Jumat, 15 April 2016


JP/Sorong-Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Tertinggal dan Terluar (SM-3T) Indonesia asal LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan) Universitas Negeri Padang mengadakan program peduli pendidikan Papua Barat bertajuk “Donasi 1000 Paket Sekolah untuk Papua Barat.” Kegiatan ini nantinya akan dipusatkan pada  Kabupaten Sorong sebagai daerah pengabdiannya.

Kabupaten Sorong merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Papua Barat. Keberadaan sekolah di kabupaten ini tidak semua yang berada di pusat kabupaten, akan tetapi juga menyebar di berbagai distrik (kecamatan) yang melewati gunung (bukit) dan laut.

Kondisi seperti di atas salah satu yang menyebabkan ketidakmerataan fasilitas pendidikan terutama di daerah yang jauh akses lokasinya. Apalagi sekolah yang berada di pulau-pulau dan harus melewati akses laut untuk sampai ke sana.

Masalah akses atau jalur transportasi adalah secuil dari beberapa masalah pendidikan di daerah luar dari pusat kabupaten. Masalah ekonomi-pun juga menjadi salah satu masalah utama pendidikan di kabupaten itu. Serta juga kekurangan tenaga pengajar (guru), buku belajar dan buku tulis, seragam sekolah serta fasilitas sekolah yang masih minim adanya.

Melihat kondisi demikian, guru-guru muda asal ranah Minang, Sumatera Barat yang tergabung dalam guru SM-3T Indonesia jilid lima mengadakan program tersebut. Program itu berupa penggalangan dana maupun benda berwujud seperti alat tulis, seragam sekolah dan lain sebagainya yang nantinya akan diberikan secara langsung ke beberapa sekolah yang telah menjadi pemetaan.

Evin Narius, S.Pd, koordinator SM-3T UNP untuk Kabupaten Sorong, Papua Barat menghimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut berdonasi dan juga turut mendukung program mulia tersebut seperti menyebarkan informasi ini secara masif. Program peduli pendidikan Papua Barat itu berlangsung sampai bulan Juli 2016.

Sosialisasi program dan pengumpulan donasi sudah dimulai sejak hari Rabu (13/04/2016) kemarin melalui media sosial yang ada seperti facebook, BBM, Instagram dan lainnya.


Saluran dana bisa ditransfer melalui rekening bank bendahara SM-3T UNP Sorong via BRI atas nama  Sari Rahmanida (1269-01010660-5-34). Seribu rupiah-pun sangat berarti bagi kemajuan pendidikan anak-anak di pedalaman Kabupaten Sorong khususnya. (HASAN ASYHARI)

Minggu, 24 Januari 2016


Hari ke-1 (Senin, 24 Agustus 2015):
Hari ini adalah babak awal bagiku. Allah swt adalah Tuhan Maha Pengatur segala gerak kehidupan ini. Hal yang tidak aku duga malah aku elakkan, akhirnya terjadi sudah.

Dua hari sudah aku di LPTQ distrik Aimas, akhirnya aku dijemput oleh Bapak Kepsek SD YPK Bukit Sion, Kuadas, Bapak Wenand Ulimpa, S.Pd.K dengan mengendarai sebuah mobil sewa. Bersama istri Bapak Kepsek yang juga merupakan seorang perawat PNS di Polindes di desa Kuadas. Saat penjemputan ada yang unik, teman-teman di LPTQ terkejut melihat orangtua angkatku berkulit hitam, benar-benar penduduk asli Papua yang cukup berbeda dibanding orangtua angkat (Kepsek masing-masing) teman-temanku. Namun, ibuk Armiati, yang merupakan salah satu dari dua orang dosen pendamping mengajakku berfoto mereka dan teman-teman.


Kemudian, kami pergi menuju sekolah sasaran (penugasan/ penempatan). Ketika itu desa Kuadas diprediksi Bapak Wenand hujan dengan potensi cukup lebat. Prediksi itu, cukup tepat. Melewati KM 0 hingga sampai KM 40, serasa setengah mati (bahasa orang di Desa Kuadas). Jalanan yang berbelok, berlubang besar dan diisi oleh kubangan air hujan, sekitar jalan sering dijumpai tumpukan material jalan. Alhamdulillah, bisa kami lewati dengan selamat mesti dipenuhi rasa sesak, cemas dan takut. Di atas mobil, saya bercengkrama dengan Bapak dan Ibuk Wenand. Ternyata mereka memiliki tiga orang anak, ada yang kuliah, SMA dan SMP. Mereka memiliki dua rumah, di Sorong dan di Kuadas, tepatnya di atas sekolah. Sekitar jam 18.45 WIT, kami sampai di Desa Kuadas. Sesampai di sana, kami mengambil kunci rumah dinas Kepsek dan langsung menuju rumah tersebut.
Saat datang, saya disambut oleh Komite sekolah dan beberapa orang siswa diantaranya Jois dan Alu. Tidak lama kemudian, Bapak dan Ibu Wenand Ulimpa balik lagi ke Sorong, karena masih ada urusan pertemuan di Dinas Pendidikan Kab. Sorong. Tinggallah aku bersama dua orang siswa yang akan menemaniku malam ini. Bercengkerama sebentar dengan mereka dan lanjut tidur.


