Sunday, January 24, 2016



 Kuadas, Surga Tuhan Jatuh ke Bumi

            Menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah Cenderawasih (Papua Barat) ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga yang tidak akan pernah saya lupakan. Diawali dengan mengikuti serangkaian seleksi nasional dengan mengalahkan 1300 orang (pendaftaran di LPTK UNP) sehingga saya terpilih untuk melaksanakan tugas mulia ini yaitu mendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal dari hasil akhir 258 orang. Selanjutnya, saya mengikuti tahapan tes tulis online di kampus UNP, tes wawancara dan prakondisi indoor di New Rasaki Hotel, By. Pass, Padang (3-11 Agustus 2015) dan prakondisi outdoor (12-17 Agustus 2015) di Bumi Perkemahan ABG, Lubuak Minturun, Koto Tangah, Padang. Alhamdulillah, keberangkatan saya ke Kab. Sorong pada tanggal 21 Agustus 2015, tepatnya hari Jum’at, sehingga saya bisa mempersiapkan diri di kota berhawa sejuk, Padang Panjang.
Selanjutnya, melalui perjalanan yang melelahkan selama 2 hari 1 malam menggunakan kapal besi Garuda Indonesia, kami melewati Bandara Internasional Minangkabau, Padang- Bandara Internasional Soekarno Hatta Bandara  Hasanuddin Makasar- Bandara Domanic Eduard Osok, Kota Sorong.  Akhirnya saya sampai didaerah sasaran yakninya Kabupaten Sorong menggunakan bus sekolah dari Dinas Pendidikan. Kami yang ditempatkan didaerah ini berjumlah 51 orang. Setiba di Pusat Kabupaten tepatnya di distrik (kecamatan) Aimas, kami diinapkan sementara di Gedung LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) Kab. Sorong. Beberapa jam kemudian kami dihidangkan nasi bungkus oleh Dinas Pendidikan Kab. Sorong. Setelah itu kami kedatangan guru-guru SD hingga SMA/SMK dan Kepala Dinas Pendidikan serta Kepala Bidang Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidik. Di saat itulah kami berkumpul dan menerima hasil pengumuman sekolah penempatan (penugasan).
Saya, ditempatkan di SD swasta Bukit Sion, Desa Kuadas, Distrik Makbon, Kab. Sorong, Papua Barat. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dapat mengajar di SD. Senang dnegan anak-anak adalah berkah Sang Maha Kuasa. Walaupun latar belakang ilmu saya bukan dari PGSD. Mudah-mudahan ini merupakan pengalaman baru yang menambah catatan perjalan hidup saya.
Berada di daerah yang baru bagi kita tentunya membuat diri kita banyak bertanya-tanya tantang banyak hal. Namun, Perbedaan sosial budaya tentu saja tidak membuat kita merasa terlalu asing di negeri orang karena masih banyak hal-hal yang membuat kita sama diantaranya latar belakang agama yang sudah terkenal sejak dahulu bahwa Papua Barat adalah wilayah timur yang kabarnya mayoritas dengan pemeluk agama kristen, ombaknya ganas dan macam persepsi lainnya.
