Wednesday, December 21, 2011


By.Hasan Asyhari*

Variasi Kehidupan
Jeritan, pekikan, tangisan, tawaan, senyuman

Semua itu…

Bagaikan pelangi di langit

Bagaikan percikan kembang api di malam hari

Bagaikan kilauan mutiara di lautan

Bagaikan kaca-kaca yang pecah di dalam tumpukannya

Inilah Variasi Kehidupan…

           
 Minder
  
Minder…

Penyakit  jiwaku

Penyakit  hidupku

Penyakit kebahagiaanku

            Ku tak sanggup menghitungnya
           
            Ku tak sanggup menulisnya

            Ku tak sanggup merekamnya

Oh Tuhan,,

Engkau beri aku keminderan ini

Engkau beri aku penyakit hidup ini

Aku yakin…

Engkau telah menentukan nasib ku ini


Oh,,Ibuku…

Oh, Ibu…

Ketika dulu ‘kau mengasuhku

Ketika dulu ‘kau mendidikku

Ketika dulu ‘kau lambaikan tanganmu

Ketika dulu ‘kau paksakan tubuhmu

Itu semua ‘kau lakukan demi menghidupiku

Berharap tumbuh menjadi anak yang terbaik

Berharap menjadi penolong di waktu tuamu

Berharap menjadi anak shaleh yang akan mendoakanmu

Oh, ibu…

Terima kasih atas segala pengorbananmu 

Ku akan berupaya menjadi anak impianmu

Semoga Tuhan membalas segala jasa-jasamu Ibu


            Ku terasing

Akhirnya kumerasakan juga…

Merasa keterasingan dari hidupku

Merasa keterasingan dari keluargaku

Merasa keterasingan dari teman-temanku

Merasa keterasingan dari benda-benda disekitarku

Tak tahan aroma keterasingan ini kupendam

Tak henti pikiranku melayang

Tak ringan kalbuku ‘tuk berkata

Tak ringan kakiku ‘tuk berjalan

            Ku ingin keluar dari keterasingan ini….


*Penulis adalah Mahasiswa jurusan sosiologi,tahun masuk 2010 Fakultas Ilmu Sosial UNP.
Penulis saat ini aktif di organisasi dakwah fakultas FSDI FIS UNP
Dan juga aktif di Komisi C Badan Perwakilan Mahasiswa FIS UNP periode 2011/2012 




Tuesday, December 20, 2011


Posko 1: Terlihat peserta dari kelompok Jihad yang sedang melakukan tantangan  rebah men. Agar peserta yang direbahkan tidak jatuh ke tanah dibutuhkan kekompakan dari anggota kelompoknya tesebut.

