Minggu, 29 April 2012

Penelitian Sederhana


Peran Serta Masyarakat Terhadap Panorama (Lobang Jepang) Bukittinggi”
(Pariwisata Berkelanjutan)

Oleh:
Hasan Asyhari,dkk.

Abstrak

Pariwisata adalah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan. Jika semua kegiatan itu tidak mendatangkan wisatawan, maka semua kegiatan itu dianggap gagal. Pariwisata merupakan salah satu asset atau devisa bagi sebuah Negara setelah minyak dan gas, tidak terkecuali juga bagi daerah-daerah yang memiliki potensi alam yang menonjol yang dapat dijadikan sebagai daerah objek wisata, seperti Bukittinggi yang menyimpan banyak keindahan alam yang telah banyak dikelola sedemikian rupa sehingga dijadikan sebagai objek wisata. Lobang Jepang adalah salah satu objek wisata yang terkenal di Bukittinggi, disamping Ngarai Sianaok dan Panorama alamnya. Pengelolaan dan perkembangan objek wisata ini tidak terlepas dari campur tangan atau keterlibatan masyarakat yang juga sangat berperan.
Kata Kunci: Pariwisata, Peran, Wisatawan, Lobang Jepang.

A.Latar Belakang
Pariwisata merupakan salah satu asset atau devisa bagi sebuah Negara setelah minyak dan gas, tidak terkecuali juga bagi daerah-daerah yang memiliki potensi alam yang menonjol yang dapat dijadikan sebagai daerah objek wisata, seperti Bukittinggi yang menyimpan banyak keindahan alam yang telah banyak dikelola sedemikian rupa sehingga dijadikan sebagai objek wisata. Lobang Jepang adalah salah satu objek wisata yang terkenal di Bukittinggi, disamping Ngarai Sianaok dan Panorama alamnya. Pengelolaan dan perkembangan objek wisata ini tidak terlepas dari campur tangan atau keterlibatan masyarakat yang juga sangat berperan.
Masyarakat sebagai komponen utama dalam pembangunan pariwisata berbasis masyarakat mempunyai peranan penting dalam menunjang pembangunan pariwisata daerah yang ditujukan untuk mengembangkan potensi lokal yang bersumber dari alam, sosial budaya ataupun ekonomi masyarakat. UU No 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan menyatakan bahwa masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan. Peran serta masyarakat dalam memelihara sumber daya alam dan budaya yang dimiliki merupakan andil yang besar dan berpotensi menjadi daya tarik wisata.
Hal yang melatarbelakangi dalam mengangkat tema ini adalah karena banyak objek wisata yang ada di Kota Indonesia ini dikelola atas kerja sama antara Dinas Pariwisata dan lembaga terkait tak terkecuali juga kerja samanya dengan masyarakat baik masyarakat lokal ataupun agen-agen yang berpengaruh bagi perkembangan dan pengelolaan objek wisata. Pengelolaan objek wisata Panorama (Lobang Jepang) juga tak terlepas dari peran serta masyarakat dan keterlibatan mereka baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pengelolaan dan sejauh mana masyarakat berperan dalam rangka mengembangkan objek wisata yang nanti akan terlihat implikasinya dalam dunia kepariwisataan.
B. Deskripsi Lokasi
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera, dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Singgalang, Gunung Marapi dan Gunung Sago, serta berada pada ketinggian 909 – 941 meter di atas permukaan laut. Kota ini juga berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1 – 24.9 °C. Sementara dari total luas wilayah kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82.8% telah diperuntukan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan ini, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan dan sebagainya. Sementara terdapat lembah yang dikenal juga dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75 - 110 m, yang didasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang yang bermuara di pantai barat pulau Sumatera.
Pembangunan kepariwisataan merupakan salah satu sektor andalan bagi kota Bukittinggi, banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki juga sebagai "kota wisata". Saat ini di kota Bukittinggi telah terdapat sekitar 60 hotel dan 15 biro perjalanan. Hotel-hotel yang terdapat di kota Bukittinggi antara lain The Hills (sebelumnya Novotel), Hotel Pusako dan sebagainya.
