Selasa, 07 April 2015



Akademik VS Organisator

Menjadi mahasiswa ideal agaknya selalu menarik untuk diperbincangkan. Dalam konteks akademik, mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap almamaternya maupun terhadap diri sendiri dan orang tua agar kuliahnya menghasilkan predikat memuaskan dan tepat waktu.
Tapi, di sisi lain mahasiswa mempunyai label ”agent social of change” yang juga tak kalah penting mereka lakukan. Kondisi ini masuk pada ranah kedudukan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan predikat ini sudah mengakar pada masyarakat umum bahwa mahasiswa merupakan garda terdepan dalam menatap perubahan masa depan bangsa.
Masyarakat memandang mahasiswa itu bisa segala-galanya, baik dalam persoalan keilmuan maupun dalam urusan sosial. Dengan demikian ketika mahasiswa menjadi sarjana, mereka harus mampu merespon sekian persolan sosial yang terjadi di sekitar lingkungannya. Sementara, pada tataran tanggung jawab akademik mahasiswa dihadapkan pada kehidupan masa depan mereka. Selesai kuliah, bekerja atau menambah daftar pengangguran terdidik? Artinya, pada wilayah ini mahasiswa bersentuhan yang namanya dunia kerja. Bicara dunia kerja terkait dengan kemampuan akademik dan IPK.
Bagi mahasiswa yang memiliki kesadaran sosial (social awareness), paradigma yang dibangun adalah selain belajar juga diimbangi (balance) dengan kegiatan sosial, dengan harapan mereka dapat melaksanakan label yang selama ini dimiliki mahasiswa, yaitu sebagai agen perubahan sosial. Pada konteks ini mahasiswa dihadapkan problem benturan aturan akademik yang mengekang kreativitas mahasiswa.
Dari dua dimensi tanggung jawab itulah, kemudian melahirkan beberapa tipikal mahasiswa. Pertama, Mahasiswa akademik ansich. Mahasiswa model ini biasanya rajin ke kampus. Ada yang menyebutnya mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), mahasiswa segi tiga K (Kuliah, Kantin, dan Kos). Datang tepat waktu, semua tugas dikerjakan, catatan lengkap, dan manut pada dosen. biasanya diakhir semester menjadi incaran banyak mahasiswa untuk sekedar memfotokopi bahan kuliah dan dijadikan mitra menjawab soal UAS. Mahasiswa berkarakter tadi masih termasuk mahasiswa tipe pertama yang sering disebut mahasiswa anak dosen, karena tipe mahasiswa seperti itu biasanya diambil menjadi asisten dosen, selesai melanjutkan akademik, kemudian menjadi dosen.
Masih dalam tipe pertama, mahasiswa model ini cenderung terjebak pada ranah formalitas dan menganggap bahwa ruang kuliah, sebut saja dosen merupakan medium satu-satunya sumber ilmu. Kehidupan di kampus sebatas ajang bergaul dengan teman-teman satu kelas, karena tidak mengikuti kegiatan apapun di kampus, kecuali kuliah. Mind-set yang dibangun pun bersifat datar (pada umumnya), yaitu IPK coumlade, kuliah tepat waktu, lulus jadi PNS misalnya.
Padahal, kehidupan setelah kuliah tidak semudah dibayangkan. Fakta mengatakan, seringkali mahasiswa tipe pertama ini gagal ketika berhadapan pada persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Padahal mahasiswa mempunyai tanggung jawab sosial, selesai kuliah diharapkan bisa membangun kampung-nya, pada level lebih besar membangun provinsi, agama dan negaranya. Begitu juga dalam dunia kerja, ketika ia gagal dalam persaingan sesuai jurusannya, otomatis menjadi pengangguran terbuka, karena tidak mempunyai skill yang lain (monotonous capability).
Kecendrungan negatif adalah gengsi bekerja kalau itu bukan bidangnya, lebih baik nganggur dari pada menahan malu. Hal itu terjadi, karena paradigma yang terbentuk adalah pada orientasi (orientation) bukan kesadaran (awareness). Kesadaran dalam artian, mampu membaca peluang, kuliah tidak semata jalan mencari pekerjaan, memberikan kontribusi pada masyarakat (social responsebility), bekerja apapun (entrepreneur) yang penting bermanfaat dan positif.
Kedua, Mahasiswa aktivis kampus atau sering juga disebut organisator. Tipekal mahasiswa ini memiliki kesadaran sosial bahwa label mahasiswa tidak hanya mempunyai tugas akademik, tapi ada tugas sosial. Satu sisi ada persoalan lain kesadaran yang dibangun kebablasan. Segudang agenda kegiatannya dalam berorganisasi terkadang melupakan tugas utamanya, yaitu kuliah. Ia tidak bisa lagi me-menej dri antara aktifitas organisasi dna kuliah (akademik). Mahasiswa aktivis kampus seperti inilah yang membedakan dengan mahasiswa aktivis angkatan para founding fathers kita. Mereka aktivis, tapi tetap fokus pada akademik-nya.
Sebut saja Bung Karno, ranah akademik-nya melahirkan Insinyur Teknik, Hatta kemampuan dalam bidang ekonomi tidak bisa diragukan lagi, dan Syahrir kapasitas dalam diplomasi, membuatnya sering mewakili Indonesia dalam pertemuan Internasional. Mereka adalah orang-orang yang getol dalam kegiatan sosial demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, akan tapi tidak meninggalkan dunia akademiknya.
Kedua tipikal mahasiswa di atas setidaknya menjadi gambaran bagi mahasiswa era kini, mana yang menjadi nilai plus dan mana yang akan menghambat prospek kesuksesan ke depannya. Menjadi sang organisator yang lihai dalam akademik akan mempermudah jalan hidup untuk menuju gerbang pasca kampus. Akademik Yes, Organisasi Ok! Salam mahasiswa sukses! (Hasan Asyhari, pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Semoga kita semuanya dalam keadaan sehat, Aamiin. Bagi kami yang hidup di daerah minoritas Islam, satu, dua petak ruangan yang bisa dijadikan untuk masjid, bagi oleh muslim mana saja, adalah sangat berarti. Untuk itu kami ingin mengajak saudara saudari kami yang muslim di mana saja berada, untuk ikut ambil bagian dalam program pendirian rumah Allah di Hiyodoridai, Kobe, Jepang. Semoga kita berkenan.