Sebelum kita merasakan langsung kondisi masyarakat Papua Barat khususnya, tentunya kita memiliki persepsi yang selama ini beredar di daerah asal melalui berbagai media dan mulut ke mulut, dimana Papua secara umum selama ini dikenal sebagai daerah konflik yang berkepanjangan dan ingin melepaskan diri dari bingkai NKRI. Sehingga yang terbayang pertama kali adalah kita melaksanakan pendidikan untuk anak-anak yang mengalami trauma konflik yang cukup tragis. Terlebih lagi adanya persepsi bahwa orang Papua masih bernostalgia dengan tradisi dan pakaian khas adatnya. Tapi hal tersebut hanya berada di sebagian kecil daerah pedalaman Papua yang masih dianggap ketinggalan bahkan mereka masih bertahan dengan adat leluhur seperti itu karena sudah terbiasa dengan kondisi yang demikian seperti bagi lelaki menggunakan koteka serta bertempat tinggal di rumah panggung honei.
Ketika pertama kali berkenalan di sekolah bersama anak-anak, prasangka yang selama ini ada dalam pikiran semuanya hilang karena saya menemui bahwa anak-anak Papua khususnya Kab. Sorong Papua Barat bukanlah generasi yang terkena dampak langsung dari konflik suku dan agama. Menyatu dengan mereka merupakan pengalaman yang cukup berharga karena saya sebagai orang Minangkabau atau kebanyakan orang Papua bahkan Indonesia masih menyebut orang Padang, mereka posisikan layaknya guru yang datang untuk dekat dengan mereka. Sambutan mereka begitu hangat yang terlihat dari pancaran senyumannya. Seperti tembang lagu Tanah Papua ciptaan Edo Kondolist, bahwa Tanah Papua, Tanah yang Kaya, Surga Kecil Jatuh ke Bumi.
Satu hal yang masih disayangkan anak-anak disekolah ini masih banyak mencampur adukan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Terlebih dalam penggunaan bahasa di ruang belajar, kadang dalam penulisan bahasa masih sering dijumpai bahasa daerah yang mereka tulis, walaupun bahasa daerah Papua hampir mirip dengan bahasa Indonesia yang dibaca dna ditulis singkat seperti saya dibaca sa, punya dibaca pu. Itu sedikit merupakan suatu tantangan tersendiri buat saya untuk mendidik anak-anak tersebut. Untuk memudahkan saya bersosialisasi dengan masyarakat disekitar sekolah maka saya mencoba selalu bersosialisasi dan mencoba mencatat bahasa mereka dan kadang ditiru dalam percakapan sehari-hari di lingkungan mereka. Masyarakat disekitar sangat terbuka dan menerima kedatangan saya, hal ini dirasakan karena sering diberi buah-buahan dan makanan oleh mereka. Terlebih jika ada acara besar mereka. Masyarakat di desa atau kampung Kuadas tempat saya ditugaskan ini sering mengadakan kegiatan syukuran seperti syukuran ulang tahun, syukuran SIDI dan syukuran lainnya. 
            Sekitar lebih kurang enam bulan saya di sini, saya perhatikan bahwa masyarakat kampung Kuadas khususnya sangat toleransi dalam beragama dan suka memberi. Sehingga memberi kekuatan bagi saya pribadi untuk bertahan di tempat tugas ini hingga saat ini.
Berbicara tentang sekolah penempatan saya, yang berada di tepi pantai dan hutan gundul dna hutan rimba Papua. Sekolah penempatan saya adalah SD YPK Bukit Sion Kuadas, Distrik Makbon, Kab. Sorong, Papua Barat. Sekolah penempatan saya merupakan sekolah swasta di bawah Yayasan Pendidikan Kristen. Sekolah ini berada di sepanjang pesisir pantai Kuadas, dengan jumlah ruang belajar tiga kelas yakni kelas 1,2,3 (ruang belajarl 1), kelas 4 dan 5 (ruang belajar 2) dan kelas 6 (ruang belajar 3). Serta satu ruang tamu, satu ruang Kepala Sekolah, satu ruang guru sekaligus pustaka dan dapur sekolah.