Lembah Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut sebagai LobangHYPERLINK "http://id.wikipedia.org/wiki/Lubang_Jepang_Bukittinggi" Jepang Bukittinggi.
C. Sejarah Lobang Jepang
Lobang Jepang adalah sebuah terowongan bawah tanah yang dibangun untuk kepentingan militer Jepang pada masa Perang Dunia II atas perintah Pemerintahan Militer Angkatan Darat Jepang untuk wilayah Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi di bawah komando Jendral Watanabe. Lobang Jepang didirikan tahun 1942-1945, oleh penduduk-penduduk sekitar yang dipekejakan secara paksa oleh serdadu Jepang. Untuk melakukan pembangunan tentara jepang memanfaatkan tenaga masyarakat Indonesia yang didatangkan dari beberapa daerah luar sumatera, seperti: Sulawesi, Kalimantan, dan jawa. Lobang jepang ditemukan masyarakat pada tahun 1946 dengan kondisi yang sangat mencekam. Banyak tulang belulang manusia yang berserakan dilantai sepanjang lorong terowongan.
Untuk masuk ke dalam lorong lobang Jepang, terlebih dahulu harus menuruni 132 anak tangga yang mempunyai kemiringan cukup vertikal. Tangga semen ini dibagi menjadi dua jalur yang dibatasi dengan stainless steel, sehingga terasa lebih nyaman untuk dituruni. Satu sisi ditujukan buat pengunjung yang ingin masuk ke dalam dasar terowongan Lobang Jepang. Sementara sisi lainnya merupakan tangga keluar terowongan. Kedalaman lobang diperkirakan sekitar 40 m dari permukaan tanah. Sedangkan panjangnya  lebih kurang 1.470 m. Lorong di dalam terowongan lebarnya sekitar 2 m.
Suasana di dalam lobang cukup terang karena telah dilengkapi dengan penerangan listrik yang cukup memadai. Dinding-dinding terowongan juga tidak terlihat suram karena telah dilapisi oleh semen; bahkan sebagian lantainya telah dipasang paving block. Dinding batunya bersekat-sekat yang dulu bertujuan untuk meredam suara agar tidak terdengar keluar.Guratan pukulan paksa dengan benda agak tajam pun masih terekam di sejumlah dinding nya, konon oleh Jepang para romusha dipasksa menembus bebatuan ngarai sianok hanya dengan cangkul dan benda tajam lainnnya. 
D. Peran Serta Masyarakat Terhadap Panorama (Lobang Jepang) Bukittinggi
Berdasarkan studi yang pernah dilakukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2003, diperoleh kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengembangan daerah tujuan wisata (DTW) di Indonesia masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan karena tidak adanya ketentuan yang jelas dan rinci tentang pelibatan masyarakat dalam pengembangan DTW. Sejauh ini, kebijakan tentang peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata, termasuk pariwisata budaya, hanya berisi himbauan agar masyarakat diikutsertakan dalam upaya pengembangan tersebut tanpa adanya penjelasan persyaratan, tata cara, dan tahap-tahap pelaksanaannya.
Selanjutnya, disebutkan juga bahwa hambatan dan keterbatasan utama yang dihadapi untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan daerah tujuan wisata adalah tradisi politik dan budaya Indonesia yang kurang mendukung, kondisi perekonomian yang kurang baik, kurangnya keahlian di bidang kepariwisataan, kurangnya saling pengertian antara pihak-pihak yang terlibat, kualitas sumber daya manusia yang rendah, dan keterbatasan modal masyarakat. Adapun faktor-faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan suatu program pelibatan masyarakat dalam pengembangan DTW adalah: dialog dengan umpan balik dari masyarakat, kejujuran dan keterbukaan, pelibatan dari awal, dan komitmen terhadap masyarakat. (Ratna Suranti: 2005 dalam http://wisatadanbudaya.blogspot.com.