            -FSDINews- Outbound FSDI (Forum Studi Dinamika Islam) merupakan follow up dari acara BIDIKMISI (Bina Iman dan Intelektual Mahasiswa Ilmu Sosial) yang diselenggarakan oleh Departemen KPA FSDI 2011 guna merekrut kader-kader FSDI ke depannya. Kader-kader yang merupakan tonggak estafet dari organisasi yang bergenre dakwah tingkat fakultas ini hendaknya dapat menjadi penetralisir amoral yang dialami pemuda saat ini .
            Acara ini diadakan pada hari Minggu, 19 Desember 2011 di Lubuk Minturun kec.Koto Tangah, Padang  yang diikuti lebih kurang 35 peserta laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat) serta puluhan panitia dan beberapa DPP (Dewan Penasehat Pengurus) FSDI 2011. Acara Outbound ini dibuka langsung oleh DPP FSDI 2011, Andika Arizona (Isospol,FIS UNP BP.2007) yang juga perwakilan Ketua Umum FSDI 2011 yang berhalangan hadir saat itu..
 Trainer El-Tra UKK UNP ini berpesan kepada peserta, ”Jangan cuma NATO (No Action Talk Only)  banyak bicara tidak ada bertindak, karena dalam acara ini dibutuhkan kerjasama kelompok. ”Ujar nya dengan penuh semangat di lapangan parkir kendaraan FIS UNP.
            Demi mencapai target dari acara ini, panitia membagi dua kelompok laki-laki yakni kelompok Jihad dan Mujahid  serta tiga kelompok perempuan yakni Mujahidah, Sahabiah, Cahaya. Outbound kali ini dibagi  atas beberapa posko yakni posko 1,2,3 dan 4. Di tiap-tiap posko dijaga oleh dua hingga tiga orang panitia yang akan memberikan tantangan berupa permainan kepada tiap kelompok. Untuk menuju posko selanjutnya tiap kelompok diberi kata kunci berupa terjemahan dari potongan ayat-ayat Al-Qur’an serta diminta menyampaikan ibrah dari permainan tersebut.
            Dan sesudah shalat zuhur diadakan acara penyampaian materi oleh DPP   Muspardi, mahasiswa prodi Pendidikan Kewarganegaraan yang pernah mengikuti event MTQ mahasiswa tingkat Nasional beberapa waktu yang lalu ini. Dan acara ditutup dengan pelantikan DPH (Dewan Pengurus Harian) Laskar Muda FSDI 2011 yang diketuai oleh Il Alima Putra (Isospol,2011), sekretaris Abdul Rasyid (Sejarah,2011) dan bendaharanya Atika (Sosiologi,2011). Ketiga itu merupakan DPH Laskar Muda FSDI 2011 yang merupakan tonggak  estafet kepengurusan FSDI tahun berikutnya.
            Diharapkan dengan pelantikan DPH Laskar Muda FSDI 2011 tersebut hendaknya dapat berkontribusi terhadap kegiatan-kegiatan (agenda) yang diangkatkan pengurus FSDI kedepannya, ujar Ketua Pelaksana Outbound Chandra Perwira Negara, mahasiswa yang juga merupakan Ketua Angkatan Muda FSDI 2010.
            Acara Outbound ini berakhir dengan pengenalan seluruh kepengurusan FSDI 2010/2011 oleh Koordinator Departemen Syiar Islam, Syafrianto (Sosiologi,2009) mahasiswa yang sempat mencalonkan diri sebagai ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP periode 2011/2012 itu. (Hsn)

Friday, December 2, 2011


Bersama, Membentuk Kader Dakwah Teladan  FSDI FIS UNP
-Padang, 21 November 2011-
Bersama, Membentuk Kader Dakwah Teladan adalah Tema untuk agenda TMDF (Training Manajemen Dakwah Fakultas) FSDI FIS UNP, yang  diselenggarakan pada tanggal 20 November 2011 di lokal MKU TB5 yang diikuti oleh seluruh pengurus FSDI baik staf ahli maupun staf khusus FSDI 2011. Agenda TMDF ini sengaja diselenggarakan oleh DPH FSDI bersama DPP dalam rangka mengevaluasi manajemen dakwah di FSDI serta merehat sejenak keletihan atas serangkain acara GEBYAR FSDI ke-18 yang lamanya tiga bulan. TMDF kali ini diikuti lebih kurang 70 peserta baik itu ikhwa maupun akhwat. Terlihat peserta akhwat lebih mendominasi dalam hal kehadiran, hal ini disebabkan banyaknya ikhwa yang berhalangan hadir karena kepentingan lain. Dalam agenda tersebut disajikan tiga materi yang berbeda dengan pemateri yang berbeda juga.
 Materi pertama dengan judul Hijab antara ikhwa dan akhwat yang disampaikan langsung oleh ustadz Boy Hendri Kurniwan. Dalam materi tersebut ustadz yang berbadan  besar tersebut berpesan , “agar selalu menjaga pandangan antara ikhwa dan akhwat karena jika tidk dijaga bisa bermuara pada perzinaan”, ujarnya.
Dalam agenda tersebut Ketua Umum Azzuhfi  Ilan Tinasar, mahasiswa Pendidikan Geografi tahun masuk 2008 ini memberikan  beberapa simulasi kepada peserta yag hadir sebagai pelepas kejenuhan peserta setelah menerima materi.  Serta juga sebagai penyelingan antara materi pertama dengan materi selanjutnya.
Dan diakhir acara diberikan beberapa informasi atau  pengumuman yang disampaikan langsung oleh Ketua Umum FSDI 2011 dan DPP FSDI 2011 kepada peserta yang hadir saat itu.(HA)














Tuesday, July 19, 2011

source: nadiadunkz.blogspot.com

Long-long time ago, there was a girl named Cinderella. She lived with step mother and step sister. They were rude, bad tempered and yell at Cinderella to hard work such as washing, cleaning cooing and wipping.
One day, the prince held dance party in the palace. Cinderella got invite to come at dance party. But, his step mother and step sister forbided Cinderella to came at dance party. Cinderella fell sad, suddenly came someone helped Cinderella to out from this place.
Then, Cinderella changed became a beautiful with new gawn and new shoe. Cinderella went to dance party with a car. Until there, Cinderella dancing with the Prince.

