Rabu, 23 Juli 2014



JP-Padang
Dalam rangka berbagi dan menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1435 H, Forum Studi Dinamika Islam Fakutas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (FSDI FIS UNP) menggelar buka puasa bersama. Pada tahun ini cukup berbeda daripada tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun sebelumnya FSDI mengundang anak panti asuhan tetapi tahun ini FSDI turun langsung ke panti asuhan Puti Bungsu yang berlokasi di daerah Dadok, Tunggul Hitam, Air Tawar Timur, Padang.

Acara tersebut berlangsung pada sore hari (Minggu, 20/07/14) yang diikuti sekitar 20-an pengurus, angkatan muda dan beberapa alumni ikhwan dan akhwat. Acara yang merupakan gawei-an bidang humas dan media FSDI 2014 ini tidak hanya memberikan makan dan minum tetapi juga memberikan bingkisan untuk panti asuhan.Selanjutnya, acara berakhir dengan foto bersama dan salam-salaman. (HA)


JP-Padang
Masjid dengan langit tinggi berasitektur Timur Tengah memukau Aktivis Dakwah Kampus kota Padang sore ini. Berada di lingkungan perguruan tinggi notabene agama, memberi kesejukan bagi batin ini. Rasa haus dan lapar-pun tidak terasa ketika bersua dan bercengkrama dengan pejuang dakwah kampus se-Kota Padang.

Sore ini (18/07/14) Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Sumatera Barat menggelar buka puasa bersama. Kegiatan FSLDK Sumbar dengan tuan rumah FSI Ulul Albab, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang mengundang sekitar seratus orang aktivis dakwah kampus se-Kota Padang. Di antaranya Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Unand, UNP, UPI YPTK, STKIP PGRI Sumbar, Universitas Taman Siswa, ATIP, STAI-PIQ, dst.

Kegiatan ini dibuka Ketua Umum FSLDK Sumbar, Amdrean Ruseffendi. Kemudian, pembacaan puisi tentang Palestina ciptaan penyair senior Taufik Ismail. Serta penanyang film kekejaman zionis Israel dengan durasi pendek.

Selanjutnya, Rusef memimpin sharing LDK dengan FSLDK Sumbar untuk kemajuan dakwah kampus di Sumatera Barat khususnya. Sirine-pun berbunyi pertanda waktu berbuka puasa dimulai. Seluruh yang hadir mencicipi hidangan yang disediakan penanggung jawab acara. (HA) 

Kamis, 19 Juni 2014



 JP-Padang
Sepoian Angin dan terik panas matahari meraba anak-anak Adam pagi ini (Selasa, 17/06/14). Tumpukan rapi batu segi lima menadah tempat merabah diri. Ya, ya. Memang iya! Kicau kata merekah akan hendak tiba di suatu tempat nan memikat akal. Tiada berpikir medan, lukisan kata tampak berkaca pada diri. Medan penuh tanjakan, batu besar dan kecil, lumpur tanah, kayu akar, jembatan kayu dan beberan air sungai menemani perjalaan pagi hingga sore hari ini. Tempat itu adalah Air Terjun Nyarai, Lubuk Alung (LA) Kab. Padang Pariaman.

Untuk menuju air terjun itu kami mesti melewati berbagai rintangan dan tantangan. Kami yang hadir ke sana berjumlah sekitar 20 orang. Kami semua merupakan mahasiswa Praktek Lapangan Kependidikan UNP dari SMA Pembangunan Lab. UNP. Kegiatan trekking ini kami lakukan dalam rangka perpisahan sesama mahasiswa PLK dan menambah kekompakan kami. Pergi ke sana kami mula-mula berangkat sekitar jam 9-an menggunakan sepeda motor dan satu mobil sewa memindahkan tubuh kami dari kota Padang ke Kab. Padang Pariaman.