Pengelolaan Panorama Lobang Jepang tidak terlepas dari peran serta masyarakat, khususnya masyarakat lokal atau yang sering dikenal dengan host. Dibawah pengawasan Dinas Pariwisata, pembangunan dan pengelolaan pariwisata panorama ini juga menjadi bagian penting dalam masyarakat di sekitar areal parwisata. Pihak-pihak pengelola juga sebagian besar adalah masyarakat sekitar yang menjadikan lokasi ini sebagai tempat mereka mendapatkan penghasilan. Umumnya masyarakat berperan sebagai guide atau sebagai pedagang, namun tetap dikoordinir oleh pengelola yang telah diutus oleh dinas pariwisata yang sering disebut sebagai petugas lapangan.
Masyarakat DTW setidaknya harus mampu berbicara bahasa inggris, setidaknya untuk percakapan sehari-hari. Itulah yang disampaikan oleh Roni, masyarakat sekitar atau setidaknya petugas-petugas yang akan berinteraksi dengan wisatawan asing. Peran masyarakat dalam mempromosikan wisata daerah sangat dibutuhkan karena pihak dinas pariwisata biasanya hanya mempromosikan wisata melalui brosur dan untuk penyebarannya belum terlaksana dengan baik. Namun peran lain dari masyarakat adalah sebagai informan ketika ada stasiun TV lokal yang datang dan mencari informasi tentang wisata tersebut.
Petugas lapangan di kawasan lobang Jepang Bukittinggi adalah salah satu perpanjangan tangan dinas pariwisata yang akan mengontrol pengelolaan panorama. Menurut Roni Chaniago (54 tahun) seorang petugas lapangan, pengelolaan panorama dahulunya dikelola oleh pihak swasta yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Pak Etek Marano. Pengelolaan areal ini didasari oleh kepemilikan tanah, menurut masyarakat setempat tanah panorama tersebut sebagian besarnya adalah milik pihak swasta tersebut. Kemudian,  tahun 1986 barulah areal  ini dikelola oleh pemerintah dan di sahkan sebagai objek wisata oleh menteri pariwisata saat itu, Fuad hasan.
Setelah disahkan sebagai daerah tujuan wisata (DTW), bantuan dari luar negeripun mengalir. Seperti halnya bantuan dari negara jepang, yang dahulunya adalah pihak yang telah membuat lobang jepang tersebut sebagai area pertahanan pada Perang Dunia II. Negara jepang membantu perenovasian lobang Jepang tersebut dalam pembelian semen untuk dinding-dinding lobang Jepang tersebut. Namun, Randy seorang guide di lokasi pariwisata lobang jepang tersebut menuturkan:
Bantuan dari negara jepang tersebut hanyalah kedok untuk menutupi kekejaman mereka dahulu ketika memperkerjakan masyarakat Indonesia sebagai romhusa. Dinding-dinding  yang terbuar dari tanah adas tersebut menyisakan bekas-bekas pahatan senjata yang digunakan para romhusa dalam membuat lobang pertahanan tersebut. Jadi ketika dinding tersebut ditutupi oleh semen maka lukisan dari dinding lobang akan tertutupi”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Peran guide sangatlah dibutuhkan dalam pariwisata yang melibatkan sejarah di dalamnya. Pemerintah melakukan pembinaan kepada masyarakat sekitar khususnya pemuda yang mendaftarkan diri untuk menjadi seorang guide. Menurut Anggi (18) salah seorang guide,
“Dinas pariwisata telah membina para calon pemandu sebelum mereka diturunkan kelapangan. Namun, guide dilokasi ini sangat berbeda dari guide dilokasi lain. Kami sama sekali tidak digaji, pendapatan kami hanya tergantung dari tips yang diberikan wisatawan dan juga tergantung dari jumlah wisatawan yang mengggunakan jasa kami. Hal ini berbanding terbalik dengan guide lain yang bekerja di daerah Sijunjung maupun Sawah Lunto yang mendapatkan perhatian dari pihak pengelola dan dinas pariwisata setempat”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Sama halnya dengan anggi, Randy (25) yang juga seorang guide juga menyatakan hal serupa. Padahal ada sekitar 20 orang pemandu yang sekarang ini bekerja di area wisata itu. Maka sistem tenggang rasalah yang mereka gunakan untuk saling berbagi klien sehingga pendapatan mereka tidak hanya terpusat pada beberapa orang guide saja. Setidanya menurut  Randy, ia  hanya menjadikan profesi guide ini sebagai pekerjaan sampingan di hari-hari wisata seperti sabtu, minggu atau hari libur lainnya.