Wednesday, June 22, 2011

Saturday, April 23, 2011

Pengaruh Perilaku Pacaran terhadap Motivasi Belajar Remaja SMA
Oleh:
Hasan Asyhari / 16228

ABSTRAK

A.PENDAHULUAN
Pacaran, siapa orang yang tidak tahu dengan istilah pacaran. Zaman sekarang siswa SD dan murid-murid Taman Kanak-kanak pun sudah pintar memaknai istilah ini. Istilah ini dapat diartikan sebagai sebuah proses yang lebih dikenal dengan proses penjajakan antara lawan jenis. Penjajakan tersebut meliputi banyak aspek dari orang yang akan dijajaki, baik terkait faktor fisik maupun non fisik. Jika lawan jenis yang diajak pacaran tidak dirasa cocok dan memenuhi kriteria yang diinginkan, maka cita-cita selanjutnya adalah ingin hidup bersama orang yang dipacari tadi. Itu adalah tujuan yang dianggap paling mulia dari proses pacaran. Namun, pacaran memiliki banyak aspek keburukan. Ada orang berpacaran hanya untuk memenuhi hasrat nafsu, biasanya ini terjadi dikalangan remaja termasuk siswa SMA. (http://www.google.co.id. diakses tanggal 23 Maret 2011).
Istilah pacaran ini dulu sangatlah asing dan tidak dikenal oleh para remaja seperti sekarang ini, namun pada dewasanya pacaran sudah merebak bak jamur di musim penghujan baik itu dalam lingkup kota maupun desa pada kalangan remaja di abad ini. Para remaja ini seolah membuat suatu tradisi kebudayaan baru yang dalam hal ini mengusung pacaran sebagai suatu budaya pada masanya.
Sebenarnya mungkin itu adalah suatu kewajaran yang biasa dalam pergaulan remaja kini bahkan pacaran ini sekarang dianggap sebagai suatu kewajiban dalam prosesi pergaulan mereka. Padahal ketika dahulu prosesi pacaran ini tidaklah ada bahkan khususnya di Indonesia, pacaran itu dianggap sebagai suatu hal yang dianggap tabu dan bahkan sangat dilarang karena tidak sejalan dengan nilai dan norma khususnya dalam pandangan agama yang pada saat ini sifatnya sangat mengikat kuat terhadap masyarakat. (http://priel12’sblog.com.diakses tanggal 12 Maret 2011).
Dalam pacaran ini banyak remaja yang terbawa arus dalam melakukan hubungan dengan lawan jenisnya ini. Munculnya berbagai pola perilaku pacaran yang dilakukan  remaja. Seperti berciuman, berpegangan bahkan melakukan hubungan seksual sekalipun. Hal ini tentu sangat berdampak negatif terhadap remaja itu sendiri apalagi remaja itu masih dalam menempuh tahap pendidikan dimana mereka adalah harapan bagi orang tua mereka. Banyaknya kasus remaja yang hamil di luar nikah adalah salah satu dampak negatif dari perilaku pacaran yang dilakukan oleh remaja. Selain itu, juga berpengaruh terhadap motivasi belajar remaja dalam menempuh pendidikannya.
Di sisi lain pacaran ini membawa pengaruh yang positif bagi remaja yang bisa membatasi pacarannya. Sebagian remaja yang pintar akan menjadikan pacaran sebagai motivasi bagi mereka dalam belajar di sekolah. Mereka bisa berbagi ilmu satu sama lain. Dan juga bisa meningkatkan prestasi mereka baik prestasi akademik maupun nonakademik. Tidak sedikit remaja yang menjadikan pacaran sebagai aji mumpung dalam meningkatkan potensi diri yang mereka miliki, karena mereka percaya bahwa ada yang mendukungnya dari belakang. Ada juga orang-orang yang akan terpicu semngatnya karena merasa gengsi dan malu pada pasangannya jika diketahui hasil belajarnya buruk. Akibatnya siswa ini akan terpicu semangat belajarnya untuk meningkatkan prestasi. Remaja yang menjadikan pacaran sebagi pelampias nafsu, akan berujung pada seks. (http://www.google.co.id diakses tanggal 12 Maret 2011).
Banyak beredar di berbagai media masa menyangkut kasus dari perilaku pacaran yang dilakukan remaja  SMA yang berbuah tidak menyenangkan di kalangan masyarakat. Salah satunya data penelitian dari Rita Damayanti, Rita meneliti 8.941 pelajar  dari 119 SMA sederajat di Jakarta. Ada beberapa pola pacaran yang dilakukan remaja SMA di Jakarta antara lain berciuman bibir, meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin  (petting) hingga berhubungan seks. Jika kita lihat tiga dari beberapa pola pacaran dengan mulai dari urutan persentase tertinggi yaitu Ngobrol, Curhat 95,7%, Pegangan tangan 67,9%,  berangkulan 49%, berpelukan 38,0 %, berciuman pipi  40,4%, berciuman bibir 20,5%, meraba-raba dada 13,5%, meraba alat kelamin 7,2%, menggesek kelamin 4,5%, melakukan seks oral 3,3%, dan hubungan seks 3,2 %. (http://www.google.co.id diakses tanggal 13 Maret 2011).
Dan juga data dari BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) pada November 2010 lalu, sebanyak 51% remaja di kawasan Jakarta telah melakukan seks pranikah. Data tersebut tidak berbeda jauh dengan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Pada bulan Juni 2010 lalu, Komnas PA pernah merilis data bahwa 62,7 persen remaja di Indonesia sudah tidak perawan. (http://www.google.co.id diakses tanggal 13 Maret 2011).
            Dari data tersebut juga tergambar bahwa laki-laki lebih agresif daripada perempuan. Data tersebut mewakili pola perilaku pacaran yang dilakukan remaja di kota besar. Tidak dipungkiri persentase tersebut melebihi data pola perilaku pacaran di pedesaan. Hal itu jelas menggambarkan degradasi moral remaja saat ini dan kurangnya pengetahuan akan agama tiap individu yang berpacaran.
             Berdasarkan hal yang tertera di atas, maka pertanyaan dari tulisan ini adalah sebagai berikut : (1) Apakah alasan remaja  SMA berpacaran ? (2) Apa saja bentuk-bentuk perilaku pacaran yang dilakukan remaja SMA ?  (3) Bagaimanakah pengaruh perilaku pacaran terhadap motivasi belajar remaja SMA ? (4) Bagaimana solusi terhadap pengaruh  perilaku pacaran remaja SMA ?
          
B. PEMBAHASAN
Pacaran, satu kata yang mengandung banyak arti bagi yang pernah melakukannya. Zaman sekarang siswa SD dan murid-murid Taman Kanak-kanak pun sudah pintar memaknai istilah ini. Istilah ini dapat diartikan sebagai sebuah proses yang lebih dikenal dengan proses penjajakan antara lawan jenis. Penjajakan tersebut meliputi banyak aspek dari orang yang akan dijajaki, baik terkait faktor fisik maupun non fisik. Jika lawan jenis yang diajak pacaran tidak dirasa cocok dan memenuhi kriteria yang diinginkan, maka cita-cita selanjutnya adalah ingin hidup bersama orang yang dipacari tadi. Itu adalah tujuan yang dianggap paling mulia dari proses pacaran. Namun, pacaran memiliki banyak aspek keburukan. Ada orang berpacaran hanya untuk memenuhi hasrat nafsu, biasanya ini terjadi dikalangan remaja termasuk siswa SMA.
Istilah pacaran ini dulu sangatlah asing dan tidak dikenal oleh para remaja seperti sekarang ini, namun pada dewasanya pacaran sudah merebak bak jamur di musim penghujan baik itu dalam lingkup kota maupun desa pada kalangan remaja di abad ini. Para remaja ini seolah membuat suatu tradisi kebudayaan baru yang dalam hal ini mengusung pacaran sebagai suatu budaya pada masanya. Jika mereka tidak paham dengan dampak berpacaran itu sendiri maka bisa berujung pahit terhadap masa depan mereka. ( http://priel12’sblog.com.diakses tanggal 12 Maret 2011).

1. ALASAN REMAJA SMA BERPACARAN
            Pacaran sangat akrab dengan kehidupan remaja. Pacaran menurut remaja adalah suatu ikatan perasaan cinta dan kasih antara dua individu yakni laki-laki dan perempuan untuk menjalin suatu hubungan yang lebih dekat, pada esensinya untuk saling mengenal lebih jauh untuk menuju proses upacara sakral (menikah) atau untuk mencari pasangan hidup yang dianggap cocok. Bisa saja remaja melakukan hubungan pacaran karena adanya tujuan agar bisa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas di sekolah. (Jones,1996:3).
Remaja memiliki berbagai atau beragam alasan kenapa mereka berpacaran. Ada berbagai alasan remaja berpacaran diantaranya: pacaran bisa meningkatkan semangat belajar; pacaran diakui mampu menghilangkan kejenuhan atau membuat hidup lebih hidup; pacaran juga untuk mengetahui pribadi pasangan dari yang dicintainya agar kalau menikah tidak perlu ragu-ragu lagi; pacaran pun diyakini bisa membawa rezeki nomplok; bahkan ada yang mengaku sekadar iseng doang serta pacaran untuk menemukan cinta sejati untuk memilah dan memilih siapa pasangan yang oke.
 ( http://priel12’sblog.com.diakses tanggal 12 Maret 2011).
            Pada perkembangannya pacaran pada zaman sekarang sudah merupakan suatu mode, bila seorang belum pernah pacaran bisa dikatakan ketinggalan zaman. Hal itulah yang membuat remaja membangun persepsi bahwa wajibnya pacaran bagi remaja. Terkait lingkungan sosial yang terjadi, ternyata pacaran sendiri sebenarnya sudah diperkenalkan kepada para remaja antara lain karena pengaruh keluarga khususnya keluarga perkotaan. Dimana sebagian orang tua menganggap jika ingin mendaptkan pasangan hidup yang cocok sebaiknya harus saling mengenal secara lebih intim untuk mengetahui sifat-sifatnya seperti apa, apakah akan sejalan dan cocok maka diperlukan suatu proses yang dinamakan pacaran. (http://priel12’sblog.com.diakses tanggal 12 Maret 2011).
Pacaran ini sangat dipengaruhi oleh media sebagai hasil teknologi yang menyebabkan proses asimilasi menjadi mudah karena lingkup asimilasi menjangkau pada ideologi dan budaya setiap individu dengan kemungkinan waktu bersamaan secara kumulatif atau menyeluruh, sehingga terjadilah anggapan ataupun pandangan remaja mengenai pacaran sebagai prosesi kehidupan yang harus dicoba dan dilalui.
Sebuah ungkapan “jangan beli kucing dalam karung” nampaknya menjadi alasan klasik untuk membenarkan pacaran.“Biarkan remaja menentukan nasib hidupnya dengan menentukan pasangan yang tepat. Biarkan mereka mengenali pasangannya tanpa interpensi orang tua. Zaman kini telah berubah bukan zaman batu lagi, anak-anak tidak boleh dikekang. Kini bukan zaman Siti Nurbaya, jodoh itu harus ditangan anak sendiri. Sudah menjadi tuntutan zaman jika remaja itu asyik senang-senang.” Ungkapan-ungkapan tersebut menjadi trend di era masa kini. Sungguh ungkapan yang tidak bertanggung jawab. Zaman ini sudah menjadi kambing hitam, kebrobrokan moral dianggap zamannya, zina itu modern dan pacaran itu trend. Orang tua masa kini membukakan pintu selebar-lebarnya untuk kemaksiatan. Akibatnya tidak sedikit remaja mereka melakukan zina justru di rumah orang tuanya sendiri. Jika hamil orang tua seolah bangga dan segera mempestakan anaknya dengan pesta pernikahan yang meriah. Sungguh perilaku yang tidak  berorientasi pada akhirat. (Alghifari,2006:12-15).
            Pacaran dianggapnya upaya mengenali si pacar. Padahal pacaran adalah saat-saat paling munafik dalam kehidupan seseorang. Munafik karena masing-masing akan berusaha menutupi kelemahannya dan dengan ponggahnya menampakkan kelebihan masing-masing bahkan hal tidak lebih pun ditonjol-tonjolkan. Itulah pacaran, saat remaja mulai menjadi pembohong besar. Rayuan gombal berkali-kali dilontarkan. Segudang janji menjadi hal yang teramat murah, “bulan madu ke awan biru, dalamnya lautan akan kuselami, luasnya samudera akan kuseberangi, belahlah dadaku, hidupku untukmu semuanya, dihatiku hanya ada kamu, cintaku tak akan lapuk, aku rela mati demi cintaku danlain-lain.”Adalah ungkapan-ungkapan yang sesungguhnya bohong.
(Alghifari,2006:16-17).
Alasan remaja berpacaran antara lain: untuk menambah kedewasaan berpikir, untuk menambah masalah-masalah dalam kehidupan yang berguna untuk pengembangan kedewasaan, untuk mencari jati diri yang sebenarnya, untuk membawa secercah kebahagiaan yang kadang tidak didapatkan dirumah dan oleh teman, untuk mempelajari tentang lawan jenis.(http://www.pacaranremaja.com.diakses tanggal 26 Maret 2011).

2. BENTUK-BENTUK PERILAKU PACARAN REMAJA SMA
Ada beberapa pola atau bentuk perilaku  pacaran yang dilakukan remaja SMA antara lain berciuman bibir, meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin  (petting). Ada beberapa pola pacaran dengan mulai dari urutan persentase tertinggi yaitu Ngobrol, Curhat, Pegangan tangan,  berangkulan, berpelukan, berciuman pipi, berciuman bibir, meraba-raba dada, meraba alat kelamin, menggesek kelamin,  melakukan seks oral dan hubungan seks.
Banyak beredar di berbagai media masa menyangkut kasus dari perilaku pacaran yang dilakukan remaja SMA yang berbuah tidak menyenangkan dikalangan masyarakat. Salah satunya data penelitian dari Rita Damayanti, Rita meneliti 8.941 pelajar  dari 119 SMA sederajat di Jakarta. Ada beberapa pola pacaran yang dilakukan remaja SMA di Jakarta antara lain berciuman bibir, meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin (petting) hingga berhubungan seks. Disini tergambar beberapa pola pacaran mulai dari urutan persentase tertinggi yaitu Ngobrol, Curhat 95,7%, Pegangan tangan 67,9%,  berangkulan 49%, berpelukan 38,0 %, berciuman pipi  40,4%, berciuman bibir 20,5%, meraba-raba dada 13,5%, meraba alat kelamin 7,2%, menggesek kelamin 4,5%, melakukan seks oral 3,3%, dan hubungan seks 3,2 %. (http://www.google.co.id diakses tanggal 13 Maret 2011).
Dan juga data dari BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) pada November 2010 lalu, sebanyak 51% remaja di kawasan Jakarta telah melakukan seks pranikah. Data tersebut tidak berbeda jauh dengan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Pada bulan Juni 2010 lalu, Komnas PA pernah merilis data bahwa 62,7% remaja di Indonesia sudah tidak perawan. (http://www.google.co.id diakses tanggal 13 Maret 2011).
Dari data penelitian di atas tergambar bentuk-bentuk perilaku pacaran yang dilakukan remaja SMA zaman sekarang. Tidak sedikit kemungkinan persentase tersebut melebihi persentase bentuk-bentuk perilaku pacaran di kota-kota besar  lainnya.

3. PENGARUH PERILAKU PACARAN TERHADAP MOTIVASI BELAJAR     
   REMAJA SMA  
Pengaruh Pacaran terhadap motivasi belajar siswa memang cukup berarti. Pacaran, siapa orang yang tak tahu dengan istilah satu ini. Zaman sekarang siswa SD dan murid-murid Taman Kanak-kanak pun sudah pintar memaknai istilah ini. Istilah ini dapat diartikan sebagai sebuah proses yang lebih dikenal dengan proses penjajakan antara lawan jenis. Penjajakan tersebut meliputi banyak aspek dari orang yang akan dijajaki, baik terkait faktor fisik maupun non fisik. Jika lawan jenis yang diajak pacaran tadi dirasa cocok dan memenuhi kriteria yang diinginkan, maka cita-cita selanjutnya adalah ingin hidup bersama bersama orang yang dipacari tadi. Itu adalah tujuan yang dianggap paling mulia dari proses pacaran. (http://www.google.co.id. diakses tanggal 23 Maret 2011).
Pacaran juga memiliki banyak aspek keburukan. Ada orang yang berpacaran hanya untuk memenuhi hasrat nafsu, biasanya ini terjadi di kalangan remaja termasuk para siswa. Secara fisik dan materi sangat-sangat belum siap untuk menikah dan membangun rumah tangga, namun karena terikut dengan trend berpacaran, akhirnya para remaja pun menjalani proses.
Ada sebagian orang yang tampak meningkat proses belajarnya saat menjalin hubungan pacaran dengan orang yang dikasihinya. Misalnya saja para siswa yang menjalin hubungan pacaran dengan teman sekelasnya. Ada orang-orang yang akan terpicu semangatnya oleh karena merasa gengsi dan malu pada pasangannya jika diketahui hasil belajarnya buruk. Akibatnya siswa ini akan terpicu semangat belajarnya untuk meningkatkan prestasi. Ada orang menyebutkan bahwa pacaran adalah aktivitas yang berisi tawa dan air mata. Artinya pacaran itu tak selamanya membuat orang yang menjalaninya akan gembira, tapi suatu masa ia pun akan sangat bersedih.Hal itu disebabkan karena pacaran adalah jalinan hubungan yang tidak sah dan diakui, hingga wajar saja jika salah seorang yang menjalaninya melakukan pengkhianatan. Dan terjadilah perasaan sedih dan derita. Pada kondisi ini tak jarang para siswa yang mengalami frustasi dan akhirnya malas belajar. Dampak buruk dari pacaran pun tak bisa dihindari, banyak orang yang malas belajar hanya karena pikirannya merasa terganggu dengan hubungan yang dijalaninya. (http://www.pacaranremaja.com. diakses tanggal 26 Maret 2011).
Bagaimanapun setiap orang tua menganggap bahwa pengaruh pacaran terhadap prestasi belajar anak-anak mereka akan memberi dampak buruk. Hal ini disebabkan karena orang yang berpacaran akan selalu memikirkan orang yang dicintainya. Tidak jarang para anak yang memilih untuk tidak melanjutkan kuliah karena lebih suka menikah dengan sang pacar. Yang lebih buruk lagi adalah pacaran untuk anak-anak usia dini, misalnya para pelajar SD, SMP dan juga SMA. Usia remaja adalah usia coba-coba. Tak berlebihan jika agama mengharamkan proses pacaran karena untuk melindungi pemeluknya. Banyak para remaja di usia sekolah terjebak pergaulan bebas yang dimulai dari proses pacaran tadi.
Jangankan memikirkan nasib studinya, kadang-kadang justru harga diri orang tua ikut terkorbankan akibat kelakun anak. Mula-mula hubungan mereka hanya sebatas pacaran, selanjutnya karena terlalu percaya pada si pacar, seseorang pun terlibat pada seks bebas. Tak sampai di situ, seks bebas akan mengarah lagi pada penggunaan obat-obat berbahaya, hal-hal pornografi bahkan minuman keras.  Akhirnya, harapan seorang orang tua memiliki anak yang sukses studi tinggallah harapan. Semua berangkat dari proses pacaran yang tidak tepat dijalani oleh sang anak.

4. SOLUSI TERHADAP PENGARUH  DARI PERILAKU PACARAN  REMAJA SMA
            Perilaku pacaran yang tidak sesuai dengan nilai dan norma di tengah masyarakat menghasilkan berbagai pengaruh baik pengaruh positif maupun negatif. Maka untuk melawan pengaruh negatif dari perilaku pacaran tersebut diperlukan suatu solusi dengan tujuan mencegah maupun mengatasinya. Solusi dalam bentuk preventif atau menceganya yakni melalui peranan orang tua di rumah dan peranan dari sekolah. (Willis,2003:21-25).                    Orang tua adalah media pertama bagi remaja untuk mendapatkan pengetahuan atau pendidikan seks. Sosialisasi tersebut sangat membantu remaja dalam keluarga sebelum remaja mendapatkan informasi tentang seksual melalui media massa dan saluran media online yang cenderung distorsif, maka semestinya pihak keluargalah yang pertama melakukan sosialisasi pendidikan seksual dengan cara-cara yang tepat. Selain peranan orang tua atau keluarga, sekolah pun turut membantu remaja dalam mendpatkan informasi tentang pendidikan seksual melalui kurikulum pendidikan kesehatan reproduksi tingkat SMA dalam mata pelajaran biologi dan agama sehingga  memungkinkan terjadi proses pendidikan seks secara sehat. Sehingga dengan adanya peranan keluarga dan sekolah akan tidak lagi bermunculan istilah hamil di luar nikah.
            Untuk menghindari agar jangan terjadi penyelewengan yang bisa merusak remaja SMA, diperlukan pendidikan seks (sex education) yang sistematis dan terarah serta materi yang sesuai dengan usia perkembangannya. Di negara kita belum banyak orang yang tertarik akan penyebarluasan pendidikan ini. Bahkan tenaga ahli yang bergerak dibidang inipun masih bisa dihitung dengan jari. Pemerintah juga belum berani menetapkan kurikulum pendidikan seks di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (1) Adanya anggapan kuat dari anggota masyarakat bahwa membicarakansoal seks adalah tabu/terlarang baik oleh pengaruh adat atau agama yang diterima secara kaku (2) Kekurangan tenaga ahli dan guru-guru yang berpengalaman untuk memberikan pendidikan seks terhadap anak-anak sekolah (3) Kurangnya keberanian dari pemerintah untuk menyusun kurikulum yang berhubungan dengan pendidikan seks (4) Kurangnya fasilitas buku-buku dan media lainnya tentang seks education daripada media massa cabul yang banyak beredar di masyarakat. Akibatnya, muncul seks bebas seperti pelacuaran dan sebagainya. (Willis,2008:45-46).
Agar pacaran tidak menimbulkan suatu problem yang tragis di ujungnya maka diperlukan sikap sehat dalam berpacaran diantaranya: Jangan beranggapan bahwa pacarmu hari ini adalah pacarmu selamanya, jangan biasakan pergi berdua tanpa orang lain, karena itu akan membahayakanmu, jangan mudah dirayu atau terayu oleh bisikan setan, hindari pulang malam atau pulang ,aturlah waktu untuk menelepon, bila berkunjung ke rumah hendaknya tidak pada saat rumah dalam keadaan kosong, jangan melupakan teman-temanmu yang lain terutama sahabatmu, bila ternyata kamu putus dengan pacarmu, anggaplah itu memang yang terbaik dan alihkan perhatianmu kepada hal yang positif.

C. PENUTUP

    KESIMPULAN

            Berdasarkan hal yang tertera di atas maka dapat disimpulkan bahwa pacaran sangat erat dengan kehidupan remaja. Terutama remaja SMA, jika mereka tidak memiliki pengetahuan seks yang sempurna maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti hamil di luar nikah. Selain itu pacaran juga bisa mempengaruhi motivasi belajar remaja SMA. Bagi sebagian remaja SMA mengganggap bahwa dengan pacaran mereka lebih termotivasi dalam belajar. Tidak sedikit remaja yang sukses dalam akademiknya karena ada yang mendukungnya dari belakang yakni pacar mereka.
            Remaja yakin dengan adanya pacar mereka akan bisa melakukan kerjasama dalam hal menyelesaikan tugas-tugas dalam belajarnya. Mereka bisa berbagi pengetahuan satu dengan yang lain. Jelas hal ini menjadi awal bagi remaja SMA untuk dapat meningkatkan prestasi akademiknya di sekolah. Berbanding terbalik bagi remaja SMA yang menjadikan pacaran sebagai sarana dalam memanfaatkan masa puberitasnya, mereka akan melakukan hal-hal seperti orang dewasa yang sudah menikah seperti berciuman, pegang-pegangan, peluk-pelukan bahkan sampai melakukan hubungan intim. Hal ini akan berakibat terhadap pendidikannya di sekolah, bagi remaja putri yang hamil lambat laun mereka akan menuntut untuk tidak bersekolah dengan alasan minder dengan teman-teman mereka di sekolah.
            Oleh karena itu, pemahaman akan pengetahuan baik pengetahuan agama maupun pengetahuan tentang seks dan juga peranan orang terdekat sangat membantu antisipasi dari pengaruh-pengaruh negatif yang ditimbulkan dari hubungan pacaran remaja SMA.

D. SUMBER RUJUKAN
Alghifari,Abu.2006.Pacaran  yang Islami Adakah.Bandung: Mujahid.
Nelson,R,Jones.1996.Cara Membina Hubungan yang Baik dengan Orang        
      Lain.Jakarta:Bumi Aksara.
Willis,Sofyan.2008.Remaja dan Masalahnya.Bandung:Alfabeta.
http://pacaranremaja.com.diakses tanggal  26 Maret  2011.
http://google.co.id.diakses tanggal 23 Maret 2011.
http://google.co.id.diakses tanggal 13 Maret 2011.
http://google.co.id.diakses tanggal 12 Maret 2011.
http://priel12.wordpress.com.diakses tanggal  7 Maret  2011.