"Mari Bersama Mendirikan Rumah Allah"

"Bertolong-tolonganlah kamu untuk hal kebaikan dan taqwa dan janganlah bertolong-tolongan untuk hal kejahatan (perbuatan dosa)" (QS Almaidah : 2).

"Membangun masjid, memakmurkan dan menyediakan untuk orang-orang shalat termasuk amal yang utama. Allah akan memberikan kepadanya pahala nan agung. Ia termasuk shadaqah jariyah yang pahalanya berlanjut hingga seseorang telah meninggal dunia.

Allah berfirman (QS At-Taubah: 18);
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, dan Muslim, dari Hadits Utsman radhiallahu’anhu)

Diriwayatkan Ibnu Majah, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany)

Kami di ACIKITA, mengundang saudara kami sebangsa dan seiman untuk memberikan donasi untuk pelunasan rumah yang sudah dijanjikan untuk dilunasi pertanggal 20 April 2015. Rumah tersebut akan difungsikan sebagai masjid, dengan nama masjid Istiqomah. Alhamdulillah letaknya sangat strategis sekali, bangunan sangat baik, lokasi di Hiyodoridai Kobe. Kekurangan dana saat ini sekitar 4 juta yen yen atau setara dengan 400 juta rupiah.

Donasi bisa disalurkan ke rekening ACIKITA
1. Rekenng ACIKITA di Jepang
Bank Post Japan : ACIKITA (dengan kata kana)
No rek : 10180-57922101
2. Rekening ACIKITA di Indonesia
Bank Mandiri atas nama: R Saharso No Rek: 127-00-0540785-1.
Untuk setiap penyaluran dana mohon dituliskan, donasi untuk mesjid, dan
mohon diinfokan kepada kami via email: pengurus@acikita.org
atau Hp +81-80-3333-1327 +81-80-3333-1327

Update dana masuk kami posting di sini:
https://www.dropbox.com/s/…/Pembukuan%20Donasi%20Mesjid.xls…
Kepada teman teman yang sudah membeikan donasinya kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, insyaAlah Allah akan membalasnya dengan pahala yang setimpal, Aamiin.