            Dilokasi wisata ini juga ditemukan lokasi untuk wisatawan berbelanja sovenir khas daerah Bukittinggi. Menurut seorang pedagang lukisan, Iskandar (61), di izinkannya para  pedagang berjualan dekat panorama tersebut yang berlokasi dekat dengan pemakaman umum adalah salah satu strategi pemerintah untuk menutupi pemandangan kuburan di daerah pariwisa tersebut. Areal pertokoan juga merupakan tanah dari masyarakat dan tidak pernah di permasalahkan oleh pemerintah. Namun pada tahun 1989-1990 pernah pemerintah tidak mengizinkan para pedagang berjualan dilokasi pariwisata tersebut. Namun setelah itu pemerintah mengizinkannya, apa lagi banyak wisatawan yang juga membeli. Seperti kutipan Pak Iskandar (61) sebagai berikut:
“Dulu memang pernah pedagang tidak diizinkan berjualan diareal ini. Namun seiring perkembangan dan jumah wisatawan yang meningkat para pedagang juga menjadi salah satu penarik tersendiri bagi masyarakat. Seperti waktu pak SBY datang, pak SBY justru berbelanja dan juga membeli lukisan bapak. Atau ketika wisatawan yang berbelanja, apalagi kalau wisatawan mancanegara. Mereka sangat senang melihat hasil karya yang  sangat menarik ini”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Salah satu tujuan para wisatawan adalah berbelanja souvenir asli daerah Bukittingi. Misalnya lukisan jam gadang atau kaos-kaos yang berlabelkan Kota Bukittinggi atau Adat Minang secara keseluruhan. Dan wisatawan mancanegara juga membawa keuntungan yang variatif bagi pedagang, khususnya pedagang lukisan. Menurut Iskandar,
“Kalau yang beli lukisan bapak masyarakat sekitar atau wisatawan lokal, ya bapak jual harga standar. Namun, jika yang berbelanja adalah wisatawan luar, ya bapak naikkan harganya. Misal yang biasa bapak jual Rp. 10.000, ya kalau sama turis dijual Rp. 20.000 sampe Rp.50.000. Namun tidak dalam mata uang Indonesia”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Selain itu pedagang yang berjualan di daerah wisatawan, minimal mengetahui harga jual barang mereka dalam mata uang Negara lain. Karena menurut iskandar,
“Tidak mungkin atau aneh rasanya ketika ada turis yang berbelanja barang dagangan kita lalu kita sebutkan harga dalam rupiahnya, mereka kan tidak tahu dan mereka akan terkejut jika ketika kita menyebut angka Rp.10.000, mereka akan terkejut karena terlalu besar jumlahnya. Jadi kalau menjual kepada mereka bapak menggunakan mata uang mereka misal uero. Jadi mereka lebih tertarik karena bapak bisa bilang satu lukisan satu euro”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Dengan adanya penekanan harga seperti ini, maka para pedagang lukisan dan lainnya telah ikut andil dan berperan aktif dalam pembangunan ekonomi masyarakat, baik dalam skala mikro maupun makro.