Awal kedatangan kami, kami disuguhi dengan pemandangan sebuah warung dan posko pembayaran tiket. Di depan tersorot indah baliho foto denah lokasi menuju Air Terjun Nyarai dan foto Air terjun Nyarai yang menghijau. Di sana juga ada beberapa orang petugas (pemandu wisata) dan juga administrator objek wisata alam yang sering dikunjungi pelajar dan mahasiswa tersebut. Di posko utama juga menyediakan penjualan pin cantik objek wisata Nyarai berkisaran 5.000-15.000 rupiah. Tergantung dari ukuran pin-nya.

Setelah melakukan registrasi di posko utama, kami membayar uang masuk 20 ribu rupiah/orang. Pemandu wisata mengumpulkan kami dan juga memberi arahan sebelum menuju tempat yang sangat dinanti. Kemudian kami memulai perjalanan ini. Di awal mengasyikkan dan tidak begitu terasa lelah. Namun, di tengah perjalanan mata kami selalu disoroti dengan hamparan semak, aliran air sungai kecil, aliran lubuk dan pohon-pohon yang meninggi serta   berbagai tulisan “1000 m, 2000 m, 3000 m.” Tulisan-tulisan tadi sempat membuat kami dihantui rasa pasrah dan sedikit kecewa. Tetapi pemandu wisata tetap menyemangati kami sehingga kami dituntun sampai ke Air Terjun Nyarai. Perjalanan itu kami lewati dengan berbagai tanjakan ekstrim dan penyeberangan yang menelan waktu dan jarah tempuh cukup panjang.

Selama di perjalanan, pemandu wisata juga berbagi cerita dengan kami, apa yang dilarang dan apa yang sepatutnya kami lakukan di Air Terjun Nyarai itu. Objek wisata satu ini ternyata dikelola oleh Nagari setempat. Selain itu kearifan lokal jelas tampak pada objek wisata ini. Tidak boleh mencoret dinding, menggunakan kayu untuk membuat jembatan atau tangga penyeberangan, dilarang melakukan tindakan asusila dan sebagainya. Salah seorang pemandu mengatakan, medan yang dilalui benar-benar alami seperti jembatan atau tangga yang dibuat dari kayu-kayu. Tidak terlihat kombinasi semen dan besi dalam pembuatan jembatan atau tangga kecil tersebut.

Sanksi-pun juga diberlakukan, pengunjung mencoret dinding batu di sekitaran Air Terjun Nyarai, jika ketahuan maka akan dikenai denda sesuai aturan yang berlaku di objek wisata tersebut. Selain itu rasa sadar dari guide dalam mengelola objek wisata alam itu terlihat ketika salah seorang guide mengais sampah-sampah seperti botol plastik yang bertebaran di sepanjang jalan. Kemudian dimasukkan dalam sebuah kantong plastik untuk dibuang ataupun dijual. Ketika sampai di Air Terjun Nyarai, guide tidak hanya mengawasi gerak-gerik kami dari atas. Mereka juga membersihakan batu-batu besar yang licin, sehingga lumut tidak menebali batu itu.

Usai mandi, shalat dan makan. Kami-pun pulang melewati jalan alternatif yang tak jauh beda rintangan jalannya. Bagaimana-pun juga kelelahan tadi terbayar sudah ketika kami sampai di posko utama dengan kondisi selamat. Beragam cerita juga melekati jiwa dan pikiran kami. Salam rindu Nyarai Waterfall, LA! (HA)

Kamis, 12 Juni 2014


JP/Padang-Hari ini (Senin, 09/06/2014) bertepatan dua hari pasca acara wisuda periode ke-100 di kampus bermotto “Alam Takambang Jadi Guru”. Forum Studi Dinamika Islam Fakultas Ilmu Sosial (FSDI FIS UNP) menggelar temu wisudawan/wati Aktivis Dakwah Kampus (ADK) FIS UNP. 

Acara yang diselenggarakan bidang humas dan media FSDI 2014 ini untuk ketiga kalinya mengadakan acara serupa. Namun, pada wisuda periode gold year ini, FSDI baru perdana menggelar acara di ruang PKM UNP yang tepat bersebelahan dengan sekretariat BEM UNP.

Para wisuda adalah ADK FIS yang merupakan alumni FSDI yang pernah aktif dalam menyemarakkan dakwah di kampus merah ini. Untuk wisuda kali ini ada empat orang ADK FIS yang diwisuda yakni Ferdo Badres, S.Pd (Sosiologi), Lika Wati, S.Pd (Sosiologi), Hasminar, S.Pd (Geografi) dan Mulya Sri Wahyuni, S.Pd (Sosiologi).

“Jangan lupa pada kehidupan di masyarakat nanti dan hendaknya juga tidak melepaskan komunikasi dengan adik-adik yang sedang berjuang di FSDI,” pesan Yon Virgo dalam kata sambutannya kepada para wisuda.

Bertema “Bapisah Bukannyo Bacarai” ini juga menghadiri Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) FSDI. “Selamat kepada kakak kita yang sudah sukses menamatkan perkuliahannya,” ucap Piki Setri Pernantah memberi ucapan selamat kepada para wisuda.

Piki Setri Pernantah yang merupakan Duta Bahasa Harapan 1 provinsi Sumatera Barat ini juga mengusulkan pembentukan Ikatan Alumni FSDI. Dengan harapan koordinasi antara alumni dengan pengurus FSDI dapat berjalan dengan baik. “Jika di tingkat UNP, sudah ada Ikatan Alumni ADK UNP. Maka kalau bisa di FSDI juga ada ikatan seperti itu,” tuturnya yakin.

Selanjutnya, Lika Wati, S.Pd, wisudawati dari jurusan Sosiologi FIS UNP yang juga pernah menjadi bendahara umum FSDI tahun 2011 ini menuturkan berbagai pengalamannya selama bergabung di Lembaga Dakwah Fakultas Ilmu Sosial ini.

Kegiatan tersebut juga diputarkan movie maker para wisuda dimulai dari foto-foto perjalannya di FSDI hingga wisuda. Terakhir, temu ramah wisuda ditutup dengan ifthor jama’i (buka puasa sunnah). (HA)

Sabtu, 31 Mei 2014



 JP/Padang-Pagi ini, suasana hening bertapa di kampus dengan simbol “Alam Takambang Jadi Guru.” Kemegahan Al-Azhar menjadi awal saksi bisu para pejuang dakwah di kampus merah itu.
Suasana kala itu-pun maju perlahan dengan pembukaan berkopiah terik panas sang surya. Berderai rasa hendak menelusuri negeri Bukit Langkisau dan hendak menginjaki ombak pantai Carocok, Painan Kabupaten Pesisir Selatan. 

Sungguh kuasa Sang Pemilik Arasy yang Maha Agung. Hari ini (Kamis, 29/04/14) pejuang dakwah kampus merah UNP kembali menggelar Rihlah Akbar Forum Studi Dinamika Islam Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (FSDI FIS UNP).

Kegiatan ini diikuti sekitar 22 orang ikhwan (pengurus dan angkatan muda  laki-laki) dan 20 orang akhwat (pengurus dan angkatan muda perempuan).

“Rihlah ini tidak hanya jalan-jalan semata tapi juga untuk menyatukan hati para pejuang dakwah kampus merah, demi kejayaan FSDI ke depannya,” ucap Abdul Aziz, Badan Petimbangan Organisasi (BPO) FSDI saat memberi arahan (taujih) pada ikhwan dan akhwat yang hadir di taman bawah jenjang puncak Bukit Langkisau.

Berjalan mendaki dan menelusuri ruas jalan lurus nan berbelok. Sembari memutarkan wajah dan melirik hamparan laut pantai Carocok. Kelelahan kala itu semakin tergantikan ketika sampai di puncak Bukit Langkisau yang melebarkan penglihatan.  