Hari ke-2 (Selasa, 25 Agustus 2015):

Tidak terasa hari sudah menunjukkan pukul 05.30 WIT. Keletihan di perjalanan membuat aku tidur pulas dan alhamdulillah badan-pun mulai terasa lega. Pagi ini cukup sibuk karena harus bersih-bersih rumah, memasak dan mencuci. Alhamdulillah sang surya cukup bersahabat kala itu. Sore harinya, saya pergi mengitari sekolah dan menyempatkan diri untuk memotret sisi-sisi sekolah termasuk kuburan besar bertulis batu nisan Philipus Mobilala yang sekaligus merupakan nama jalan di Kuadas. Kemudian, saya memotret pantai nan indah dan sorotan rumah di distrik Makbon tempat dua orang SM-3T UNP mengabdi yakni bang Sutrisno dan Irwandi yang mengajar di sekolah yang berbeda. Malam harinya kita makan bersama dan aku mulai mengansur-angsur mengerjakan laporan, mana tahu saat Monev akan diminta.

Hari ke-3 (Rabu, 26 Agustus 2015):
Hari ini saya dan dua orang siswa bernama Alu dan Nomen masak sambal pagi-pagi. Saya masak nasi goreng, sementara Alu dan Nomen sibuk memasak sayur singkong dengan gaya khas masakan sayur di desa Kaudas. Sehabis makan, saya bersiap-siap pergi ke sekolah yang sangat dekat dari rumah tempat saya tinggal. Menggunakan seragam mengajar warna coklat tua dengan disapit papan nama. Saya berkenalan dengan Ibu Mobillus yang merupakan salah satu guru PNS di sekolah swasta bernuansa kristen ini. Ibu Mobillus memberi saya sayur tumis parutan pepaya muda. Rasanya manis dan cukup enak. Awalnya rada hati-hati, seiring waktu bakal bisa menyesuaikan diri

Setelah itu, aku kembali ke rumah dinas, istirahat. Setelah shalat zuhur baru masak nasi. Kemudian melanjutkan menulis catatan harian. Tidak lama kemudian, hujan lebat-pun datang.

Hari ke-4 (Kamis, 27 Agustus 2015):
Pagi ini hari menunjukkan pukul 07.45 WIT. Selepas sarapan pagi, saya bersiap-siap menuju sekolah. Tiba di sekolah saya bertemu Ibu Mobilus, wali kelas kelas VI yang mengatakan bahwa nanti anak-anak akan dikumpulkan dalam satu kelas untuk perkenalan dengan saya dan siswa-siswi. Antusias siswa ketika saya masuk cukup besar. Saya meminta seorang siswa memimpin untuk menyanyikan lagu nasional. Alhamdulillah, mereka pada hafal. Setelah itu ibu Mobilen, wali kelas kelas 1-4 meminta saya mengajar di kelas V. Akhirnya, saya masuk lokal. Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta siswa membuat biodata di kertas yang sudah saya bagikan. Alamak, begitu lamanya. Hampir setengah jam lebih saya menunggu para siswa untuk mengumpulkan kertas tadi. Maklum, kata ibu Mobillen, masih ada siswa yang belum mahir membaca. Kemudian, saya melakukan game talking stop (memainkan spidol secara bergiliran sampai muncul kata stop/ berhenti). Akhirnya dapatlah dua orang siswa mewakili lima orang temannya untuk membacakan biodatanya.
Sore harinya, selepas shalat ashar saya menggunakan waktu untuk bersilaturrahmi ke rumah bapak kepala sekolah, Bapak Wenand Ulimpa, S.Pd.K yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Kristen di sekolah itu. Kemudian, menghabiskan waktu untuk untuk melanjutkan menulis catatan harian, etnografi dan catatan perjalanan pribadi saya.

Hari ke-5 (Jum’at, 28 Agustus 2015):
Rencana Allah swt sungguh lebih baik daripada rencana manusia. Kekhawatiran tidak bisa melaksanakan ibadah shalat Jum’at yang merupakan ibadah wajib bagi laki-laki muslim. Alhamdulillah saya mendapat izin dari Bapak Ulimpa, untuk mengikuti ibadah shalat jum’at. Pagi ini pukul 05.00 WIT saya bangun tidur, shalat subuh dan siap-siap meunggu taksi alias angkutan umum yang hanya sekali pergi dna sekali datang tiap hari kecuali hari Minggu, pak Sopir libur karena melaksanakan ibadah rohani di gereja. Tidak lama menunggu, akhirnya sang mobil datang. Bapak guru, bapak guru di depan duduk,” kata seorang perempuan muda yang ketika itu sedang duduk di bangku depan. “Benar-benar saya sangat dihargai,” ucap saya dalam hati.