Selain itu, dari sudut pengunjung, pariwisata panorama (Lobang Jepang) merupakan lokasi yang sering didatangi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Menurut petugas lapangan Roni Chaniago (54 tahun), pengunjung di panorama ini, baik itu hanya sekedar melihat pemandangan atau masuk ke lobang jepang telah mencapai batas dari standar yang ditentuan atau target yang dimiliki dinas pariwisata setempat. Sementara pengunjung menilai bahwa jika perbaikan atau renovasi yang bertujuan untuk kenyamanan wisatawan hendaknya renovasi tersebut tidak menghilangan keaslian dari peninggalan sejarah tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Yeti (40), sorang guru di salah satu SMA Negeri Padang,
“Renovasi lobang jepang sebenarnya cukup bagus, karena kalau hanya mengandalkan lobang seukuran tentara jepang dulu jelas mebuat malas pengunjung datang kesana karena ketidaknyamanan, belum lagi kalau penerangannya masih berupa lampu minyak, jelas itu membuat orang enggan datang karena suasana yang mencekam. Tapi kalau dilihat hasilnya sekarang semen yang menutupi dinding lobang malah membuat hilang guratan-guratan yang menjadi bukti bisu kekejaman jepang. kalau bisa biar ketinggiannya saja yang diperbaikai untuk dindingnya tidak usah”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Sementara jika dilihat dari tingkat kebersihan dan keamanan dari panorama ini ada dua versi yang berlainan menurut pandangan petugas lapangan dan pedagang souvenir. Menurut Heru (40) seorang pengunjug asal Surabaya,
“Saya kesini bersama dengan keluarga saya, dengan tujuan untuk melihat panorama, karena kawasan ini cukup asri dan juga keamanannya terjaga meski kebersihan sedikit kurang mengenakkan pandangan mata. Jadi yang perlu ditekankan oleh para petugas kebersihan dan masyarakat sendiri adalah bisa menjaga kebersihan lingkungan agar lingkungan tetap asri”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Sementara menurut petugas lapangan Roni, petugas kebersihan telah membersihkan area panorama pada pagi hari dan sore hari secara maksimal. Meski jumlah petugas kebersihan hanya sekitar enam orang. Malahan pernah dilakukan kegiatan gotong-royong yang melibatkan masyarakat setempat dalam membersihkan objek pariwisata tersebut. Sebaliknya, menurut salah seorang pedagang souvenir, Iskandar, setiap pagi para pedagang harus membersihkan lingkungan pertokoan mereka karena tidak ada petugas kebersihan yang membersihkan di area itu. Padahal menurut Iskandar, area pertokoan juga masuk kearea panorama.
Jadi, petugas kebersihan tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan demi menjaga kebersihan  kawasan wisata para pedagang membersihkan rumput-rumput liar yang mulai tumbuh sekitar lokasi mereka berdagang. Selain kebersihan, keamanan lokasi pariwisata sangat diperlukan. Karena berdasarkan observasi lokasi ini sama sekali tidak ada security atau petugas keamanan. Hal ini didukung oleh hasil wawancara dengan petugas lapangan pengelola wisata panorama dan penjaga loket lobang jepang yang mengatakan,
“tidak ada petugas keamanan dipekerjaan. Beberapa waktu yang lalu memang ada. Namun, petugas keamanan tersebut sekarang telah naik pangkat menjadi Satpol PP. sehingga sampai sekarag tidak ada lagi petugs keamanan. Lagian disini aman kok, meski ada binatang hutan yang berkeliaran (monyet) namun jika muncul korban akibat gigitan binatang tersebut maka akan ada asuransi dari pengelola wisata tersebut, dalam hal ini petugas lapangan”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Namun terlepas dari itu semua, masyarakat sangat antusias sekali dalam kemajuan lobang jepang tersebut, terutama dalam segi keamanannya. Masyarakat memberikan kontribusi penjagaan secara langsung maupun tidak langsung. Seperti terlihat pada jalan bagian paling belakang, orang-orang yang sembarangan masuk dari jalan tersebut, akan ditegur dan malahan jika mereka melawan akan diteriaki maling.  Sehingga banyak orang yang berpikir dua kali jika melewati jalan belakang tersebut.