Sekolah penempatan saya ini terdiri atas 9 orang guru (4 PNS, 4 Honor dan 1 SM-3T). Tetapi yang aktif cuma 4 orang guru PNS dan 2 orang guru honor termasuk saya satu orang guru SM-3T. di sana tidak ada petugas TU bagian administrasi sekolah, sehingga Kepala sekolah merangkap sebagai TU administrasi sekolah. Saya juga sering dilibatkan dalam membantu Kepala Sekolah mempersiapkan segala hal menyangkut administrasi sekolah. Jika dilihat jarak sekolah dengan kota Sorong sekitar 2 jam. Bisa ditempuh dengan taksi kampung atau L200. Sekolah tersebut masuk kategori sekolah pinggiran kota, karena akses tranportasi, akes listrik dan air serta sinyal seluler ada. Walaupun di tengah perjalanan, kondisi jalan cukup memprihatinkan. Kondisi jalan berlubang  dan banyak berbatu cadas membuat kendaraan cukup kesulitan melewatinya. Sementara saya bertempat tinggal di dalam lingkungan sekolah, tepatnya di rumah dinas yang kedua. Jumlah siswa aslinya sekitar 27-an, namun di dapodik tercatat 79 orang siswa. 
Proses belajar dan mengajar di SD tempat saya bertugas biasanya mengikuti kalender Pendidikan dan kalender Yayasan Pendidikan Kristen yang bersumber dari klasis Sorong. Di sekolah ini menggunakan Kurikulum KTSP (2006). Dalam PBM yang menjadi kendala adalah jumlah buku teks pelajaran yang tidak memadai, hanya ada satu teks buku pelajaran yang saya pegang. Jadi, saya lebih banyak mencatat dan menerangkan pelajaran. Agar siswa juga bisa membaca saat di rumah ataupun menghadapi ulangan harian atau semesteran. Kendala lain, siswa masih sering menulis menggunakan bahasa daerahnya ketika mencatat apa yang ditulis di papan tulis ataupun  membuat tugas yang diberikan kepada mereka.
Siswa cukup bersemangat belajar, walaupun kadang ada juga yang malas-malasan ke sekolah. Tapi kondisi itu disebabkan karena perpanjangan masa liburan semester. Sebagian siswa ada yang cepat menangkap pelajaran dan ada pula yang kurang cepat menangkap pelajaran. Sementara guru cukup bersahabat dan saling membantu dalam pelaksanaan PBM misalnya ada guru yang tidak hadir, guru yang hadir menggantikannya. Beberapa orang guru PNS cukup malas-malasan hadir di sekolah dengan berbagai alasan. Sedangkan, masyarakat sendiri cukuo baik dan menghormati keberadaan saya dan guru-guru lain di sini.
Hal yang membuat saya mengesankan adalah ketika siswa datang ke rumah menanyai kehadiran saya ke sekolah, karena waktu itu saya terlambat datang ke sekolah. Serta siswa-siswa di pinggiran kota juga tertarik untuk belajar outdoor (luar ruangan) dan senang jika pembelajaran dilakukan dengan beragam metode pembelajaran seperti saya  melakukan metode eksperimen dalam pelajaran IPA, siswa-siswa pun senang dan malahan ingin mencoba itu selalu. Di samping itu ilmu-ilmu selama prakondisi dan pengalaman organisasi dan hobi saya terapkan di tempat tugas. Sehingga sangat mendukung PBM itu sendiri.
 Demikian testimoni singkat saya di tempat penugasan saya yang hamper memasuki 6 bulan di sini. Terima kasih. Salam MBMI V! (Writer: Hasan Asyhari, S.Pd, Guru SM-3T angkatan V asal LPTK UNP penempatan Kampung Kuadas, Distrik Makbon, Kab. Soorng, Papua Barat)