Melewati jalanan yang cukup meakutkan dengan tikungan yang lumayan tajam. Jalan tidak semua beraspal, karena para pekerja sedang memperlebar jalan. Masih tampak tumpukan material seperti pasir, semen, batu dan tanah galian yang berjejer di tepian bahkan di tengah jalan. Di sekeliling jalan sebagiannya diapit oleh dua jurang yang cukup dalam. Betapa tidak memacu adrenalin. Rasa takut dan cemas terjatuh sempat memompai tubuh. Alhamdulillah, menikmati perjalanan nan penuh kecemasan itu, akhirnya dua jam setelah itu saya sampai di pasar sentral kota Soorng. Wah, ternyata pasar ini serupa dengan pasar raya kota Padang. Luas, banyak barang jualan dan beragam suku bangsa lalu lalang di sekitar pasar. Setelah membeli kebutuhan harian. Saya bertanya pada tukang karcis taksi, “Bapak, di mana rumah makan Padang toh?,” tanya saya cepat. “Di sana, dekat pohon mangga,” jawab sang Bapak. Saya-pun mendapati rumah makan Padang itu dan memesan nasi pakai sambal daging rendang dengan harga Rp.23.000,- tanpa nasi tambah dengan segelas air putih dingin. Sembari makan saya sempati bertanya dan  bercerita ternyata penjualnya adalah orang Danau Singkarak yang sudah 23 tahun menetap di Kota Sorong itu.
 Kemudian, saya minta no hp karena tiap bulan ada pengajian yang diadakan oleh perantau Minang di kota itu. Saya-pun bersiap-siap melaksanakan shalat Jum’at di masjid At Taqwa yang tidak begitu jauh dari rumah makan itu, yakni hanya menyeberangi satu jalan raya. Selepas shalat, saya jemput tas dna barang bawaan yang dititip di warung Rumah Makan Padang tadi dna bersiap menuju terminal taksi yang juga tidak begitu jauh. Selanjutnya, saya masih menunggu penumpang yang lain. Tetapi saya lebih melanjutkan perjalanan mengitari pasar dan membeli tambahan kebutuhan harian. Akhirnya, saya  pulang lagi ke dusun Kuadas.

Hari ke-6 (Sabtu, 29 Agustus 2015):
Saat ini pukul 05.44 WIT, saya buka kelambu yang terpasang kokoh di atas tempat tidur. Saya buka pintu kamar, saya lihat Nomen masih terlelap tidur di ruang depan, begitu juga dengan Ulu yang sedang tidur pulas di dapur. Ulu sengaja tidur di sana, untuk menjaga kucing agar tidak mengambil kebutuhan dapur. Maklum, pintu belakang bagian atasnya tidak tertutup. Saatnya saya mengambil wudhu dan laksanakan shalat subuh dan selanjutnya tidak lupa membaca Al qur’an dan alma’tsurat pagi.   Kemudian saya lanjut mencuci pakaian dan mandi.

Matahari-pun mulai menghamparkan teriknya. Angin selatan sejak kemarin malam bernostalgia di desa ini. Saya bersiap-siap pergi ke sekolah, tiba di sekolah kami langsung masuk ke ruang. Di sana berkumpul kelas 1-6. Selanjutnya, saya guru pertama datang, langsung memulai kegiatan pagi dimulai dari berdo’a sesuai agama nasrani, memberi motivasi dan meminta Savira memimpin lagu nasional dan daerah. Ada dua lagu daerah yang dinyanyikan yakni lagu Suku Moi dan Suku Biak.

Kemudian, kami melaksanakan kerja bakti alias goro yang rutin dilaksanakan tiap hari sabtu. Goro pagi ini diawali mencabut rumput di depan dan di belakang sekolah. Setelah itu, meratakan tanah sembari menanam bunga yang membuat indah sekolah. Kemudian, membakar sampah yang ditumpuk belakang sekolah.

Selanjutnya, saya, Ibu Mobulen dan siswa berfoto di depan sekolah. Betapa senangnya para siswa ketika difoto. Tidak berapa kemudian, para siswa dikumpulkan untuk berdo’a dan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing.

Sore harinya, saya bersiap-siap bermain dengan anak-anak di pantai Kuadas belakang sekolah. Melihat keberanian semua anak melawan ombak yang cukup kuat di desa ini.

Hari ke-7 (Minggu, 30 Agustus 2015):
Hari ini adalah hari ketujuh, saya menempati kaki di Desa Kuadas. Desa yang merupakan penduduk asli suku Moi dan semuanya beragama kristen Papua. Pagi ini, saya, Ulu dan Nomen pergi jalan pagi di sekitar Desa Kuadas. Melewati belakang Gereja Desa Kuadas dan tidak lupa berjalan sepanjang jalan lintas menuju Kabupaten Tambrau. Tidak cukup satu jam, kami kembali lagi ke Desa, melewati jalan turun berbatu. Setiba di jalan kampung (desa) saya melihat sekelompok orang yang sibuk di sekitar Pondok BUP, tempat pertama saya berteduh ketika sampai di desa ini. Saya disapa oleh salah seorang anggota BUP (Buku Untuk Papua) yang merupakan komunitas sosial yang berasal dari berbagai usia dan status pekerjaan. 