Kepada yang berkenan, mohan bantuan untuk menyebarluaskan himbauan ini. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jumiarti Agus
Ketua Internasional ACIKITA
Website ACIKITA; www.acikita.org
Kobe, Japan

Minggu, 08 Maret 2015


Acara Pembukaan yang dimoderatori Wakakur MAN Gunung

JP/Padang-Madrasah Aliyah Negeri yang berjulukan ”Kampus Hijau” itu menggelar training Budaya Senang Melayani (BSM). Training (pelatihan) ini diikuti sekitar 45 orang civitas akademika MAN Gunung Kota Padangpanjang yang terdiri dari pimpinan madrasah, majelis guru, staf tata usaha, petugas kebersihan dan petugas keamanan (satpam).

Kegiatan yang dilaksanakan di ruang belajar XI Keagamaan (Kamis, 5/3/2015) itu mendatangkan Wetri Mudrison, S.Ag, S.Pd, M.Pd, trainer dan konsultan yang merupakan trainer ESQ 165 sejak 2006 itu.

Kegiatan yang bersamaan dengan rapat persiapan UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional), Ujian Akhir Sekolah bagi kelas XII dan Ujian Tengah Semester bagi kelas X dan XI sengaja dikemas berbeda dibanding kegiatan rapat biasanya.

“Kegiatan rapat kali ini sengaja diformat berbeda dibanding rapat sebelumnya, hari ini didatangkan trainer yang akan melatih kita bersama bagaimana melayani dengan senang,” jelas Amrizon,S.Pd, M.Pd.I, Kepala MAN Gunung Padangpanjang saat menyampaikan arahannya.

Selanjutnya, trainer memutar video tentang fenomena dunia pendidikan yang marak akhir-akhir ini seperti kasus pelajar SD di salah satu kota di Sumatera Barat yang menganiaya teman selokal-nya secara bersama, hingga video guru di Papua yang memukuli siswa-nya yang salah mengerjakan latihan sembari merokok. Wetri yang merupakan ex.Kepala salah satu Madrasah Aliyah di Bogor, Jawa Barat itu juga mengkorelasikan training-nya dengan ayat-ayat Al Quran.

“Ada beberapa indikator keberhasilan seorang anak yakni berkepribadian kuat, berkarakter, setia pada kebenaran, berkontribusi positif terhadap moral dan tatanan sosial masyarakat,” ungkap Wetri, trainer yang baru menetap di kota Serambi Mekkah ini.

Selain itu, ia juga menjelaskan perangkat bawaan seorang anak. Pertama, intelectual curiosity, seorang anak memiliki rasa penasaran atau ingin tahu. Kedua, creative imagination, seorang anak juga kreatif dan penuh imajinasi. Ketiga, art of discovery, seorang anak juga memiliki kemampuan untuk merombak atau merubah sesuatu. Keempat, noble attitude, seorang anak memiliki sikap yang baik (akhlak yang mulia).

Tearakhir, kegiatan ditutup dengan sesi komentar oleh dua orang peserta. “Pelatihan ini sangat bagus sekali, jika bisa dilanjutkan untuk tahap teknis setelah kegiatan ini,” pesan Nurhadi, S.Pd, guru Bahasa Inggris. (Hasan Asyhari, Wartawan Muda)

Selasa, 03 Maret 2015


Pembukaan training ke-LDK-an  di Masjid Baru LPMP Sumbar

JP/Padang-Unit Kegiatan Kerohanian Universitas Negeri Padang (UKK UNP) kembali menggelar training ke-LDK-an. Kegiatan rutin ini dilaksanakan di Masjid Baru LPMP Sumbar dan Gedung B, UPT MKU UNP (Minggu, 1/3/2015) serta diikuti seluruh pengurus UKK dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) se-UNP tahun kepengurusan 2015.