Tuesday, April 7, 2015



Akademik VS Organisator

Menjadi mahasiswa ideal agaknya selalu menarik untuk diperbincangkan. Dalam konteks akademik, mahasiswa mempunyai tanggung jawab terhadap almamaternya maupun terhadap diri sendiri dan orang tua agar kuliahnya menghasilkan predikat memuaskan dan tepat waktu.
Tapi, di sisi lain mahasiswa mempunyai label ”agent social of change” yang juga tak kalah penting mereka lakukan. Kondisi ini masuk pada ranah kedudukan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan predikat ini sudah mengakar pada masyarakat umum bahwa mahasiswa merupakan garda terdepan dalam menatap perubahan masa depan bangsa.
Masyarakat memandang mahasiswa itu bisa segala-galanya, baik dalam persoalan keilmuan maupun dalam urusan sosial. Dengan demikian ketika mahasiswa menjadi sarjana, mereka harus mampu merespon sekian persolan sosial yang terjadi di sekitar lingkungannya. Sementara, pada tataran tanggung jawab akademik mahasiswa dihadapkan pada kehidupan masa depan mereka. Selesai kuliah, bekerja atau menambah daftar pengangguran terdidik? Artinya, pada wilayah ini mahasiswa bersentuhan yang namanya dunia kerja. Bicara dunia kerja terkait dengan kemampuan akademik dan IPK.
Bagi mahasiswa yang memiliki kesadaran sosial (social awareness), paradigma yang dibangun adalah selain belajar juga diimbangi (balance) dengan kegiatan sosial, dengan harapan mereka dapat melaksanakan label yang selama ini dimiliki mahasiswa, yaitu sebagai agen perubahan sosial. Pada konteks ini mahasiswa dihadapkan problem benturan aturan akademik yang mengekang kreativitas mahasiswa.
Dari dua dimensi tanggung jawab itulah, kemudian melahirkan beberapa tipikal mahasiswa. Pertama, Mahasiswa akademik ansich. Mahasiswa model ini biasanya rajin ke kampus. Ada yang menyebutnya mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), mahasiswa segi tiga K (Kuliah, Kantin, dan Kos). Datang tepat waktu, semua tugas dikerjakan, catatan lengkap, dan manut pada dosen. biasanya diakhir semester menjadi incaran banyak mahasiswa untuk sekedar memfotokopi bahan kuliah dan dijadikan mitra menjawab soal UAS. Mahasiswa berkarakter tadi masih termasuk mahasiswa tipe pertama yang sering disebut mahasiswa anak dosen, karena tipe mahasiswa seperti itu biasanya diambil menjadi asisten dosen, selesai melanjutkan akademik, kemudian menjadi dosen.
Masih dalam tipe pertama, mahasiswa model ini cenderung terjebak pada ranah formalitas dan menganggap bahwa ruang kuliah, sebut saja dosen merupakan medium satu-satunya sumber ilmu. Kehidupan di kampus sebatas ajang bergaul dengan teman-teman satu kelas, karena tidak mengikuti kegiatan apapun di kampus, kecuali kuliah. Mind-set yang dibangun pun bersifat datar (pada umumnya), yaitu IPK coumlade, kuliah tepat waktu, lulus jadi PNS misalnya.
Padahal, kehidupan setelah kuliah tidak semudah dibayangkan. Fakta mengatakan, seringkali mahasiswa tipe pertama ini gagal ketika berhadapan pada persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Padahal mahasiswa mempunyai tanggung jawab sosial, selesai kuliah diharapkan bisa membangun kampung-nya, pada level lebih besar membangun provinsi, agama dan negaranya. Begitu juga dalam dunia kerja, ketika ia gagal dalam persaingan sesuai jurusannya, otomatis menjadi pengangguran terbuka, karena tidak mempunyai skill yang lain (monotonous capability).
Kecendrungan negatif adalah gengsi bekerja kalau itu bukan bidangnya, lebih baik nganggur dari pada menahan malu. Hal itu terjadi, karena paradigma yang terbentuk adalah pada orientasi (orientation) bukan kesadaran (awareness). Kesadaran dalam artian, mampu membaca peluang, kuliah tidak semata jalan mencari pekerjaan, memberikan kontribusi pada masyarakat (social responsebility), bekerja apapun (entrepreneur) yang penting bermanfaat dan positif.
Kedua, Mahasiswa aktivis kampus atau sering juga disebut organisator. Tipekal mahasiswa ini memiliki kesadaran sosial bahwa label mahasiswa tidak hanya mempunyai tugas akademik, tapi ada tugas sosial. Satu sisi ada persoalan lain kesadaran yang dibangun kebablasan. Segudang agenda kegiatannya dalam berorganisasi terkadang melupakan tugas utamanya, yaitu kuliah. Ia tidak bisa lagi me-menej dri antara aktifitas organisasi dna kuliah (akademik). Mahasiswa aktivis kampus seperti inilah yang membedakan dengan mahasiswa aktivis angkatan para founding fathers kita. Mereka aktivis, tapi tetap fokus pada akademik-nya.
Sebut saja Bung Karno, ranah akademik-nya melahirkan Insinyur Teknik, Hatta kemampuan dalam bidang ekonomi tidak bisa diragukan lagi, dan Syahrir kapasitas dalam diplomasi, membuatnya sering mewakili Indonesia dalam pertemuan Internasional. Mereka adalah orang-orang yang getol dalam kegiatan sosial demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, akan tapi tidak meninggalkan dunia akademiknya.
Kedua tipikal mahasiswa di atas setidaknya menjadi gambaran bagi mahasiswa era kini, mana yang menjadi nilai plus dan mana yang akan menghambat prospek kesuksesan ke depannya. Menjadi sang organisator yang lihai dalam akademik akan mempermudah jalan hidup untuk menuju gerbang pasca kampus. Akademik Yes, Organisasi Ok! Salam mahasiswa sukses! (Hasan Asyhari, pegiat Forum Aktif Menulis Indonesia)