Komunitas itu adalah independen dan cakupannya sudah nasional. Sumber dana adalah dari para donatur proposal yang dijalankan dan berbagai bentuk wirausaha seperti menjual atribut atau aksesoris Papua. Sebut saja Kakak Danlin, yang merupakan salah seorang anggota BUP dari tujuh orang anggota yang saya jumpai kala itu. Saya memperkenalkan diri sembari melihat kegiatan mereka dalam menyelesaikan pondok bacaan yang akan diresmikan pada minggu ketiga Sepetember 2015. Kemudian, saya pergi ke rumah Bapak Ulimpa dengan tujuan meminta obat sakit kepala yang hampir seminggu sakitnya di dekat telinga. Lalu mama (sebutan untuk istri Bapak Ulimpa) memberi saya tiga rol obat yakni Dexomathon, Asam Mefemanat dan Vitamin B1 dengan syarat 3 kali makan sehari.

Setelah itu, saya dan Ulu diajak sarapan pagi dengan mie rebus serta ditawarkan segelas nescafe panas. Tidak lama kemudian, saya pergi pulang ke rumah untuk istirahat. Siang sampai sore harinya, saya habiskan waktu bersama anak-anak di pinggir laut alias tepi pantai Kuadas sembari melihat anak-anak bernostalgia di tepi laut nan indah dan memesona itu. Selanjutnya, saya berjalan ke atas jembatan yang cukup bagus dijadikan view photo. Saya jumpai di sana sekelompok anak-anak bersama guru pergi picnic ke pantai itu. Ternyata mereka dari kota Sorong yang lagi liburan akhir minggu.

Hari ke-8 (Senin, 31 Agustus 2015):
Hari ini adalah hari senin, di mana merupakan hari pertama saya menjalani aktifitas upacara bendera di SD YPK Kuadas. Begitu mencengangkan, ketika anak-anak sama sekali tidak siap melakukan upacar bendera. Apakah tidak ada latihan sbelumnya atau bagaimana, saya belum ada diperintahkan untuk itu. Maka, pagi inilah saya mencoba melatih siswa dimulai dari PBB nya dan pembacaan UUD 1945. Yang paling mengherankan ketika protokol meminta pembina upacara yang saat itu langsung dipegang oleh Bapak Ulimpa, Kepsek untuk memberi amanat upacara. Tiba-tiba meminta protokol untuk melanjutkan kegiatan seterusnya, sampai pembacaan do’a. Ternyata, hal demikian dilakukan bapak ulimpa melihat kondisi terik matahari yang dirasa membuat siswa pingsan dan ketidaksiapan pelaksanaan upacara bendera pagi itu. Setelah itu, siswa dikumpulkan pada satu kelas dan langsung pemberian amanat oleh Bapak kepsek Ulimpa.           

Beberapa waktu setelah itu, saya, Bapak Antonius Mobilala dan Ibu Treshia Mobalus serta Bapak Wenand Ulimpa masuk ke ruang kantor majelis guru. Di sana kami mengadakan briefing dadakan. Ternyata saya mendapat amanah untuk menjadi walikelas di kelas VI. Sungguh amanah yang baru dan benar-benar menantang sekali, walaupun siswa kelas VI hanya berjumlah 6 orang, tapi ini sangat berat karena mereka harus disiapkan betul untuk mengikuti UN tahun 2016.

Setelah briefing, saya pulang ke rumah, istirahat. Setelah shalat Zuhur, saya ke rumah Bapak Ulimpa karena saat di sekolah beliau mengajak pergi ke Kali tempat sumber air dan listrik di desa Kuadas. Ternyata saat tiba di rumah, saya waktu itu ditemani oleh Savira dan Ana memanggil Bapak Ulimpa ternyata tidak ada sahutan. Lalu Mega, salah seorang siswa di SD YPK mengatakan bahwa Bapak sudah pergi. Mendengar itu, saya ajak Savira dan Ana pergi ke kali tersebut. Di tengah perjalanan, saya mendapati Bapak Ulimpa dan Mama sedang berada di Sungai. Ada mama yang sedang mencuci pakaian dan bapak Ulimpa sedang mencuci sepeda motor. Menunggu Bapak Ulimpa siap, saya menghabiskan waktu di sana sambil bercengkrama dengan Markus, Savira dan Roes sembari bermain air.

Selanjutnya, kami menuju kali bendungan. Melewati hutan dan mengarungi beberapa anak sungai kami lewati, sehingga sampailah di rumah tempat mesin turbin penggerak listrik berada. Tidak sampai ke tempat bendungan, kami balik ke bawah. Saya dan mama Ulimpa dan Marcus serta Reos pun pulang ke rumah masing-masing.

Setiba di rumah, saya yang sedang berpuasa senin-kamis merasa sangat letih sekali. Saya lakukan istirahat sebentar dan shalat ashar. Pukul 17.00 WIT saya mulai aktifitas memasak. Memasak nasi, menggoreng ikan dna merebus daun kasbi (daun singkong) yang dibawa Ulu dari kebun Mama nya.


