politik dan sedikit ekonomi sedangkan untuk reformasi hukum dan moral bangsa masih belum reformasi. Jadi, di tangan mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan) yang dapat merubahnya sesuai dengan rambu-rambu ataupun etika yang sewajarnya dalam dunia akademik. Maka dari itu pertegas ideologi masing-masing individu dan aktifkan program back to campus (kembali ke kampus) dalam artian turut berkontribusi dalam mengena tatanan sistem yang seharusnya demi tercipta azaz transparansi (keterbukaan). Sekitar pukul 12.30 wib acara berakhir dengan penyerahan doorprize untuk tiga orang peserta yang beruntung dan juga kenang-kenangan kepada panelis saat itu. (HIC: Hasan Asyhari)

                Tak bisa dipungkiri lagi reformasi yang muncul pasca tragedi trisakti dan semanggi tahun 1998 belum sepenuhnya sudah reformasi. Meskipun saat sekarang kita sudah merasakan reformasi dalam segi politik di mana kebebasan untuk mengkritisi pemerintah (pejabat) sekalipun sudah diperbolehkan dengan aturan yang sopan dan sedikit ekonomi. Namun dalam segi hukum, adab (moral) boleh dikatakan masih belum ada reformasi. Lihat saja berita terbaru ketika pemerintah memberi grasi hukuman kepada seorang pemakai dan pengedar narkoba asal Australia menunjukkan manakah reformasi? Akankah pemerintah akan selalu mudah tergiur dengan rayuan pihak ketiga? Pertanyaan sengit lagi, mau dibawa kemana hukum saat ini?.  Nah, tentu dari tangan-tangan handal para pemuda Indonesia khususnya mahasiswa.
Meskipun tindakan anarkisme seperti tahun 1998 tidak akan pernah bisa dilakukan sebab sudah ada ketentuan-ketentuan atau etika dalam berdemo yang ditetapkan dalam UU. Jika hal serupa dilakukan maka sebagian perguruan tinggi baik negeri maupun swasta sudah menyiapkan sebuah plang. Jika terlibat hal semacam itu maka akan di DO (dikeluarkan) dari kampus tersebut. Oleh karena itu, sebagai pemuda yang berintelektual saatnyalah untuk merubah reformasi dalam bidang lain seperti hukum,moral,dsb agar di reformasi dalam bentuk gagasan atau tulisan yang setidaknya menjadi saran, kritik serta solusi terhadap hukum dan penegakan hukum dan moral bangsa Indonesia. Banyak mass media (media massa) yang bisa digunakan seperti bentuk opini atau artikel di koran lokal maupun nasional. Harapannya dengan cara itu image anarkisme terhadap mahasiswa tidak akan terulang lagi dan perlu digaris bawahi bahwa cara kekerasan adalah bukan merupakan cara yang selalu menuntaskan masalah bangsa ini. Hidup mahasiswa!!! (Hasan Asyhari)

Friday, May 18, 2012

            Padang Panjang, 17 Mei 2012

Hamba lalai dari ayat-ayat Mu
Hamba dari perintah Mu
Hamba dari petunjuk Mu
Hamba dari peringatan Mu

 
Astaghfirullah…

Penyesalan ini telah tiba
Penyesalan ini telah membayang
Penyesalan ini telah muncul
Penyesalan ini telah berkibar

Oh, Tuhan…

Beri hamba petunjuk Mu
Beri hamba hidayah Mu
Beri hamba lindungan Mu
Beri hamba ampunan Mu

Hanya kepada Mu lah tempat hamba mengadu…


            Padang Panjang, 17 Mei 2012

Awalnya ku diajak      
Awalnya ku dibujuk
Awalnya ku dibayangi
Awalnya ku dihibur

Akhirnya ku terpukau
Akhirnya ku terasing
Akhirnya ku terbuai
Akhirnya ku terjebak

Dalam untaian kepalsuan
Dalam untaian kedustaan
Dalam untaian kehinaan
Dalam untaian kedosaan



Wednesday, May 16, 2012


sumber: maedapur.blogspot.com
Selamat pagi!!, itulah kata-kata yang keluar dari mulut  sang bocah.  Dengan penuh senyuman dia keluar dari rumah untuk memulai aktivitas dengan membawa beberapa kue buatan ibunya yang di kenal dengan nama” kue ubi kukus “.
                Dengan berjalan bahagia dan terus menawarkan kue buatan ibunya sambil bernyanyi. Sang bocah melihat sosok pria gagah yang seperti tergesa gesa, lalu sang bocah menghampiri pria tersebut dan  berkata, “ Om,, ini ada kue ubi kukus masakan ibuku ? “maaf dik , saya mau makan nasi dan tidak butuh jajanan seperti ini,” kata pria itu menolak. Sang bocah berharap pria tadi membeli  kue ubi kukus buatan ibunya.
                Tak disadari sang bocah selalu mengikuti pria itu hingga dia masuk ke dalam sebuah rumah makan Padang. Namun sang bocah masih saja berdiri di luar sambil melihat pria tersebut dengan penuh harapan. Setelah beberapa lama pria itu selesai menyantap makanannya  dan membayar makanan yang telah disantapnya di kasir, saat pria itu menutup dompetnya, sang bocah menghampiri pria itu dan telah berada di sampingnya sambil menyodorkan makanan tadi dan pria berkata, “ dik, saya sudah kenyang , apa kamu tidak melihat saya sudah selesai makan ?.” Sang bocah terus mengikuti pria itu, dan berkata,  “makanan ini bisa dibawa buat oleh-oleh pulang om.” Kemudian pria itu berkata sambil mengeluarkan beberapa helai uang kertas puluh ribuan. “Baiklah , saya tidak membeli makanan ini , namun ambil lah uang ini , sebagai sedekah dari saya,” balas pria itu dengan senangnya. Beberapa lama setelah itu, Sang Pria melihat sang bocah memberikan uang pemberiannya  tadi kepada seorang pengemis yang berada tak jauh dari rumah makan Padang tempat sang pria makan tadi.
                Pria itu memperhatikan sang bocah, dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Dan dia berkata dengan rasa ingin menegur, “hai bocah, kenapa uangnya kamu berikan kepada pengemis itu? Bukannya kamu butuh uang.  Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan kepada si pengemis itu?”. “ Om, maaf om, jangan marah ya.. Ibu saya mengajarkan kepada saya jika mendapatkan uang hanya dari hasil jualan makanan bukan dari mengemis. Kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.
                Dan pria itu merasa takjub dengan perkataan sang bocah, kemudian pria itu berkata. “ Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? saya borong semuanya untuk oleh-oleh pulang,“ sang bocah langsung menghitung dengan gembira. Sambil menyerahkan uang ,sang pria berkata,“ terima Kasih dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya pada ibumu.” Meskipun sang bocah tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan pria tadi, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, terima kasih Om, ibu saya pasti bakalan bahagia sekali, hasil jerih payahnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami. (HASAN ASYHARI DAN KHAIRIYATUL ISRA)