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Semoga kita semuanya dalam keadaan sehat, Aamiin. Bagi kami yang hidup di daerah minoritas Islam, satu, dua petak ruangan yang bisa dijadikan untuk masjid, bagi oleh muslim mana saja, adalah sangat berarti. Untuk itu kami ingin mengajak saudara saudari kami yang muslim di mana saja berada, untuk ikut ambil bagian dalam program pendirian rumah Allah di Hiyodoridai, Kobe, Jepang. Semoga kita berkenan.

"Mari Bersama Mendirikan Rumah Allah"

"Bertolong-tolonganlah kamu untuk hal kebaikan dan taqwa dan janganlah bertolong-tolongan untuk hal kejahatan (perbuatan dosa)" (QS Almaidah : 2).

"Membangun masjid, memakmurkan dan menyediakan untuk orang-orang shalat termasuk amal yang utama. Allah akan memberikan kepadanya pahala nan agung. Ia termasuk shadaqah jariyah yang pahalanya berlanjut hingga seseorang telah meninggal dunia.

Allah berfirman (QS At-Taubah: 18);
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan bangunkan baginya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, dan Muslim, dari Hadits Utsman radhiallahu’anhu)

Diriwayatkan Ibnu Majah, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alahi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany)

Kami di ACIKITA, mengundang saudara kami sebangsa dan seiman untuk memberikan donasi untuk pelunasan rumah yang sudah dijanjikan untuk dilunasi pertanggal 20 April 2015. Rumah tersebut akan difungsikan sebagai masjid, dengan nama masjid Istiqomah. Alhamdulillah letaknya sangat strategis sekali, bangunan sangat baik, lokasi di Hiyodoridai Kobe. Kekurangan dana saat ini sekitar 4 juta yen yen atau setara dengan 400 juta rupiah.

Donasi bisa disalurkan ke rekening ACIKITA
1. Rekenng ACIKITA di Jepang
Bank Post Japan : ACIKITA (dengan kata kana)
No rek : 10180-57922101
2. Rekening ACIKITA di Indonesia
Bank Mandiri atas nama: R Saharso No Rek: 127-00-0540785-1.
Untuk setiap penyaluran dana mohon dituliskan, donasi untuk mesjid, dan
mohon diinfokan kepada kami via email: pengurus@acikita.org
atau Hp +81-80-3333-1327 +81-80-3333-1327

Update dana masuk kami posting di sini:
https://www.dropbox.com/s/…/Pembukuan%20Donasi%20Mesjid.xls…
Kepada teman teman yang sudah membeikan donasinya kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, insyaAlah Allah akan membalasnya dengan pahala yang setimpal, Aamiin.

Kepada yang berkenan, mohan bantuan untuk menyebarluaskan himbauan ini. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jumiarti Agus
Ketua Internasional ACIKITA
Website ACIKITA; www.acikita.org
Kobe, Japan

Sunday, March 8, 2015


Acara Pembukaan yang dimoderatori Wakakur MAN Gunung

JP/Padang-Madrasah Aliyah Negeri yang berjulukan ”Kampus Hijau” itu menggelar training Budaya Senang Melayani (BSM). Training (pelatihan) ini diikuti sekitar 45 orang civitas akademika MAN Gunung Kota Padangpanjang yang terdiri dari pimpinan madrasah, majelis guru, staf tata usaha, petugas kebersihan dan petugas keamanan (satpam).