Hari ke-9 (Selasa, 1 September 2015):
Hari ini saya ke sekolah mengajar pertama kelas VI SD YPK Bukit Sion Kuadas. Memulai mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, lanjut pelajaran IPA dan belajar KTK. Aku sebenarnya belum banyak memiliki bekal ilmu mengajar SD karena maklum aku bukanlah ex.mahasiswa dari jurusan PGSD. Namun, melalui SM-3T ini tiada pembeda disiplin ilmu. Ketika aku berada di lingkungan ini, aku harus bisa dan berupaya untuk profesional menjadi pendidik siswa/I SD. Bagaimana-pun caranya, karena predikat guru SM-3T sudah dicap sebagai orang yang serba bisa. Tidak hanya dalam hal akademik tapi juga dalam hal non-akademik atau kemasyarakatan (Sosial). Pagi ini kucoba mengajar Bahasa Indonesia, melalui ilmu seadanya dan berpedoman pada buku Bahasa Indonesia SD kelas VI KTSP 2006, ku coba menguraikan materi semampuku. Begitu juga dengan pelajaran IPA. Aku ajak siswa mengamati lingkungan sekitar karena materi pagi ini adalah mengenai tumbuhan. Aku meminta siswa ke luar kelas dan mencatat mana yang termasuk tumbuhan hidup dan tumbuhan mati. Ternyata di antara mereka tidak banyak yang bisa menemukan tumbuhan mati. Lalu aku minta masing-masing mereka menuliskannya ke papan tulis untuk diperiksa.

Selanjutnya, pelajaran KTK. Aku awali dengan apa itu KTK dan pembagian seni. Ada seni drama, seni tari dna musik. Namun, kali ini aku meminta siswa menyanyikan lagu wajib nasional dan lagu daerah Papua. Ada sekitar lima lagu Papua yang mereka nyanyikan yakni lagu Nemol Wana, Pau Maladum, Papuse, Aku Papua dan ada satu lagu di mana aku lupa judulnya. Begitu semangatnya mereka menyanyikan lagu, mesti ada yang masih malu-malu dan tersenyum sambil menyanyikan lagu daerah mutiara hitam Indonesia itu.

Malam harinya, Bapak Wenand Ulimpa datang ke rumah untuk memprint data LPJ Bosda periode Januari-Juni 2015 dan memprint data jemaat GKI (Gereja Kristen Injili) Papua. Perdana juga aku mencatat nama-nama jemaat gereja Bukit Sion Kuadas dan nama-nama Pnt. (Penator) dan Sym. (???). Ternyata, saat mau memprint, tinta habis. Aku isi tinta hitam, tapi tidak bisa bergerak kartrij nya. Aku telepon Icha di kampung Padangpanjang dan aku tanya bagaimana mengatasinya, namun juga tidak bisa. Lalu bapak Ulimpa, memintaku besok harinya untuk memperbaiki sembari membersihkan printer. Maklum di sini satu lembar hitam putih saja harganya Rp.4000,- kata Bapak Ulimpa. Begitu mahalnya…itu-pun masih di pusat Kota Sorong.

Ketika hendak pulang ke rumahnya, Bapak Ulimpa memberiku uang Rp.100.000,- untuk membeli kebutuhan harianku agar dititip sama Bapak Antonius, guru Olahraga yang sering mengantar sang istri mengajar ke SMP  1 Makbon dengan mengendarai Jongson (Perahu) menuju distrik Makbon.

Hari ke-10 (Rabu, 2 September 2015):
Pagi ini agak berbeda daripada biasanyam tubuh terasa lemas, lapar. Padahal sudah sarapan pagi dengan kopi cenkudu dan biskuit sekolah pemberian Bapak Ulimpa. Lalu saat istirahat, aku pergi ke rumah dan langsung makan. Selanjutnya, aku kembali lagi ke sekolah dalam mata pelajaran IPS dan Matematika.

Writer: Hasan Asyhari, S.Pd (Guru SM-3T UNP V, penempatan Kampung Kuadas, Distrik (Kecaamatan) Makbon, Kab. Sorong, Papua Barat.