Sehabis makan siang, lanjut dengan ber-ekspresi dengan kamera handphone dan juga digital. Kepuasan batin-pun akhirnya berbunga-bunga dalam alunan rasa. Tidak lama kemudian, para pejuang dakwah kampus merah-pun kembali turun menuju pantai Carocok.

Memasuki pantai Carocok nan indah, para pejuang dakwah kampus merah mesti membayar Rp.5.000,- perkepala. Retribusi yang ditetapkan Dinas Pariwisata Kab. Pesisir Selatan berguna untuk pemeliharaan dan kebersihan objek wisata yang merupakan paradona-nya Sumatera Barat itu.

Kemudian, berpindah ke satu pulau yang menyoroti mata dari kejauhan. Rasa penasaran dan rasa yang tidak sabaran. Membuat kaki melangkah hendak menaiki perahu penyeberangan yang bertarif Rp.10.000,- /orang.   

Setiba di sana ikhwan dan akhwat melakukan games yang membangkitkan rasa kekompakan. Setelah itu, mata tidak henti tertuju pada atraksi wisata pantai. Di sisi kanan dan kiri mata tersorot dengan banana boat, flaying fox, jet sky. Ada yang menaiki beberapa atraksi wisata itu. Tentu dengan tarif yang lumayan meroceh kantong celana. Tidak perlu dikhawatirkan, ketika kepuasan batin ini sudah terbalaskan dengan atraksi wisata itu.

Di pinggiran pantai ada juga yang berleha-leha menikmati hamburan ombak dengan menduduki tanah pasir-nya Carocok. Beberapa jam setelah itu, perjalanan (rihlah) akbar FSDI 2014 usai dengan keberangkatan menaiki bus kampus UNP bantuan Dinas Perhubungan RI ini.

“Acara rihlah ini sangat bagus dan dapat me-refresh diri pasca Ujian Akhir Semester gena,” ungkap Muammar, salah seorang anggota muda FSDI 2013 yang pandai mengaji ini. (HA)

Rabu, 28 Mei 2014

JP/Padang-Angkatan muda Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) dan Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) UNP mengadakan anjangsana ke Panti Asuhan Al-Falah, Parupuak Tabing, Kel. Air Tawar Barat, Padang (25/05/14). 

Kegiatan yang digagas angkatan muda UKK 2013 (Gemintang) bertujuan untuk menjalin silaturrahmi dan berbagi dengan saudara-saudara di panti asuhan tersebut. Serta untuk mempererat ukhuwah antara anggota gemintang sendiri dan juga angkatan muda LDF.

Ketua Gemintang menyerahkan sumbangan ke Pembina Panti
Panti asuhan Al-Falah ini dihuni sekitar 56 anak asuh laki-laki dan perempuan yang sedang menempuh pendidikan mulai dari kelas 3 Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Rumah yang dijadikan sebagai panti asuhan ini merupakan rumah binaan bagi anak-anak yang berasal dari Mentawai.

Anjangsana dimulai dengan pembukaan formal oleh ketua umum UKK, Ardian Perkasa Mawan. Kemudian dilanjutkan dengan motivasi dan games yang menghibur. Banyak dari mereka yang terhibur. Hal ini terlihat dari keaktifan dalam bermain dan nyanyian yang dilagukan bersama. 

“Acara ini sangat membangun jiwa dalam berbagi semangat kebersamaan. Jarang kita berinteraksi dengan adik-adik di Panti secara langsung dan ini sangat bermanfaat bagi saya dan sesama angkatan muda sendiri pastinya,” ujar Depi salah seorang angkatan muda .

Ia juga berharap acara ini terus berlanjut untuk masa ke depan-nya. Mengingat antusias dari angkatan muda yang berperan aktif pada agenda yang juga pernah diangkatkan kepengurusan UKK tahun sebelumnya ini. Selanjutnya, kegiatan anjangsana di tutup dengan makan bersama. (Ayu Wandira, Ketua Keputrian Gemintang UKK/ jurusan Akuntansi 2013, Editor: HA)