Kegiatan yang dilaksanakan di ruang belajar XI Keagamaan (Kamis, 5/3/2015) itu mendatangkan Wetri Mudrison, S.Ag, S.Pd, M.Pd, trainer dan konsultan yang merupakan trainer ESQ 165 sejak 2006 itu.

Kegiatan yang bersamaan dengan rapat persiapan UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional), Ujian Akhir Sekolah bagi kelas XII dan Ujian Tengah Semester bagi kelas X dan XI sengaja dikemas berbeda dibanding kegiatan rapat biasanya.

“Kegiatan rapat kali ini sengaja diformat berbeda dibanding rapat sebelumnya, hari ini didatangkan trainer yang akan melatih kita bersama bagaimana melayani dengan senang,” jelas Amrizon,S.Pd, M.Pd.I, Kepala MAN Gunung Padangpanjang saat menyampaikan arahannya.

Selanjutnya, trainer memutar video tentang fenomena dunia pendidikan yang marak akhir-akhir ini seperti kasus pelajar SD di salah satu kota di Sumatera Barat yang menganiaya teman selokal-nya secara bersama, hingga video guru di Papua yang memukuli siswa-nya yang salah mengerjakan latihan sembari merokok. Wetri yang merupakan ex.Kepala salah satu Madrasah Aliyah di Bogor, Jawa Barat itu juga mengkorelasikan training-nya dengan ayat-ayat Al Quran.

“Ada beberapa indikator keberhasilan seorang anak yakni berkepribadian kuat, berkarakter, setia pada kebenaran, berkontribusi positif terhadap moral dan tatanan sosial masyarakat,” ungkap Wetri, trainer yang baru menetap di kota Serambi Mekkah ini.

Selain itu, ia juga menjelaskan perangkat bawaan seorang anak. Pertama, intelectual curiosity, seorang anak memiliki rasa penasaran atau ingin tahu. Kedua, creative imagination, seorang anak juga kreatif dan penuh imajinasi. Ketiga, art of discovery, seorang anak juga memiliki kemampuan untuk merombak atau merubah sesuatu. Keempat, noble attitude, seorang anak memiliki sikap yang baik (akhlak yang mulia).

Tearakhir, kegiatan ditutup dengan sesi komentar oleh dua orang peserta. “Pelatihan ini sangat bagus sekali, jika bisa dilanjutkan untuk tahap teknis setelah kegiatan ini,” pesan Nurhadi, S.Pd, guru Bahasa Inggris. (Hasan Asyhari, Wartawan Muda)

Tuesday, March 3, 2015


Pembukaan training ke-LDK-an  di Masjid Baru LPMP Sumbar

JP/Padang-Unit Kegiatan Kerohanian Universitas Negeri Padang (UKK UNP) kembali menggelar training ke-LDK-an. Kegiatan rutin ini dilaksanakan di Masjid Baru LPMP Sumbar dan Gedung B, UPT MKU UNP (Minggu, 1/3/2015) serta diikuti seluruh pengurus UKK dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) se-UNP tahun kepengurusan 2015.

“Kegiatan ini merupakan penguatan hasil Simposium LDK V (kelima) beberapa waktu yang lalu,” ujar M. Haris Sabri, Ketua Umum UKK UNP 2015 saat menyampaikan kata sambutan di hadapan peserta yang hadir.

Kemudian, training ke-LDK-an dibuka secara resmi oleh Husni Mubarak, Dewan Pertimbangan Organisasi UKK UNP 2015, serta dilanjutkan dengan taujih (ceramah singkat) oleh Ustadz Herry Susanto, S.Pd, M.Pd. 

“Ada beberapa fase agar dakwah kampus dapat berjalan dengan baik, dimulai dari fase  persiapan, fase pelaksanaan, fase pengontrolan dan fase evaluasi,” ucap Ustadz yang akrab disapa mas Herry itu. Selanjutnya, ia juga mengungkapkan seorang aktivis dakwah itu harus mampu melakukan ekspansi dengan jalan terjun langsung ke objek dakwah. Misalnya melalui penyebaran buletin dakwah. 

Training ke-LDK-an 2015 dipandu langsung oleh tim trainer eL-Tra UKK UNP yang berkafaah (ahli) di bidangnya. Setiap peserta perwakilan bidang atau departemen di UKK dan LDF dibagi dalam ruangan yang berbeda sesuai bidang-nya di UKK dan LDF bersangkutan. Bidang-bidang tersebut adalah bidang DPH, Kesekretarisan, Kaderisasi, Keuangan, Syi’ar Islam, Media Dakwah, Kemuslimahan, Humas dan Jaringan dan Akademik. 

Selanjutnya, training diawali dengan penguatan hasil simposium per bidang. Tim trainer memaparkan kembali hasil simposium secara jelas melalui slide power point yang disertai konsep-konsep kekinian dan aplikatif. 

Foto bersmaa kelas bidang Kesekretarisan (dok.pribadi)
Kemudian, lanjut dengan diskusi pembuatan program kerja yang efektif dan efisien dengam membandingkan program kerja lama dan rancangan program kerja baru. Setelah itu, setiap peserta dipersilakan untuk mempresentasikan rancangan program kerja baru-nya. Terakhir, tim trainer memberi evaluasi dan fiksasi hasil presentasi tadi.

Training ke-LDK-an 2015 ini nantinya bermuara pada penulisan program kerja sesungguhnya. Sehingga, nantinya program kerja tersebut disampaikan pada Musyawarah Kerja (Musker) UKK dan LDF. Setelah musker yang dilakukan UKK dan LDF nanti, baru kegiatan Loka Karya yang diikuti oleh seluruh ADK (Aktivis Dakwah Kampus) UKK dan LDF UNP dapat diselenggarakan ,” ujar Amdrean Ruseffendi, salah seorang tim trainer eL-Tra UKK UNP yang juga merupakan ex.Ketua Umum FSLDK (Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus) wilayah Sumatera Barat. (HA, Wartawan Muda)

Thursday, February 26, 2015



Padang, 8 Februari 2015


Hal      : Permohonan Kerja


Yth. Kepala Departemen Pendidikan dan SDM Yayasan Darussalam
c.q Bapak/ Ibu Kepala SMP IT Darussalam
di
            Komplek Pendidikan Darussalam 2, Perumahan Taman Jaya Asri,
            Kelurahan Buliang, Kecamatan Batu Aji.
            Kota Batam-Kepri

Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                                       : Hasan Asyhari, S.Pd
Tempat, Tanggal Lahir            : Padang Panjang, 27 Februari 1992
Jenis Kelamin                          : Laki-laki
Agama                                     : Islam
Pendidikan Terakhir                : SI Pend. Sosiologi-Antropologi UNP
Alamat                                    : Desa Baru No.23 RT. 14 Kel. Tanah Hitam,
                                      Kec.Padang Panjang, Kota Padang Panjang 27112, Sumbar.
e-mail                                      : asyhari_hasan@yahoo.com
No.HP                                     : 085363755449
Bersama ini saya mengajukan permohonan untuk dapat diterima sebagai Staf Pengajar Bidang Studi IPS di SMP IT Darussalam yang Bapak/Ibu pimpin. Berkaitan dengan hal tersebut, bersama ini saya lampirkan beberapa berkas sebagai berikut:
  1. Foto kopi ijazah terakhir (legalisir), 1 lembar
  2. Foto kopi transkrip nilai (legalisir), 1 lembar
  3. Surat Keterangan Sertifikat Pendidik (Akta IV), 1 lembar
  4. Foto kopi e-KTP, 1 lembar
  5. Curriculum Vitae (Riwayat Hidup)
Demikian permohonan ini saya buat, selanjutnya besar harapan saya agar dapat diterima sebagai Staf Pengajar Bidang Studi IPS di SMP IT Darussalam yang Bapak/Ibu pimpin


Pemohon,

(Tanda tangan)
 
Hasan Asyhari, S.Pd