 Kuadas, Surga Tuhan Jatuh ke Bumi

            Menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah Cenderawasih (Papua Barat) ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga yang tidak akan pernah saya lupakan. Diawali dengan mengikuti serangkaian seleksi nasional dengan mengalahkan 1300 orang (pendaftaran di LPTK UNP) sehingga saya terpilih untuk melaksanakan tugas mulia ini yaitu mendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal dari hasil akhir 258 orang. Selanjutnya, saya mengikuti tahapan tes tulis online di kampus UNP, tes wawancara dan prakondisi indoor di New Rasaki Hotel, By. Pass, Padang (3-11 Agustus 2015) dan prakondisi outdoor (12-17 Agustus 2015) di Bumi Perkemahan ABG, Lubuak Minturun, Koto Tangah, Padang. Alhamdulillah, keberangkatan saya ke Kab. Sorong pada tanggal 21 Agustus 2015, tepatnya hari Jum’at, sehingga saya bisa mempersiapkan diri di kota berhawa sejuk, Padang Panjang.
Selanjutnya, melalui perjalanan yang melelahkan selama 2 hari 1 malam menggunakan kapal besi Garuda Indonesia, kami melewati Bandara Internasional Minangkabau, Padang- Bandara Internasional Soekarno Hatta Bandara  Hasanuddin Makasar- Bandara Domanic Eduard Osok, Kota Sorong.  Akhirnya saya sampai didaerah sasaran yakninya Kabupaten Sorong menggunakan bus sekolah dari Dinas Pendidikan. Kami yang ditempatkan didaerah ini berjumlah 51 orang. Setiba di Pusat Kabupaten tepatnya di distrik (kecamatan) Aimas, kami diinapkan sementara di Gedung LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Kab. Sorong. Beberapa jam kemudian kami dihidangkan nasi bungkus oleh Dinas Pendidikan Kab. Sorong. Setelah itu kami kedatangan guru-guru SD hingga SMA/SMK dan Kepala Dinas Pendidikan serta Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidik. Di saat itulah kami berkumpul dan menerima hasil pengumuman sekolah penempatan (penugasan).
Saya, ditempatkan di SD swasta Bukit Sion, Desa Kuadas, Distrik Makbon, Kab. Sorong, Papua Barat. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dapat mengajar di SD. Senang dnegan anak-anak adalah berkah Sang Maha Kuasa. Walaupun latar belakang ilmu saya bukan dari PGSD. Mudah-mudahan ini merupakan pengalaman baru yang menambah catatan perjalan hidup saya.
Berada di daerah yang baru bagi kita tentunya membuat diri kita banyak bertanya-tanya tantang banyak hal. Namun, Perbedaan sosial budaya tentu saja tidak membuat kita merasa terlalu asing di negeri orang karena masih banyak hal-hal yang membuat kita sama diantaranya latar belakang agama yang sudah terkenal sejak dahulu bahwa Papua Barat adalah wilayah timur yang kabarnya mayoritas dengan pemeluk agama kristen, ombaknya ganas dan macam persepsi lainnya.
Sebelum kita merasakan langsung kondisi masyarakat Papua Barat khususnya, tentunya kita memiliki persepsi yang selama ini beredar di daerah asal melalui berbagai media dan mulut ke mulut, dimana Papua secara umum selama ini dikenal sebagai daerah konflik yang berkepanjangan dan ingin melepaskan diri dari bingkai NKRI. Sehingga yang terbayang pertama kali adalah kita melaksanakan pendidikan untuk anak-anak yang mengalami trauma konflik yang cukup tragis. Terlebih lagi adanya persepsi bahwa orang Papua masih bernostalgia dengan tradisi dan pakaian khas adatnya. Tapi hal tersebut hanya berada di sebagian kecil daerah pedalaman Papua yang masih dianggap ketinggalan bahkan mereka masih bertahan dengan adat leluhur seperti itu karena sudah terbiasa dengan kondisi yang demikian seperti bagi lelaki menggunakan koteka serta bertempat tinggal di rumah panggung honei.
Ketika pertama kali berkenalan di sekolah bersama anak-anak, prasangka yang selama ini ada dalam pikiran semuanya hilang karena saya menemui bahwa anak-anak Papua khususnya Kab. Sorong Papua Barat bukanlah generasi yang terkena dampak langsung dari konflik suku dan agama. Menyatu dengan mereka merupakan pengalaman yang cukup berharga karena saya sebagai orang Minangkabau atau kebanyakan orang Papua bahkan Indonesia masih menyebut orang Padang, mereka posisikan layaknya guru yang datang untuk dekat dengan mereka. Sambutan mereka begitu hangat yang terlihat dari pancaran senyumannya. Seperti tembang lagu Tanah Papua ciptaan Edo Kondolist, bahwa Tanah Papua, Tanah yang Kaya, Surga Kecil Jatuh ke Bumi.
