Senin, 02 April 2012

“Masalah Hubungan Suku Bangsa dan Upaya Penanggulangannya”

A.    Identitas (Jati Diri) Suku Bangsa
            Identitas suku bangsa terkait dengan jati diri suku bangsa. Jati diri suku bangsa adalah pengenalan atau pengakuan terhadap seseorang termasuk sebagai dalam Suatu golongan, berdasar atas ciri-ciri tertentu yang bulat dan menyeluruh.
Ciri – ciri suku bangsa:
·          Sebuah satuan hidup yang secara biologi mampu berkembang biak dan lestari
·         Mempunyai kebudayaan, pranata yg merupakan pedoman bagi kehidupan mereka. Masing-masing Suku bangsa berbeda dengan yang lain.
·         Keanggotaan bersifat ASKRIPTIF . Keanggotaan yang didapat secara otomatis, berdasar atas asal usul kelahirannya.
·         Keberadaan suku bangsa ini exis karena ada interaksi dengan engaruhi keberadaan sebuah suku bangsa.
·         Pembedaan yang lebih pokok antara Suku Bangsa / Golongan yang satu dengan yang lain adalah cirri-cirinya yang Askriptif.
Ada beberapa hal yang dapat membedakan suku bangsa:
§   Pengakuan masing-masing dua Suku Bangsa yang berbeda mengenai Identitas, atau jatidiri Suku Bangsa mereka.
§   Bahasa yg mereka gunakan.
§   Kebudayaan atau ungkapan Estetika yang mereka anggap sebagai milik mereka.

B.     Stereotip, Atribut dan Hubungan Antar Suku Bangsa
1.Stereotip
 Adalah pengetahuan mengenai apa dan siapa serta mengapa yang merupakan pengetahuan yang dimiliki oleh golongan sosial yang berisi tentang ciri-ciri utama yang dipunyai oleh golongan-golongan sosial yang lainnya. Pengetahuan tentang budaya tergantung dari pemilik budaya itu sendiri (Subyektif) menurut kebudayaan pembuat stereotip.
Sebuah stereotip mengenai suku bangsa itu muncul dari pengalaman seseorang atau sejumlah orang yang menjadi anggota sebuah suku bangsa dalam berhubungan dengan para pelaku dari sesuatu suku bangsa tersebut. 
2. Atribut Suku Bangsa
·         Jati Diri
Adalah pengenalan pengenalan atau pengakuan terhadap seseorang termasuk sebagai dalam Suatu golongan, berdasar atas ciri-ciri tertentu yang bulat dan menyeluruh.
Contoh: Tentara atau TNI mempunyaio cirri-ciri, yang cirri-ciri tersebut merupakan sebuah satuan yang bulat dan menyeluruh yang menyebabkan seseorang dengan cirri-ciri tersebut digolongkan sebagai tentara atau TNI.
Identitas atau jati diri itu muuncul dalam interaksi. Interaksi adalah kenyataan empiric yang berupa antar tindakan para pelaku yang menandakan adanya hubungan diantara para pelaku tersebut.
·         Atribut Jatidiri
Atribut adalah segala sesuatu yang terseleksi, baik disengaja maupun tidak untuk kegunaannya bagi mengenali identitas atau jatidiri seseorang atau suatu gejala.
Atribut ini berupa ciri-ciri yang menyolok dari benda atau tubuh orang, sifat-sifat seseorang, pola-pola tindakan atau bahasa yang digunakan
3. Hubungan antar suku bangsa
Suku bangsa sebagai golongan askriptif yaitu golongan yang dihasilkan dari ciri-cirinya berdasarkan keturunan dan asal telah menghasilkan satuan kehidupan terkecil. Satuan kehidupan terkecil ini adalah keluarga yang menjadi pondasi terbentuknya masyarakat.
Keluarga yang merupakan sebuah satuan kehidupan yang terkecil dalam masyarakat adalah juga sebuah kelompok suku bangsa yang terkecil. Keluarga yang suku bangsanya campuran akan menghasilkan kekacauan dalam jati diri anak mereka. Anak tersebut dapat mengidentifikasikan kekacauan diri sebagai suku bangsa bapak,ibu atau keduanya atau menapikan kedua identitas suku bangsa kedua orang tuanya dan menggunakan lingkungan mereka hidup dan dibesarkan sebagai acuan dari jati diri mereka.
Hubungan antar suku bangsa terwujud melalui hubungan-hubungan yang dilakukan oleh para pelaku yang menjadi warga dari suku bangsa-suku bangsa yang berbeda. Suku bangsa tersebut biasanya saling hidup bertetangga atau secara bersama membentuk terwujudnya sebuah masyarakat yang luas dari pada masing-masing masyarakat suku bangsanya.
Kalimantan barat misalnya, adalah sebuah masyarakat yang mencakup sejumlah suku bangsa yang masing-masing suku bangsa tersebut mewujudkan dirinya dalam sebuah masyarakat suku bangsa yang berbeda dengan yang lainnya. Satuan kehidupan yang terkecil yang dipunyai oleh seorang warga suku bangsa adalah keluarganya dan kelompok kerabatnya.
Dalam hubungan antar suku bangsa masing-masing suku bangsa menciptakan dan memantapkan batas-batas sosial dan budaya, batas-batas suku bangsa artinya berdasarkan atas batas suku bangsa tersebut mereka membedakan diri sebagai saya dari dia yang berbeda, dan menggolongkan sejumlah orang yang tergolong bukan dari suku bangsa yang sama.
Dalam hubungan diantara warga yang berbeda suku bangsanya, yang terjalin sebagai hubungan yang saling menguntungkan, mereka telah membuat jembatan penghubung diatas batas-batas suku bangsa tersebut. jembatan ini berupa hubungan pribadi yang terwujud sebagai persahabatan ataupun perkawinan atau terwujud sebagai hubungan sosial,hubungan kerja, ekonomi,dan hubungan politik.
Dalam kasus hubungan perkawinan antar anggota suku bangsa yang berbeda, masing-masing pelaku dari pasangan suami istri tersebut tetap mempertahankan jati diri atau identitas bangsanya dan begitu juga dalam kasus persahabatan atau pengangkatan saudara, masing-masing pelaku tetap mempertahankan kesuku bangsaannya. Kesukubangsaan dari sipelaku lainnya itu secara implicit adalah sama dengan golongan suku bangsanya, walaupun secara exsplisit bukan golongan suku bangsanya.
C.    Masalah Hubungan Antar Suku Bangsa
1.      Mayoritas-Minoritas
·         Mayoritas adalah sesuatu golongan social dengan jumlah populasi yang besar dibandingkan dengan minoritas atau sesuatu golongan social lainnya yang kecil jumlah populasinya.
·         Minoritas adalah sebuah golongan social yang lemah kekuatan sosialnya, mencakup cirri-ciri golongan social lainnya yang lemah muatan kekuatan sosialnya.
2.      Superior-Inferior
Masalah ini terlihat ketika dominasi suatu sukubangsa dalam bidang-bidang tertentu baik itu ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya. Jelas, sukubangsa superior akan menguasai sukubangsa inferior atas penguasaan bidang-bidang tertentu
3.      Pusat Pinggiran
Hal ini berhubungan dengan kondisi geografis tempat di mana masyarakat tinggal yang menjadi pendukung sukubangsa. Masyarakat (sukubangsa) yang tinggal di daerah atau terpusat pada kawasan pinggiran akan mendapat perhatian yang kurang dan sentuhan pembangunan yang tidak terlalu diutamakan dibandingkan dengan daerah kota atau pusat kota.

Sumber Rujukan:
Suparlan, Parsudi. 2005. Hubungan Antar Suku Bangsa. Jakarta: YPTK.

0 komentar:

Poskan Komentar