Dalam hal promosi, pengunjungpun sebenarnya secara tidak langsung telah berperan terhadap kemajuan objek wisata tersebut, seperti yang di ungkapkan Yeti (40) seorang guru SMA di Padang:
”Walaupun ibu tidak begitu tahu mengenai Panorama terutama lobang Jepang, akan tetapi ibu selalu memberikan penjelasan yang baik (promosi) tentang pariwisata tersebut, terutama kepada kerabat-kerabat dan tetangga di rumah, sehingga merekapun ingin secara langsung melihat panorama itu. Ya, walaupun mungkin peranan ibu sangat kecil dalam hal ini, tapi ibu merasakan ada kebahagiaan tersendiri nak, apabila kita bisa berbagi cerita”. (Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia)
Sementara jika dilihat dari pengunjung yang datang, berdasarkan informasi dari petugas penjaga loket, pengunjung yang datang ke Panorama melebihi target. Meski tidak tercantum dari berapa jumlah tiket yang terjual, namun jumlah pendapatan yang target awalnya hanya Rp 900.000.000/tahun, ternyata mampu melebihi angka 1 miliyar. Menurut Roni, meski tidak hari libur panorama tidak pernah tanpa pengunjung. Dan jika ada pengunjung yang mengkritik, biasanya mereka akan melapor ke kantor pariwisata setempat. Jika kembali ke sejarah lobang jepang, sampai sekarang masih tersimpan tiga misteri lobang Jepang. Pertama, berapa banyak korban yang timbul akibat pembantaian di dalam lobang Jepang? belum diketahui. Kedua, siapa sebenarnya jendral Watanabe dan bagaimana riwayat hidupnya? Juga tidak diketahui. Ketiga, kemanakah tanah galian lobang jepang tersebut dibuang? hingga sekarang masih menjadi misteri.
E. Kesimpulan
Pengelolaan daerah wisata panorama (Lobang Jepang) Bukittinggi, tidak hanya merupakan peranan dari pemerintah dan dinas pariwisata setempat, namun juga membutuhkan andil dari masyarakat. Meski tidak dominan, peran masyarakat di lokasi wisata bisa dilihat dari respon masyarakat dalam berpartisipasi dalam pariwisata dan ekonomi. Pemanfaatan areal perkuburan yang dizinkan oleh pihak dinas pariwisata juga menjadi pendukung penyempurnaan pemandangan. Dalam artian, masyarakat yang berperan sebagai pedagang dapat menutupi area perkuburan untuk memberikan kesan yang baik terhadap pariwisata tersebut.
Kurangnya apresiasi pemerintah dalam bidang kesejahteraan masyarakat yang bekerja di lokasi pariwisata membuat masyarakat tidak terlalu aktif dalam pariwisata, seperti halnya para guide. Namun terlepas dari itu semua, masyarakat sangat antusias sekali dalam kemajuan lobang Jepang tersebut, terutama dalam segi keamanannya. Masyarakat memberikan kontribusi penjagaan secara langsung maupun tidak langsung. Seperti terlihat pada jalan bagian paling belakang, orang-orang yang sembarangan masuk dari jalan tersebut, akan ditegur dan malahan jika mereka melawan akan diteriaki maling.  Dalam hal promosi masyarakat juga memberikan kontribusi secara tidak langsung, mereka yang pernah ke objek wisata Panorama, biasanya menceritakan kepada kerabatnya dan tetangganya mengenai keunggulan wisata tersebut. Begitu juga dalam hal kebersihan, walaupun terkesan memaksa, akan tetapi masyarakat tetap mengerjakannya, dan hal tersebut tidak terlepas dari kerja sama mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulsyani. 2007. Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: PT Bumi Aksara. 
Diakses tanggal 1 Desember 2011).
Soekadijo, RG. 1997. Anatomi Pariwisata. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Suranti, Ratna. 2005. Pariwisata Budaya dan Peran Serta Masyarakat. (Online).
(http://wisatadanbudaya.blogspot.com. Diakses tangal 3 Desember 2011).







0 komentar:

Poskan Komentar