Satu hal yang masih disayangkan anak-anak disekolah ini masih banyak mencampur adukan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Terlebih dalam penggunaan bahasa di ruang belajar, kadang dalam penulisan bahasa masih sering dijumpai bahasa daerah yang mereka tulis, walaupun bahasa daerah Papua hampir mirip dengan bahasa Indonesia yang dibaca dna ditulis singkat seperti saya dibaca sa, punya dibaca pu. Itu sedikit merupakan suatu tantangan tersendiri buat saya untuk mendidik anak-anak tersebut. Untuk memudahkan saya bersosialisasi dengan masyarakat disekitar sekolah maka saya mencoba selalu bersosialisasi dan mencoba mencatat bahasa mereka dan kadang ditiru dalam percakapan sehari-hari di lingkungan mereka. Masyarakat disekitar sangat terbuka dan menerima kedatangan saya, hal ini dirasakan karena sering diberi buah-buahan dan makanan oleh mereka. Terlebih jika ada acara besar mereka. Masyarakat di desa atau kampung Kuadas tempat saya ditugaskan ini sering mengadakan kegiatan syukuran seperti syukuran ulang tahun, syukuran SIDI dan syukuran lainnya. 
            Sekitar lebih kurang enam bulan saya di sini, saya perhatikan bahwa masyarakat kampung Kuadas khususnya sangat toleransi dalam beragama dan suka memberi. Sehingga memberi kekuatan bagi saya pribadi untuk bertahan di tempat tugas ini hingga saat ini.
Berbicara tentang sekolah penempatan saya, yang berada di tepi pantai dan hutan gundul dna hutan rimba Papua. Sekolah penempatan saya adalah SD YPK Bukit Sion Kuadas, Distrik Makbon, Kab. Sorong, Papua Barat. Sekolah penempatan saya merupakan sekolah swasta di bawah Yayasan Pendidikan Kristen. Sekolah ini berada di sepanjang pesisir pantai Kuadas, dengan jumlah ruang belajar tiga kelas yakni kelas 1,2,3 (ruang belajarl 1), kelas 4 dan 5 (ruang belajar 2) dan kelas 6 (ruang belajar 3). Serta satu ruang tamu, satu ruang Kepala Sekolah, satu ruang guru sekaligus pustaka dan dapur sekolah.
Sekolah penempatan saya ini terdiri atas 9 orang guru (4 PNS, 4 Honor dan 1 SM-3T). Tetapi yang aktif cuma 4 orang guru PNS dan 2 orang guru honor termasuk saya satu orang guru SM-3T. di sana tidak ada petugas TU bagian administrasi sekolah, sehingga Kepala sekolah merangkap sebagai TU administrasi sekolah. Saya juga sering dilibatkan dalam membantu Kepala Sekolah mempersiapkan segala hal menyangkut administrasi sekolah. Jika dilihat jarak sekolah dengan kota Sorong sekitar 2 jam. Bisa ditempuh dengan taksi kampung atau L200. Sekolah tersebut masuk kategori sekolah pinggiran kota, karena akses tranportasi, akes listrik dan air serta sinyal seluler ada. Walaupun di tengah perjalanan, kondisi jalan cukup memprihatinkan. Kondisi jalan berlubang  dan banyak berbatu cadas membuat kendaraan cukup kesulitan melewatinya. Sementara saya bertempat tinggal di dalam lingkungan sekolah, tepatnya di rumah dinas yang kedua. Jumlah siswa aslinya sekitar 27-an, namun di dapodik tercatat 79 orang siswa. 
Proses belajar dan mengajar di SD tempat saya bertugas biasanya mengikuti kalender Pendidikan dan kalender Yayasan Pendidikan Kristen yang bersumber dari klasis Sorong. Di sekolah ini menggunakan Kurikulum KTSP (2006). Dalam PBM yang menjadi kendala adalah jumlah buku teks pelajaran yang tidak memadai, hanya ada satu teks buku pelajaran yang saya pegang. Jadi, saya lebih banyak mencatat dan menerangkan pelajaran. Agar siswa juga bisa membaca saat di rumah ataupun menghadapi ulangan harian atau semesteran. Kendala lain, siswa masih sering menulis menggunakan bahasa daerahnya ketika mencatat apa yang ditulis di papan tulis ataupun  membuat tugas yang diberikan kepada mereka.
Siswa cukup bersemangat belajar, walaupun kadang ada juga yang malas-malasan ke sekolah. Tapi kondisi itu disebabkan karena perpanjangan masa liburan semester. Sebagian siswa ada yang cepat menangkap pelajaran dan ada pula yang kurang cepat menangkap pelajaran. Sementara guru cukup bersahabat dan saling membantu dalam pelaksanaan PBM misalnya ada guru yang tidak hadir, guru yang hadir menggantikannya. Beberapa orang guru PNS cukup malas-malasan hadir di sekolah dengan berbagai alasan. Sedangkan, masyarakat sendiri cukuo baik dan menghormati keberadaan saya dan guru-guru lain di sini.
Hal yang membuat saya mengesankan adalah ketika siswa datang ke rumah menanyai kehadiran saya ke sekolah, karena waktu itu saya terlambat datang ke sekolah. Serta siswa-siswa di pinggiran kota juga tertarik untuk belajar outdoor (luar ruangan) dan senang jika pembelajaran dilakukan dengan beragam metode pembelajaran seperti saya  melakukan metode eksperimen dalam pelajaran IPA, siswa-siswa pun senang dan malahan ingin mencoba itu selalu. Di samping itu ilmu-ilmu selama prakondisi dan pengalaman organisasi dan hobi saya terapkan di tempat tugas. Sehingga sangat mendukung PBM itu sendiri.
 Demikian testimoni singkat saya di tempat penugasan saya yang hamper memasuki 6 bulan di sini. Terima kasih. Salam MBMI V! (Writer: Hasan Asyhari, S.Pd, Guru SM-3T angkatan V asal LPTK UNP penempatan Kampung Kuadas, Distrik Makbon, Kab. Soorng, Papua Barat)