“Kegiatan ini merupakan penguatan hasil Simposium LDK V (kelima) beberapa waktu yang lalu,” ujar M. Haris Sabri, Ketua Umum UKK UNP 2015 saat menyampaikan kata sambutan di hadapan peserta yang hadir.

Kemudian, training ke-LDK-an dibuka secara resmi oleh Husni Mubarak, Dewan Pertimbangan Organisasi UKK UNP 2015, serta dilanjutkan dengan taujih (ceramah singkat) oleh Ustadz Herry Susanto, S.Pd, M.Pd. 

“Ada beberapa fase agar dakwah kampus dapat berjalan dengan baik, dimulai dari fase  persiapan, fase pelaksanaan, fase pengontrolan dan fase evaluasi,” ucap Ustadz yang akrab disapa mas Herry itu. Selanjutnya, ia juga mengungkapkan seorang aktivis dakwah itu harus mampu melakukan ekspansi dengan jalan terjun langsung ke objek dakwah. Misalnya melalui penyebaran buletin dakwah. 

Training ke-LDK-an 2015 dipandu langsung oleh tim trainer eL-Tra UKK UNP yang berkafaah (ahli) di bidangnya. Setiap peserta perwakilan bidang atau departemen di UKK dan LDF dibagi dalam ruangan yang berbeda sesuai bidang-nya di UKK dan LDF bersangkutan. Bidang-bidang tersebut adalah bidang DPH, Kesekretarisan, Kaderisasi, Keuangan, Syi’ar Islam, Media Dakwah, Kemuslimahan, Humas dan Jaringan dan Akademik. 

Selanjutnya, training diawali dengan penguatan hasil simposium per bidang. Tim trainer memaparkan kembali hasil simposium secara jelas melalui slide power point yang disertai konsep-konsep kekinian dan aplikatif. 

Foto bersmaa kelas bidang Kesekretarisan (dok.pribadi)
Kemudian, lanjut dengan diskusi pembuatan program kerja yang efektif dan efisien dengam membandingkan program kerja lama dan rancangan program kerja baru. Setelah itu, setiap peserta dipersilakan untuk mempresentasikan rancangan program kerja baru-nya. Terakhir, tim trainer memberi evaluasi dan fiksasi hasil presentasi tadi.

Training ke-LDK-an 2015 ini nantinya bermuara pada penulisan program kerja sesungguhnya. Sehingga, nantinya program kerja tersebut disampaikan pada Musyawarah Kerja (Musker) UKK dan LDF. Setelah musker yang dilakukan UKK dan LDF nanti, baru kegiatan Loka Karya yang diikuti oleh seluruh ADK (Aktivis Dakwah Kampus) UKK dan LDF UNP dapat diselenggarakan ,” ujar Amdrean Ruseffendi, salah seorang tim trainer eL-Tra UKK UNP yang juga merupakan ex.Ketua Umum FSLDK (Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus) wilayah Sumatera Barat. (HA, Wartawan Muda)

Kamis, 26 Februari 2015



Padang, 8 Februari 2015


Hal      : Permohonan Kerja


Yth. Kepala Departemen Pendidikan dan SDM Yayasan Darussalam
c.q Bapak/ Ibu Kepala SMP IT Darussalam
di
            Komplek Pendidikan Darussalam 2, Perumahan Taman Jaya Asri,
            Kelurahan Buliang, Kecamatan Batu Aji.
            Kota Batam-Kepri

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                                       : Hasan Asyhari, S.Pd
Tempat, Tanggal Lahir            : Padang Panjang, 27 Februari 1992
Jenis Kelamin                          : Laki-laki
Agama                                     : Islam
Pendidikan Terakhir                : SI Pend. Sosiologi-Antropologi UNP
Alamat                                    : Desa Baru No.23 RT. 14 Kel. Tanah Hitam,
                                      Kec.Padang Panjang, Kota Padang Panjang 27112, Sumbar.
e-mail                                      : asyhari_hasan@yahoo.com
No.HP                                     : 085363755449
Bersama ini saya mengajukan permohonan untuk dapat diterima sebagai Staf Pengajar Bidang Studi IPS di SMP IT Darussalam yang Bapak/Ibu pimpin. Berkaitan dengan hal tersebut, bersama ini saya lampirkan beberapa berkas sebagai berikut:
  1. Foto kopi ijazah terakhir (legalisir), 1 lembar
  2. Foto kopi transkrip nilai (legalisir), 1 lembar
  3. Surat Keterangan Sertifikat Pendidik (Akta IV), 1 lembar
  4. Foto kopi e-KTP, 1 lembar
  5. Curriculum Vitae (Riwayat Hidup)
Demikian permohonan ini saya buat, selanjutnya besar harapan saya agar dapat diterima sebagai Staf Pengajar Bidang Studi IPS di SMP IT Darussalam yang Bapak/Ibu pimpin


Pemohon,

(Tanda tangan)
 
Hasan Asyhari, S.Pd

Minggu, 16 November 2014



JP/Padang-Seringnya dijumpai berbagai pemulung baik usia anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua di sekitaran kampus Universitas Negeri Padang (UNP) membuat perihatin Diya Andriani dan Rahmi Gusniarti. Kedua mahasiswa jurusan Ilmu Bumi (Geografi) UNP itu akhirnya menggagas berdirinya SLP (Sekolah Lintasan Pelangi). 

SLP juga digagas sebagai upaya mewujudkan tridharma perguruan tinggi pengabdian masyarakat dan secara tidak langsung juga berperan mengentasi kemiskinan intelek di kota Padang. SLP merupakan sekolah informal yang saat ini diprioritaskan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga pemulung. Berdasarkan wawancara dengan beberapa ibu-ibu dan anak-anak pemulung di sekitaran kampus UNP, Air Tawar Barat diperoleh informasi adanya sebuah komunitas pemulung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) tepatnya di TPA Lubuk Minturun yakni di desa Balai Gadang, Koto Tangah, Padang.
 
Diya dan Rahmi yang merupakan penggagas utama SLP melakukan diskusi dengan beberapa orang mahasiswa jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial UNP. Akhirnya, diangkatlah Agus Susanto sebagai Ketua SLP yang beranggotakan sekitar 30 orang. Mayoritas anggotanya berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan juga Fakultas Ilmu Pendidikan UNP.

Pada satu hari, Agus Susanto dengan beberapa orang anggota SLP lainnya melakukan survei dan ditemukan terdapat sekitar lebih kurang 100 KK (Kepala Keluarga) yang bekerja sebagai pemulung. Di antara anak-anak mereka, ada yang bersekolah dan ada pula yang tidak bersekolah. Mereka hanya menggantung diri pada benda hasil pungutannya.Tuntutan ekonomi mengharuskan anak-anak pemulung membantu orangtua demi kelangsungan hidup mereka sehari-hari. Tidak heran, hampir setiap pagi dan sore di sekitaran kampus UNP khususnya dan Air Tawar secara umum sering terlihat ibu-ibu dan anak-anak berpakaian compang-camping mengais sampah bekas di sekitar selokan, tong sampah dan tumpungan sampah di tepi jalan.

SLP memiliki konsep pembelajaran dasar seperti pelajaran-pelajaran di sekolah formal ditambah skill (keterampilan) lain-nya. Pembelajaran dasar akan dilakukan para mentor/ tentor/ guru SLP seperti baca tulis hitung. Kemudian pelajaran umum seperti matematika, IPA, IPS, Agama Islam. Sementara pembelajaran skil (keterampilan) yang nantinya diberikan seperti jurnalistik, pidato, MC (master of ceremony) dan sebagainya.

Kegiatan pembelajaran di SLP dikategorikan berdasarkan usia dan kemampuan dari masing-masing siswa SLP. Untuk itu, para pengurus SLP juga menjalin kerjasama dengan pihak lurah Lubuak Minturun dalam mendata keluarga pemulung di Balai Gadang, Lubuk Minturun. Nantinya, SLP akan dibagi menjadi 7 kelas yakni kelas merah (belajar tulis-baca), kelas jingga (belajar berhitung), kelas kuning (belajar bahasa), kelas hijau (belajar agama Islam), kelas biru (berkreatifitas), kelas nila (sosial), kelas ungu (intek yang difokuskan pada alam sesuai dengan pepatah Suku Minang “baraja ka pado alam”)

Struktur organisasi di SLP yakni Pembimbing (Nofrion, S.Pd, M.Pd.). Ia merupakan dosen jurusan Geografi UNP. Selain itu ia  adalah penyiar dan pembawa acara di RRI Padang. Selanjutnya Dewan Penasehat SLP, Hasan Asyhari, Diya Andriani, Ariska Sastria Ningsih,N, Yuaffi Nazhifa dan Fitri Dahlia. Kemudian, diketuai oleh Agus Susanto, Sekretaris 1 (Vivi Muharifa Eka Putri), Sekretaris 2 (Vivi Yulanda Ajizah) dan bendahara (Lizya Permata Mardizan).

Dana operasional SLP direncanakan berasal dari sumbangan anggota/sukarelawan SLP, penyebaran proposal bantuan dana ke Gubernur Sumbar, ke Walikota Padang, ke Rektor UNP dan instansi lain-nya. Pelaksanaan kegiatan SLP, pengurus SLP sebelumnya sudah berkoordinasi dengan Lurah Lubuk Minturun, Ketua RT/RW dan Ketua Pemuda. Beberapa waktu ke depan, SLP akan dibuka secara resmi oleh pihak Lurah Lubuk Minturun. Bagi yang berminat menjadi donatur silakan menghubungi Ketua SLP, Agus Susanto (085765345371).  (HA)

Rabu, 15 Oktober 2014



d’pen UNP
(Wartawan Lembaga Dakwah Kampus UNP)

Latar Belakang Berdirinya d’pen UNP
            “d’pen UNP” merupakan singkatan dari dakwah pena UNP. Ia merupakan komunitas menulis dalam bidang jurnalistik. Saat ini status “d’pen UNP” berada di bawah naungan Badan Koordinasi Humas Media Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Sumbar (BK HM FSLDK Sumbar). “d’pen UNP” diprakarsai oleh empat orang aktivis dakwah kampus UNP yang merupakan perwakilan dari Lembaga Dakwah Fakultas se-UNP, untuk mengikuti acara Workshop Jurnalistik FSLDK Sumbar di kampus I UBH, Ulak Karang, Padang pada tanggal 16-17 November 2013. Di mana UBH melalui FSI Nurul Jannah selaku BK HM FSLDK Sumbar waktu itu menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan itu.
Keempat orang tersebut adalah Hasan Asyhari (FSDI FIS), Ridwan (FKPWI FBS), R Sekar Ayu (Forsis FIP), Whina Mutia (Forsis FIP). Mereka langsung dilantik dan diberikan Surat Keputusan (SK) oleh BK Humas Media FSLDK Sumbar sebagai wartawan lembaga dakwah kampus. “d’pen UNP” terbentuk melalui rapat atau musyawarah perdana d’pen UNP di mushalla FE sekarang, tepatnya pada bulan Oktober 2013 dengan struktur sebagai berikut: Ketua (Hasan Asyhari), Wakil Ketua (Ridwan), Sekretaris (R Sekar Ayu), Bendahara (Whina Mutia).

Kegiatan  d’pen UNP
d’pen UNP kita dilatih menjadi bak seorang wartawan dakwah kampus yang meliput berbagai kegiatan masing-masing Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) yang ada di UNP yakni Forsis FIP UNP, Forsia FMIPA UNP, FSDI FIS UNP, FKPWI FBS UNP, Formi Madani FE UNP, UKKI FIK UNP, Formis FT UNP, UKK UNP dan BSO UKK (Tutorial Islam UKK). Nanti, masing-masing wartawan dakwah kampus mendapati tanggung jawab sesuai dengan biro-nya (LDF) masing-masing.  Tidak hanya fokus pada peliputan kegiatan, namun juga penokohan dari aktivis dakwah kampus LDF seperti prestasi dan sebagainya juga diprioritaskan dalam penulisan naskah tulisan (berita). Kemudian hasil liputan tadi, ditulis seperti berita dan selanjutnya di posting pada website http://fsldksumbar.com. Tidak kecil kemungkinan nantinya dibuat sebuah buletin atau majalah dalam mengemas berita yang dibuat oleh masing-masing wartawan (jurnalis dakwah kampus) berbentuk print-out. Untuk pengiriman naskah tulisan tadi bisa di kirim langsung ke e-mail FSDLK Sumbar yang tertera pada website FSLDK Sumbar.  Selain itu wartawan d’pen UNP juga berhak mengirimi dan mem-posting naskah tulisan yang dibuat ke berbagai media baik media cetak seperti koran lokal Sumatera Barat maupun media elektronik seperti blog pribadi, kompasiana.com, sumbaronline.com, dsb.
.
Prospek d’pen UNP
            Prospek “d’pen UNP” melatih kita dalam menulis, bagaimana mensyiarkan Islam dalam bentuk tulisan. Ini juga termasuk dalam metoda dakwah bil qalam (dakwah melalui tulisan). Nah, ini yang memberi peluang bagi kita untuk berdakwah. Selain itu kita akan terlatih menjadi sosok wartawan yang besar kemungkinan memberi peluang untuk menjadi wartawan di berbagai media massa yang marak beredar saat ini baik media on-line maupun media off-line (cetak). Kemudian perlu ditekankan bahwa wartawan d’pen UNP tidak mendapati gaji atau honor oleh pihak kampus maupun BK HM FSLDK Sumbar, karena ini merupakan sebuah ladang amal bagi jurnalis (wartawan) d’pen UNP. Tentu hanya Allah swt yang bisa menggaji dengan pahala yang berlipat ganda.
Namun, peluang atau kesempatan untuk mengirimi ke berbagai media sebagaimana yang telah disebutkan tadi setidaknya bisa menambah finansial pribadi. Biasanya si pengirim (wartawan) akan diberi reward (penghargaan) berupa honor  atau gaji dari naskah tulisan yang dikirim jika sesuai dengan persyaratan pada media bersangkutan. Akan tetapi, tujuan kita di sini bukanlah mencari uang. Kita sebagai wartawan d’pen UNP ini diniatkan ikhlas untuk berdakwah.

Logo dan Media Informasi dan Komunikasi d’pen UNP


keterangan:
d: dakwah (warna hitam)

pen: pena (warna hijau muda-kuning-merah)
UNP (warna hitam)                                                             


Media informasi dan komunikasi d’pen UNP saat ini adalah facebook dengan nama akun “d’pen UNP.” Setiap wartawan d’pen UNP diharuskan memiliki akun e-mail tetap untuk pengiriman naskah tulisan ke e-mail FSLDK Sumbar.

Rekruitmen Anggota dan Masa Kepengurusan
            Rekruitmen anggota baru UNP dilakukan minimal satu kali setahun (selama periode kepengurusan) melalui rekomendasi dari masing-masing ketua LDF dan penyebaran informasi melalui akun utama facebook (d’pen UNP). Calon pengurus inti dan biro d’pen UNP melewati tahapan seperti seleksi administrasi, interview (wawancara), testing pembuatan berita, mengikuti pembekalan atau training jurnalistik awal. Sementara masa kepengurusan d’pen UNP biasanya selama satu tahun atau tergantung keputusan musyawarah dengan melihat  kondisi keaktifan pengurus dan anggota d’pen UNP.

Struktur atau Posisi Kepengurusan d’pen UNP
            d’pen UNP terdiri atas pengurus inti dan juga biro. Pengurus inti bertanggung jawab berjalannya aktifitas d’pen UNP selama periode kepengurusan. Sementara biro bertanggung jawab dalam meliput berbagai kegiatan LDF. Pengurus inti terdiri atas Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara. Sementara biro terdiri atas biro masing-masing LDF seperti biro FKPWI FBS UNP (Ridwan, Rio), dsb.