Selasa, 07 April 2015



Akademik VS Organisator

Menjadi mahasiswa ideal agaknya selalu menarik untuk diperbincangkan. Dalam konteks akademik, mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap almamaternya maupun terhadap diri sendiri dan orang tua agar kuliahnya menghasilkan predikat memuaskan dan tepat waktu.
Tapi, di sisi lain mahasiswa mempunyai label ”agent social of change” yang juga tak kalah penting mereka lakukan. Kondisi ini masuk pada ranah kedudukan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan predikat ini sudah mengakar pada masyarakat umum bahwa mahasiswa merupakan garda terdepan dalam menatap perubahan masa depan bangsa.
Masyarakat memandang mahasiswa itu bisa segala-galanya, baik dalam persoalan keilmuan maupun dalam urusan sosial. Dengan demikian ketika mahasiswa menjadi sarjana, mereka harus mampu merespon sekian persolan sosial yang terjadi di sekitar lingkungannya. Sementara, pada tataran tanggung jawab akademik mahasiswa dihadapkan pada kehidupan masa depan mereka. Selesai kuliah, bekerja atau menambah daftar pengangguran terdidik? Artinya, pada wilayah ini mahasiswa bersentuhan yang namanya dunia kerja. Bicara dunia kerja terkait dengan kemampuan akademik dan IPK.
Bagi mahasiswa yang memiliki kesadaran sosial (social awareness), paradigma yang dibangun adalah selain belajar juga diimbangi (balance) dengan kegiatan sosial, dengan harapan mereka dapat melaksanakan label yang selama ini dimiliki mahasiswa, yaitu sebagai agen perubahan sosial. Pada konteks ini mahasiswa dihadapkan problem benturan aturan akademik yang mengekang kreativitas mahasiswa.
Dari dua dimensi tanggung jawab itulah, kemudian melahirkan beberapa tipikal mahasiswa. Pertama, Mahasiswa akademik ansich. Mahasiswa model ini biasanya rajin ke kampus. Ada yang menyebutnya mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), mahasiswa segi tiga K (Kuliah, Kantin, dan Kos). Datang tepat waktu, semua tugas dikerjakan, catatan lengkap, dan manut pada dosen. biasanya diakhir semester menjadi incaran banyak mahasiswa untuk sekedar memfotokopi bahan kuliah dan dijadikan mitra menjawab soal UAS. Mahasiswa berkarakter tadi masih termasuk mahasiswa tipe pertama yang sering disebut mahasiswa anak dosen, karena tipe mahasiswa seperti itu biasanya diambil menjadi asisten dosen, selesai melanjutkan akademik, kemudian menjadi dosen.
Masih dalam tipe pertama, mahasiswa model ini cenderung terjebak pada ranah formalitas dan menganggap bahwa ruang kuliah, sebut saja dosen merupakan medium satu-satunya sumber ilmu. Kehidupan di kampus sebatas ajang bergaul dengan teman-teman satu kelas, karena tidak mengikuti kegiatan apapun di kampus, kecuali kuliah. Mind-set yang dibangun pun bersifat datar (pada umumnya), yaitu IPK coumlade, kuliah tepat waktu, lulus jadi PNS misalnya.
Padahal, kehidupan setelah kuliah tidak semudah dibayangkan. Fakta mengatakan, seringkali mahasiswa tipe pertama ini gagal ketika berhadapan pada persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Padahal mahasiswa mempunyai tanggung jawab sosial, selesai kuliah diharapkan bisa membangun kampung-nya, pada level lebih besar membangun provinsi, agama dan negaranya. Begitu juga dalam dunia kerja, ketika ia gagal dalam persaingan sesuai jurusannya, otomatis menjadi pengangguran terbuka, karena tidak mempunyai skill yang lain (monotonous capability).
Kecendrungan negatif adalah gengsi bekerja kalau itu bukan bidangnya, lebih baik nganggur dari pada menahan malu. Hal itu terjadi, karena paradigma yang terbentuk adalah pada orientasi (orientation) bukan kesadaran (awareness). Kesadaran dalam artian, mampu membaca peluang, kuliah tidak semata jalan mencari pekerjaan, memberikan kontribusi pada masyarakat (social responsebility), bekerja apapun (entrepreneur) yang penting bermanfaat dan positif.
Kedua, Mahasiswa aktivis kampus atau sering juga disebut organisator. Tipekal mahasiswa ini memiliki kesadaran sosial bahwa label mahasiswa tidak hanya mempunyai tugas akademik, tapi ada tugas sosial. Satu sisi ada persoalan lain kesadaran yang dibangun kebablasan. Segudang agenda kegiatannya dalam berorganisasi terkadang melupakan tugas utamanya, yaitu kuliah. Ia tidak bisa lagi me-menej dri antara aktifitas organisasi dna kuliah (akademik). Mahasiswa aktivis kampus seperti inilah yang membedakan dengan mahasiswa aktivis angkatan para founding fathers kita. Mereka aktivis, tapi tetap fokus pada akademik-nya.
Sebut saja Bung Karno, ranah akademik-nya melahirkan Insinyur Teknik, Hatta kemampuan dalam bidang ekonomi tidak bisa diragukan lagi, dan Syahrir kapasitas dalam diplomasi, membuatnya sering mewakili Indonesia dalam pertemuan Internasional. Mereka adalah orang-orang yang getol dalam kegiatan sosial demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, akan tapi tidak meninggalkan dunia akademiknya.
Kedua tipikal mahasiswa di atas setidaknya menjadi gambaran bagi mahasiswa era kini, mana yang menjadi nilai plus dan mana yang akan menghambat prospek kesuksesan ke depannya. Menjadi sang organisator yang lihai dalam akademik akan mempermudah jalan hidup untuk menuju gerbang pasca kampus. Akademik Yes, Organisasi Ok! Salam mahasiswa sukses! (Hasan Asyhari, pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia)